Ambar Margi; g. Kawin Muda

Hari itu akhirnya datang juga. Hari dimana akhirnya aku menyerah karena sudah satu tahun berlalu sejak bujukanku pada simbah. Dua laki-laki yang disodorkan pertama padaku, kutolak mentah-mentah. Bangkotan! Sama sekali tidak menarik. Untung mereka tidak langsung datang bersama keluarga dan membawa mahar yang menyilaukan perut keluargaku, jadi aku masih bisa...

Read More →

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Andini, Cinta yang Menyala

Novel pertama saya, terbit tahun 2007. Sepenuhnya terinspirasi oleh sang mantan, hanya gegara bebersih rumah dan menemukan surat buat mantan. Tokoh utamanya Andini, happily married tapi masih belum tuntas perasaannya sama si mantan. Karena ada kesempatan buat ketemu, maka mereka bertemu dan dua kutub rasa yang masih nyambung itu kembali...

Read More →