Sarasvati (1)

Teman-teman, di beberapa posting yang akan datang, saya akan sering bercerita tentang Sarasvati. Selamat membaca..

Siapakah Sarasvati sebenarnya?

Sarasvati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan, yang sering kali digambarkan duduk di atas sebuah lotus, atau berdiri di atas seekor angsa putih, dengan tangan kanan memegang semacam rantai bebatuan untuk berdoa, sementara tangan kiri memegang batu. Oh iya, Sarasvati memiliki lebih dari dua tangan. Ada yang menggambarkan dengan 8 tangan, ada yang menggambarkan denan 4 tangan. Yang jelas, dua diantara tangan-tangan itu memainkan alat musik yang disebut sebagai vina. Vina adalah semacam gitar tapi dengan leher lebih panjang, sementara badannya bundar kecil. Alat ini juga menggunakan senar untuk dipetik.

Makna simbol-simbol itu antara lain:

Lotus atau teratai yang adalah penggambaran dari kebenaran yang sesungguhnya

Rantai untuk berdoa mewakili kedalaman spiritual

  • Buku atau disebut pustaka adalah mewakili ilmu pengetahuan pada umumnya
  • Sementara vina mewakili seni atau keindahan.

Jadi secara keseluruhan, Sarasvati ini mewakili ilmu pengetahuan, kebijakan, keindahan seni yang selama ini diagung-agungkan oleh manusia.

Itu adalah Dewi Sarasvati yang sesungguhnya. Ada Sarasvati lain lagi yang saya juga ingin perkenalkan pada teman-teman.
Sarasvati yang saya maksud adalah Lembaga Pendampingan dan Bantuan Hukum untuk Perempuan bernama Sarasvati. Kantornya ada di Yogyakarta, tetapi pada prakteknya bisa juga membantu teman-teman di Semarang, Solo, dan beberapa kota lain.

LPHBP Sarasvati berangkat dari kepedulian terhadap perempuan yang sering kali berada dalam posisi marginal, terstigma, dan tidak mendapatkan keadilan di banyak tempat – termasuk hukum, karena gender. Kegiatan yang kami lakukan selama ini adalah,

  • pendampingan hukum untuk perempuan di dalam penjara, bekerja sama dengan Penjara Khusus Perempuan Semarang, untuk memberikan konseling pada penghuninya,
  • pendampingan psiko sosial dan bantuan hukum untuk perempuan di luar penjara. Ada banyak kasus perempuan yang sudah kami bantu di beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta dan,
  • rumah transisi. Kami menyebutnya WRP atau white rose palace atau rumah mawar putih. Kenapa rumah mawar putih, karena rumah yang kami tempati ini dulunya adalah sebuah bengkel dan rumah makan bernama Mawar Putih. Kami dipinjami rumah tersebut untuk membantu perempuan-perempuan yang memang membutuhkan bantuan.

Siapa saja mereka dan siapa saja yang ada di dalam Sarasvati, akan saya tulis selanjutnya..

Terima kasih sudah membaca.
Salam

← blackberry >< kaya
selamat datang tahun naga →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih Residensi Penulis Indonesia 2019 ini lahir tahun 1976, belakar komunikasi di Universitas Diponegiri dan STIK Semarang, lalu belajar kriminologi khususnya perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

  1. Sarasvati… nama seorang artis musik, kalo gak salah di jalur indie. Ah entahlah, saya sendiri belom pernah mendengar musiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →