sisi lain yordania

Kalau sebelumnya saya menulis tentang keindahan Yordania dengan Laut Mati, Petra dan kotanya yang nyaman, kali ini mari kita lihat sisi lain dari Yordania.

Selama 12 hari berada di negara yang konon kabarnya paling penuh kedamaian di antara negara-negara Arab itu, ada sudut-sudut remang yang jauh dari rasa damai. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berada di sana. Sudut-sudut yang saya maksud adalah sudut-sudut hati perempuan yang menjadi Pekerja Rumah Tangga di sana. Pekerja Migran lebih tepatnya, atau kita mengenalnya sebagai TKI.

Yordania, walapun memang dikenal sebagai negara yang tenang dan damai, dengan Raja Abdullah yang menyuarakan tentang perdamaian, dengan Ratu Rania yang cantik dan pandai, tetapi negara tersebut bukanlah negara kaya. Sebagai negara yang terletak di jajaran negara Arab, Yordan tidak punya tambang minyak, kecuali secuil yang berbatasan dengan Arab Saudi, yang dikelola oleh perusahaan asing. Tanah di Yordan tidak juga subur untuk bisa menghasilkan pangan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Bahkan pisangpun hanya ada satu macam dan sisanya mereka harus impor ~ bahagianya saya membayangkan negara saya yang berlimpah pisang berbagai macam jenis. Lalu pariwisata? Kalau tidak terjepit diantara Arab Saudi dan Israel-Palestina yang merasa memiliki Yerusalem, mungkin tidak terlalu banyak orang yang akan berkunjung ke Yordan. Well, mereka memang punya Petra, Laut Mati dan beberapa situs keagamaan lainnya, tetapi dibandingkan dengan Indonesia, kalah jauuuuhhhh…

Aduh maaf, saya tidak bermaksud membandingkan, sungguh.

Lalu bagaimana mungkin di negara yang tidak terlalu kaya penduduknya itu, bisa mempekerjakan pekerja rumah tangga migran dari berbagai negara? Termasuk Indonesia? Tentu jawabannya tidak jauh-jauh dari mental dagang yang dimiliki oleh beberapa pihak. Saya tidak perlu sebutkan siapa saja pihak-pihak tersebut, tapi mentalnya sama: menganggap manusia sebagai barang dagangan. Dan parahnya, negara hampir absen dalam memberikan perlindungan pada warga negaranya.

Itu sisi lain yang saya temui selama di Yordan. Perempuan-perempuan pekerja rumah tangga dari banyak negara, termasuk Indonesia banyak yang kabur dari majikan mereka karena alasan-alasan: tidak dibayar, mengalami kekerasan baik fisik, mental, verbal bahkan seksual, mendapatkan tugas kerja yang tidak sesuai dengan kontrak, dimana mereka bahkan harus memetik buah zaitun, membetulkan genting dan mengecat rumah, bekerja di luar batas waktu dan berbagai macam perlakuan tidak manusiawi lainnya.

Di Yordan selama beberapa hari saya menghabiskan waktu untuk berbicara dengan teman-teman yang memutuskan lari dari pengguna jasa mereka dan tidak mencari bantuan ke KBRI. Mereka memilih mencoba menyelamatkan diri sendiri dengan cara berbeda. Alasan tidak ke KBRI sebagian besar karena kalau berada di sana, maka mereka harus menunggu proses pemulangan atau mediasi dengan pengguna atau agen untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Selama proses menunggu itu, tidak ada uang yang masuk, padahal mulut-mulut keluarga mereka di tanah air tidak bisa tidak diisi selama proses itu berlangsung.

Maka pilihan bekerja sebagai pekerja rumah tangga part time atau menjadi pekerja lepas di restoran atau hotel, menjadi pekerja seksual, atau mengerjakan beberapa pekerjaan itu secara bergantian adalah pilihan terakhir mereka. Jangan pikir bahwa mereka mendapatkan penghasilan yang layak dari pekerjaan-pekerjaan tersebut. Sekali lagi, teman-teman ini sering kali kembali jatuh ke tangan traffiker. Lalu kembali, negara absen dalam melindungi warganya. Beberapa teman yang saya temui di down town Yordania mengaku sudah bertahun-tahun bekerja dengan cara seperti itu, sambil mengumpulkan uang untuk membayar denda agar suatu saat mereka bisa keluar dari negara itu. Tapi ironisnya, ada yang sudah sampai 10 tahun berada di sana, dan semakin hari semakin mengalami kesulitan untuk keluar.

Lalu apa kata negara menanggapi hal ini?

“Salah mereka memilih hidup di jalan,

“Kenapa tidak minta bantuan?

“Memang mereka gatelan, maunya jadi perempuan nakal,”

Dan masih banyak versi lain dari pernyataan serupa. Maaf kalau saya menampilkan negara sebagai sosok antagonis di sini, mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi setidaknya kacamata saya melihatnya demikian.

Lalu saya jadi ingin bertanya, apa jawaban negara kalau saya gantian bertanya:

“Dimana negara ketika saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di negeri saya sendiri?

“Dimana negara ketika anak saya kurang gizi?

“Dimana negara ketika saya tidak bisa membaca dan menulis, sementara saya harus menyekolahkan anak, karena saya tidak mau nasib mereka berakhir seperti ibunya?

“Dimana negara, ketika paspor saya bercap negeri merah putih, tapi hanya darah merah saya saja yang terus tertumpah segar di negeri orang?”

Saya tidak tahu apa jawaban negara atas pertanyaan-pertanyaan yang saya temukan ketika membalik keindahan Yordania dan menemukan sisi lainnya.

Yang saya tahu tentang sebuah negara adalah: Negara yang baik, adalah negara yang bisa melindungi rakyatnya. Tolong koreksi jika saya keliru.

← Jordan Trip
perjalanan = pelajaran →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

  1. Negara tentu sudah berbuat, namun karena penduduk kita terlalu banyak maka belum sepenuhnya bisa tertangani. Selain itu banyak rakyat yang korupsi,maling,dll.

    Orang yang melacur itu karena pemalas dan ingin hidup mentereng dengan cara yang gampang.
    Lihat emak2 tua yang mau mengangkut batu atau pasir…mereka gigih bekerja karena mempunyai tekad yang kuat.

    Salam hangat dari Surabaya

  2. Pakdhe, yang korupsi bukan rakyat (yang kecil) tapi rakyat (yang memimpin)

    Terus teman-teman yang terpaksa menjadi pekerja seks bukan karena mau mentereng, mereka harus memberi makan orang di rumahnya. Hidup mereka sama sekali tidak mentereng.

    Esti, yang membuat negara kita tercoreng moreng itu pemerintahnya yang nggak tegas dan nggak bisa melindungi rakyatnya.

  3. memang rumit ya mbak kalo dah menyangkut nasib para pekerja imigran kita diluar sana. dari awal mereka sudah diiming-imingi gaji yang tinggi tapi kenyataannya tidak demikian.

    Kalau misal negara tidak mampu menolong dan memecahkan semua kasus yang ada, apakah memungkinkan kalau lembaga non profit seperti LSM bisa membantu mereka mb?

  4. Yang paling memiliki kuasa membantu adalah negara mbak. LSM tugasnya adalah supporting mereka dari sisi lain. Idealnya sih gitu.
    Tapi kalau negaranya absen, bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini: Gambar dari darlingquote.com Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup...

Read More →

The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like,...

Read More →

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →