Ambar Margi; d. Tak Lelo Ledung

Aku tidak ingat bagaimana aku ditimang ketika masih dalam buaian. Aku juga sudah lupa bagaimana bunyi detak jantung ibu ketika mulutku menyecap air susu di dadanya. Ingatan pertamaku adalah ketika ibu mendorong dengan keras aku yang membuat air susunya berwarna kemerahan. Air susu itu bercampur darah karena gigitanku di putingnya. Berikutnya aku tidak pernah lagi mendapatkan air susu dari sana. Aku disapih. Umurku dua tahun.
Pecahnya tangisku dan wajah penuh kesakitan ibu adalah rekaman pertama yang menoreh dinding memoriku. Setelah itu aku mengingat lebih banyak hal.
Senandung tak lelo lelo lelo ledung tidak pernah kudengar dari mulut ibuku. Selalu bapak yang menyanyikannya sambil mengusap alisku pelan-pelan agar aku tertidur. Aku merasa bahwa ibu membenciku. Tapi itu juga tidak benar. Kalau dia membenciku, tentu mudah saja baginya membunuhku ketika aku masih orok. Dengan alasan tertimpa susunya ketika menyusui, tersedak, jatuh, atau apapun. Tapi dia tidak melakukannya. Dia juga menyusuiku sampai dua tahun. Dia baru hamil adikku Yanto beberapa bulan setelah aku disapih. Aku membenci Yanto waktu dia baru lahir. Aku pernah memencet hidungnya waktu tidak ada orang menjaganya. Tapi suaranya keras sekali ketika menangis. Sejak itu aku tidak pernah dibiarkan berdua saja dengan adikku. Aku membenci Yanto karena dia diizinkan menyusu ibu sedangkan aku langsung ditepis kalau mau memegang sedikit saja susu ibuku.
Sekarang, setelah aku bisa berpikir lebih jernih, aku tahu bahwa ibu tidak pernah membenciku. Ibu adalah perempuan yang tidak mengerti bagaimana mengungkapkan kasih sayang. Dia sejak kecil hidup sendirian. Kedua orang tuanya meninggal dunia dan dia dirawat seorang nenek yang tidak bisa mendengar dan hanya berbicara sepatah-sepatah. Mungkin dunia ibu yang sebelumnya juga sunyi. Jadi kehadiran anak-anak baginya adalah gangguan dari kenyamanan dalam kesunyian.
Tapi aku merindukan ibuku. Kadang dalam tidur aku bermimpi menjadi bayi lagi, dimana ibu menggendongku, mengayun sampai aku hampir tertidur, tapi kemudian di tengah kenyenyakanku, tiba-tiba dia mengayun buaian lebih cepat sehingga membuatku terjatuh. Beberapa kali aku mengompol karena mimpi semacam ini. Dan itu membuatku semakin merindukan ibu.
Ibu memang tidak pernah mendapat pelajaran menunjukkan kasih sayang. Aku pernah melihatnya memukul bapak dengan keras karena bapak lupa membalik tempe yang sedang digoreng, padahal ibu sudah menitipkannya. Seandainya yang sedang dipegang adalah pisau, mungkin bapakku sudah teriris beberapa bagian. Untungnya hanya gumpalan busa sisa mencuci baju yang belum bersih dari tangan ibu saja yang dibawa. Bapak tidak membalas. Dia membalik tempe yang sudah gosong lalu segera mematikan apinya.
Kalau rinduku datang tidak tertahan lagi, aku menarik perhatian ibuku dengan melakukan hal-hal yang waktu aku kecil disebutnya sebagai ‘nakal.’
Ketika SD aku sengaja mencuri jambu di rumah pak Raden. Kami menyebutnya demikian, karena dia benar-benar mirip dengan tokoh pak Raden di film boneka si Unyil. Dia memelihara perkutut, pohon jambu, encok yang membuatnya memegang pinggang kemana-mana, dan kumis tegas melintang asimetris. Pohon jambu milik pak Raden tidak selebat pohon di rumahku kalau sedang berbuah. Tapi memang bukan mendapatkan jambu tujuanku. Mencari perhatian ibu yang sedang kulakukan, hanya itu saja.
Maka beraksilah aku sepulang sekolah. Masih dengan seragam putih merah, aku menyuruh temanku, Lestari untuk menunggu di bawah dan mengembangkan rok merahnya tepat di bawahku. Begitu aku ancang-ancang menjatuhkan jambu berbiji merah dari atas, dia harus menebak kemana gravitasi bumi akan menarik jambu itu. Satu dua jambu berhasil ditangkapnya memakai rok terkembang dengan sukses, tapi ketika jambu ketiga siap kulepaskan, datanglah pak Raden mengganggu kekusyukan kami.
Kulihat Lestari sudah tidak ada lagi di bawah. Dia pergi meninggalkan barang bukti. Dua buah jambu mulus tak lecet sedikitpun, pertanda keahlian pelempar dan penangkapnya, tergeletak di tanah. Sementara aku masih nyengir di atas pohon persis seperti monyet.
Dengan isyarat jarinya pak Raden menyuruhku turun. Dia tidak menjewerku. Dia mengambil dua buah jambu yang tergeletak di tanah, lalu menyuruhku memakai sepatu.
“Jam berapa ibumu pulang dari sawah?” tanyanya dingin.
“Sore.” Jawabku singkat.
“Sawahnya sebelah mana?” tanyanya tidak menyerah.
Aku menunjukkan sebuah arah. Tanpa berkata apapun, pak Raden membawaku ke sana. Dia tidak menjewer telingaku seperti yang dilakukan ibu. Dia dengan jumawa menggenggam dua buah jambu di tangan kiri dan kanannya, seperti seorang paskibra membawa bendera yang keramat, sementara aku berjalan di depan menjadi penunjuk jalan.
Sesampainya di sawah, ibu yang sedang membungkuk mencabuti rumput-rumput liar di antara padi yang daunnya masih menghijau terpaksa mendongak, mengangkat caping dan memicingkan mata menghalau matahari.
“Kenapa pak?” Tanyanya pada pak Raden.
“Ini si Ambar tolong dididik ya nduk. Bocah wedok kok penekan nyolong jambunya orang siang-siang. Apa dia nggak pernah kamu kasih makan jambu di rumahmu po?”
Pertanyaan pak Raden tidak dijawab oleh ibu. Dia langsung melayangkan pukulan demi pukulan ke tanganku, setelah sebelumnya meminta maaf pada pak Raden dan berjanji bahwa aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku. Ketika ibu memukul, mencubit atau menjewerku itulah, aku merasa mendengar kidung yang biasanya dinyanyikan bapak.
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
Pak Raden meninggalkan jambunya di pematang. Setelah melihat pak Raden berlalu, ibu menyuruhku menghabiskan jambu itu di depan matanya dan di depan enam pasang mata lain yang mengalihkan perhatian mereka dari tanah ke anak bernama Ambar, Ambar Margi. Ambar berarti kebebasan, Margi berarti jalan. Dan aku merasa terbebaskan setiap menggigit jambu dengan daging kemerahan itu, seraya memerhatikan ibu yang memandangiku penuh amarah.
Aku menjadi tontonan di tengah sawah, dengan baju bersimbah lumpur. Aku menikmatinya. Dengan begini aku tahu bahwa ibu memperhatikanku. Ibu menyayangiku dengan cara yang berbeda dibanding ibu-ibu yang lain. Sementara aku, terus menerus memastikan ibu menyayangiku dengan satu-satunya cara yang kutahu akan menarik perhatiannya. Menjadi anak nakal.

← Ambar Margi; c. Nakal
Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →