Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat padi yang baik, aku lambat sehingga terlalu banyak padi yang terkena air, padahal seharusnya bisa kuselamatkan, dan masih banyak lagi. Jadi jangan salahkan aku kalau memutuskan untuk lebih sedikit membantu di rumah. Kuhabiskan waktuku untuk berusaha menghindari rumah ketika ibuku ada, dan merasa sangat bahagia di dalam rumah ketika dia sedang pergi bekerja. Kami seperti kucing dan tikus. Entah siapa yang menjadi kucing dan tikusnya. Karena kadang aku merasa bahwa ibu juga menghindariku.
Kami terus bermain kucing dan tikus sampai bertahun-tahun berikutnya, sampai kuingat orang mulai bertanya tentang kapan aku akan kawin. Simbah adalah orang pertama yang meluncurkan wacana ini. Waktu dia lihat aku sudah mulai risih memakai kaos dalam saja berkeliaran ke luar rumah, dia mulai menanyakan,
“Susumu udah keluar Mbar?”
Aku menghindarinya dengan pura-pura tidak mendengar dan berlari pergi. Tentu saja yang dimaksud simbah bukan air susuku, tetapi payudaraku. Sepasang gunung itu sudah mulai tumbuhkah? Aku enggan menjawabnya, karena merasakan gatal dan sedikit ngilu di dadaku saja rasanya tidak nyaman sekali, apalagi harus menjawab pertanyaan tentang pertumbuhannya pada simbahku. Aku enggan sekali.
Di sekolah teman-temanku telah mulai membanding-bandingkan ukuran payudara kami. Ada beberapa yang berbadan besar beruntung payudaranya tumbuh lebih dahulu dari yang lain. Mereka segera menjadi pembicaraan teman-teman laki-laki kami. Mereka mulai mendapat julukan-julukan yang mengindikasikan kebesaran dada dibanding yang lain. Menjadi saksi pelecehan setiap hari, aku senang masih berada di tahap ngilu-ngilu dan gatal di ujungnya saja. Lalu sekarang simbahku sendiri mau mencoba menjadi orang pertama yang menimbulkan rasa tidak nyaman sebelum teman-teman laki-lakiku. Huh! Tidak akan kuijinkan.
Pembicaraan tentang payudara segera mengalir dari simbahku ke anak menantunya. Ibuku. Ibu tidak pernah menanyakan apapun tentang rasa gatal atau ngilu di dadaku. Dia tiba-tiba datang dari pasar dan menyodorkan sebuah plastik yang di dalamnya terdapat BH berbungkus Koran. Aku tidak pernah memakainya sampai berbulan-bulan kemudian. Aku malu, karena teman-temanku tidak memakai BH. Mereka memakai miniset, walaupun daging yang tumbuh di dadanya sudah lebih besar dari milikku. Aku memakainya dengan terpaksa, karena suatu hari, setelah pelajaran olah raga yang mengharuskan kami berlari, aku merasa dadaku begitu sakit. Gumpalan daging yang menjulang ke depannya seperti akan meloncat dari sana. Aku memutuskan untuk memungut BH pemberian ibuku. Aku memakainya dengan peniti di sana-sini. Talinya terlalu panjang, sehingga membutuhkan dua peniti di bagian atas, sementara lingkarnya juga terlalu besar. Aku tidak mengaitkan kedua pengaitnya tetapi mengikat keduanya agar tidak terlepas.
Bulikku yang menjadi penyelamat. Dia membelikanku dua buah miniset yang menjadi jimat untukku. Bukan main girangnya, karena aku bisa memensiun peniti-peniti khusus untuk BH-ku.
Belum genap setahun sejak aku memakai seragam putih – biru, episode baru dalam hidup mulai kumasuki. Aku merasa luar biasa risih pada laki-laki. Mereka teman-teman yang dulu kuajak berlari menyusuri pematang sawah dan berebut perosotan di irigasi, tidak lagi menyenangkan menjadi teman bermain. Aku sering kali merasa terancam, karena memiliki proporsi tubuh yang berbeda dengan mereka. Aku semakin risih begitu mendapat menstruasi.
Tubuhku melemah saat darah itu menetes tak terkendali. Bermain perosotan di aliran air jadi tidak memungkinkan lagi, karena aku tidak mau teman-temanku melihat bekas jiplak merah dari rokku.
Bersamaan dengan datangnya darah itu, simbah mulai semakin gencar menanyakan siapa pacarku, apakah aku punya teman dekat laki-laki, awas hati-hati kalau sama laki-laki, dan banyak lagi awas-awas yang lain.
“Ojo nganti diambung, mengko kowe meteng!” (jangan sampai dicium nanti kamu hamil)
Entah mengapa, tidak seperti teman-temanku yang lain, yang mulai cekikikan bila bersilang jalan dengan teman lelaki kami, aku lebih suka menghindar. Bukannya aku tidak suka pada mereka, tapi aku hanya merasa bahwa saat ini belum saatnya. Aku tidak bermimpi menikah muda. Meskipun aku juga tidak bermimpi sekolah tinggi sampai ke kota. Tapi setidaknya aku ingin punya usaha dulu, sebelum memutuskan untuk menikah. Aku tahu bahwa begitu disandingkan dengan laki-laki di atas pelaminan, maka aku akan menjadi penunggu rumah selamanya. Aku akan menjadi seperti simbah. Menduduki tahtanya sampai tua dan menunggu ajal. Aku tidak mau seperti itu. Aku masih ingin melihat Jakarta dulu. Aku juga ingin ke Jembatan Merah di Surabaya, yang ketika ujian kesenian SD, lagunya kunyanyikan. Aku mau ke Bali, karena waktu perpisahan SD kami batal ke sana, karena tidak semua orang tua sanggup membayar iurannya, termasuk bapak dan ibuku. Aku tidak mau berada di kota kecil ini sampai akhir hayatku. Aku mau setidaknya pernah berada di luar Purwokerto, Cilacap dan Temanggung (tiga kota yang pernah kukunjungi).
Tapi sepertinya simbah dan ibuku bersepakat dalam satu hal ini. Mereka berdua segera mencarikan laki-laki desa yang sudah matang menurut mereka, dan siap menjadi pejantan untuk menikahiku. Aku menolak dengan alasan bahwa aku akan memilih jodohku sendiri. Bapakku diam saja. Dia tidak bersuara ketika suatu hari setelah lulus dari SMP ibu dan simbah memperkenalkanku pada pemuda yang umurnya 8 tahun lebih tua dariku. Ini adalah kali pertama mereka berdua bersepakat akan satu hal. Bapak pergi menghindar, waktu aku menatapnya meminta perlindungan.
Untunglah laki-laki itu mengurungkan niatnya mengawiniku. Mungkin dia takut melihat sorot mata dan kediamanku. Kami baru mengetahui urungnya niatan menjadi suamiku dua bulan kemudian. Waktu itu simbah mendengarnya dari tetangga kami. Bukan main leganya hatiku saat itu.
Pelan-pelan kudekati simbah untuk membujuknya dengan tipu daya bocahku, kalau cucu perempuannya ini tidak akan menjadi perawan tua, kalau aku akan segera menikah tahun depan, setelah menemukan laki-laki yang mencintaiku. Tapi rupanya simbah menangkap bujukanku hanya di bagian waktunya saja. Dia malah seperti memberiku tenggat waktu, bahwa kalau sampai tahun depan aku belum menikah juga, maka dia akan kembali memasarkanku di bursa jodoh desa.
Gawat, tahun depan umurku baru 16, artinya aku bahkan mungkin tidak akan pernah merayakan ulang thaun ke-17 sendirian. Kepalaku pusing membayangkan itu semua, dan semakin pusing membayangkan siapa laki-laki yang akan menjadi suamiku, karena sedikitpun aku tidak berniat mencari sendiri pasangan. Aku lebih rela menjadi perawan tua, dibandingkan dengan mengorbankan kebebasanku seumur hidup hanya demi kenyamanan dan anggapan laku di mata orang.
Aku tidak pernah mencicipi seragam putih abu-abu. Hidupku berhenti di putih biru. Ibu bilang tidak punya uang. Bapak bilang, dia menabungnya untuk tiga tahun lagi menyekolahkan Yanto ke STM.
“Anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga. Kalau Kamu kan nanti ada suaminya. Kamu cari suami yang lulusan SMA atau STM ya.” Begitu kata bapak dengan halus.
Teman-teman SMP-ku yang perempuan sedikit sekali yang masuk SMA atau SMEA. Mungkin kurang dari 10 orang. Itupun beberapa tidak sampai lulus. Mereka keburu kawin atau hamil duluan.

← Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri
Ambar Margi; g. Kawin Muda →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →