Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali

Seri Lucky Bastard ini adalah cerita tentang anak manusia yang super beruntung. Nggak cantik-cantik banget, nggak pinter-pinter banget, nggak gigih-gigih amat, kadang baper, kadang semau udelnya. Tapi seluruh dunia suka gitu aja ngasih dia kado yang dia pengenin. Nggak semuanya juga sih. Karena kalau semua yang dia minta dikasih, sekarang dia sudah jadi ibu negara di negeri ini, menghentikan perang, membuat semua anak bersekolah dan bahagia, menemukan antivirus untuk membunuh penyakit-penyakit yang mematikan, membuat aturan super keras untuk pembatasan kelahiran, membuat para lansia hidup berbahagia tanpa perlu mikirin anak dan cucu, dan dia mungkin sudah dua atau tiga kali ke luar angkasa. Jadi dia nggak seberuntung itu, semua mimpinya jadi nyata. Tapi dia super PD dan bilang kalau dia sangat beruntung. Udah biarin aja lah ya..

Edisi pertama ini akan dimulainya dari ketika dia pertama kali menjejakkan kaki di luar kampung halamannya.

Bali
Umurnya sudah 30 tahun waktu dia sadar kalau di dalam koloninya, dia adalah satu-satunya yang belum pernah ke Bali. Man… Bali! Bahkan orang dari benua-benua lain yang ribuan kilo jaraknya dari Bali udah pada ke sana. Dan dia belum. Beberapa temannya bahkan ke Bali untuk piknik SD atau piknik kantor orangtuanya. Dan dia memandang Bali seperti dunia yang tidak terengkuh. Maka si Lucky Bastard yang belum menyadari kutukan keberuntungannya ini pun menganggap langit sudah runtuh di atas kepalanya. Tapi jauh di lubuh hatinya dia berdoa bahwa suatu saat dia akan sampai di Bali dan berdiri di pantai Kuta lalu berteriak, “Saya akan berkeliling dunia.”
Lalu tibalah pesan dari Yahoo Messenger itu. Yang nggak tahu yahoo messenger itu apa, tanya yahoo, jangan google!

“Dek, aku mau piknik kantor. Mau ikut nggak?” Sepupunya yang dia pikir sangat bully karena melarangnya bernyanyi waktu masih SMA, begitu saja menawari.
Tetapi si Lucky ini nggak berani mengiyakan karena dia tahu tiket ke Bali mahal. Belum sempat disahutinya, sang sepupu sudah menambahkan,
“Tiket sama hotel tak bayari, tapi kamarnya sharing sama si Anu ya. Anggap aja ini hadiah ulang tahunmu yang ke-32.”
Dia tidak menunggu dua kali karena takut sepupunya yang lebih muda tapi sudah jadi pengusaha kaya bersama sang istri itu berubah pikiran.
Maka itulah perjalanan pertamanya keliling dunia 10 tahun yang lalu. Jangan diketawain ya, kalau si Lucky ini menyebut Bali sebagai perjalanan keliling dunia. Karena saat itu cita-citanya sesederhana memperluas makna dunia, menjadi selain di Lampung, Salatiga, Semarang dan Yogyakarta.
Maka bulan Juli tahun 2008, begitu menginjakkan kaki di pulau dewata, dia kembali berani bermimpi berkeliling dunia. Sebelumnya mimpinya padam karena dia merasa nggak punya uang, kalau mesti ngumpulin dari gaji nggak bakal kesampaian dan berbagai alasan khas si kurang percaya diri ini.
Lalu dia ingat, pada suatu hari salah seorang love-hate-nya bilang, kalau jarak antara mimpi sama kenyataan itu cuma lima tahun. Maka dia mulai menghitung waktu. Di pantai 66 Bali ketika itu, ditulisnya beberapa negara yang dia ingin kunjungi. Asal aja dia nulis. Tapi si Lucky ini bukan cuma nulis, dia juga ngomong. Setiap ketemu orang baru dia selalu menceritakan mimpinya. Mungkin di situlah kuncinya.
Dia kemudian mendapatkan informasi tentang konferensi HIV di Bali, juga Festival Penulis dan Pembaca di sana. Lalu satu persatu perjalanan ke Bali didapatkannya secara cuma-cuma. Ke Ubud Festival dia dapat dari teman baiknya, tiket PP. Nginep ditumpangin sama volunteer yang sahabatnya, jalan-jalan selama di Bali dia dapat dari sahabat juga, makan dia bisa aja hidup dari entah apapun.
Bali cuma-cuma berikutnya adalah tahun 2009. Dia dapat beasiswa ICAAP untuk menjadi wartawan Konferensi HIV di Bali. Perjalanan, hotel, uang saku, semua dia dapat. Dapat banyak berita, bisa mengumpulkan liputan dan tulisan, dapat link pertemanan, diwawancarai sama wartawan Jurnal Perempuan dan dapat informasi penting kalau tahun depannya konferensi serupa yang tingkatan internasional akan digelar di Vienna. Maka di hari terakhir, di pantai Serangan, dituliskannya VIENNA besar-besar di pasir dan dia mengirimkan permintaan itu pada semesta. Apakah dia mendapatkannya? Jawabannya: IYA. Karena dia adalah Lucky Bastard.
Cerita lengkap tentang Vienna dia akan tuliskan di episode berikutnya.

Tulisan ini dia buat karena dia sedang krisis identitas. Tanggal 20 dan 21 April kemarin namanya tidak tertulis dalam daftar orang beruntung yang mendapatkan beasiswa residensi dan beasiswa cipta media kreasi. Hatinya tidak hancur. Karena dia merasa masih banyak hal yang harus dikerjakannya sebelum mendapatkan dua hal itu. Residensi baru dimimpikannya tahun 2016. Cipta Media baru dia tahu beberapa bulan lalu. Jadi kalau kembali ke rumus jarak antara mimpi dan perwujudannya adalah lima tahun, maka dia masih punya waktu.

Foto-foto ICAAP di Bali bisa dicek di sini

← Arini, Kamu Harus Belajar untuk Lebih Melindungi Diri
Ambar Margi; n. Ujian Pertama →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

  1. Minorrrrr kerennn! Bali adalah koentji, hahaha.

    Mimpi kalo terus dan terus konsisten dirapalkan bisa jadi semacam mantranya Harpot yo min, haha.

    Mainkan terus min!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini: Gambar dari darlingquote.com Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup...

Read More →

The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like,...

Read More →

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →