Lado Regi Tera, The Smiling Rato

Membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk saya berani menghadap kepala suku ini. Bayangan saya tentang kepala suku adalah Geronimo dari Apache. Menyebut namanya saja saya bergetar, terbayang bagaimana jika dia seperti Geronimo yang mampu menunda fajar, mengatasi lebih dari 50 peluru yang pernah bersarang di tubuhnya dan tidak juga mati. Kepala suku pastilah orang yang menyeramkan. Itu yang saya bayangkan pertama kali tentang Rato Tarung.

Saya terpaksa mengumpulkan nyali dan menghadapinya sendiri di satu siang setelah tidak ada pilihan lagi. Tentu saja saya memang harus menemuinya karena dia adalah salah satu narasumber kunci kalau saya mau mendapatkan informasi tentang Tarung, Marapu dan Wulla Poddu. Kurang dari satu jam kami berbicara di pertemuan awal karena diskusi kami terhenti oleh rombongan berburu babi hutan yang datang. Tugas memanggil. Saya menepi.

Hari itu cukuplah buat saya untuk mengatakan bahwa saya telah membuang-buang waktu berharga selama dua minggu karena bayangan menyeramkan yang saya ciptakan sendiri. Rato Rumata, gelar yang dipegang oleh laki-laki yang bernama lahir Lado Regi Tera ini jauh dari kata menakutkan. Di pertemuan awal dia memang belum bercanda, tetapi di pertemuan berikutnya kebiasaan menggoda orang lain menyiratkan kalau dia tidak perlu ditakuti. Sekarang salah satu peneliti yang sedang live in bersama saya di Tarung bahkan sudah berani membalas menggodanya, dan dia tidak marah.

Rato Rumata, setelah semalaman memimpin upacara Kawuku di kampung Tarung

Rato Rumata ditahbiskan sebagai Rato di tahun 2005, belum genap 30 tahun usianya ketika itu. Saya pikir seorang kepala suku haruslah mereka yang sudah tua dan bijaksana. Maka diskusi tentang Rato dan job desc-nya menjadi menarik. Menurut Rato, tugas utamanya mengabdi dan melayani masyarakat. Sudah itu saja. Terdengar sangat umum. Tapi memang itulah tugas pemimpin bukan?

Lalu bagaimana sang Rato muda ini dipilih? Pertanyaan ini diajukan oleh hampir semua teman yang kemudian saya kenalkan padanya. Sesungguhnya, sampai saat ini saya juga masih bertanya-tanya bagaimana secara teknis dia dipilih. Mengapa dia? Tidak adakah orang lain yang lebih bijak, matang dan berkharisma dibanding si anak muda ini?

Semua jawaban di awal tidak memuaskan saya. Seorang Rato dipilih oleh semesta, Tuhan dan leluhur yang bahu membahu memberikan isyaratnya pada manusia. Memang ada semacam dewan juri yang berwujud manusia, karena pasti sulit sekali kalau kita berharap pada secercah sinar yang memancar dari wajah seseorang untuk memastikan kelayakannya sebagai Rato.

Lalu jika semesta yang memilih, mestinya siapapun boleh merasa menjadi pilihan semesta. Karena tanda-tandanya memang bukan sesuatu yang kasat mata. Jawabnya: boleh! Tetapi ada ujian yang harus dilalui dan dimenangkan oleh yang terpilih. Apa saja yang diujikan? Bukan tingginya sekolah yang pernah diduduki, banyaknya hewan yang ada di kandang, atau siapa orang tua mereka. Ada Rato yang kebetulan ayahnya dulu juga Rato, tetapi ini bukan Buckingham atau Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.

Seorang Rato dipilih karena dia pandai berbahasa adat, memahami seluk beluk kampungnya dari ujung Utara sampai Selatan, mengerti silsilah dan hubungan antar suku, bertingkah laku baik, dapat memimpin sembayang-sembayang adat yang identifikasi awalnya adalah sembayang yang dilakukan di dalam rumah-rumah mereka sendiri. Selain itu, seorang Rato haruslah dia yang dipilih oleh leluhur, Tuhan dan semesta.

Di dalam kepala saya, jika seseorang pandai menghafal, maka itu bukanlah hal sulit. Tetapi kalau harus mengalahkan pilihan semesta tentu pandai menghafal saja tidak cukup. Dari hasil bertanya ke beberapa orang, proses pemilihan Rato ini seru. Para calon Rato akan menunjukkan keahlian mereka di atas batu-batu kubur yang berfungsi sebagai altar suci mereka. Menyanyikan syair adat, memimpin dengan sebuah doa, menceritakan kembali pengetahuan tentang kampung, kehidupan masyarakatnya, kehidupan berkebun, turun temurun silsilah leluhur di atas mereka, dan berbagai hal mereka sampaikan.

Sebagai orang yang biasa diuji secara tertulis, kepala saya serasa kosong ketika diceritakan prosesnya. Tidak ada kolom nilai yang diisi, tidak ada peringkat yang dibuat, tapi semesta akan berbicara tentang siapa yang berhak. Ini menarik. Tidak ada masa berlaku keratoan, karena setiap Rato akan menjabat gelar tersebut sampai Tuhan memanggilnya. Tidak ada penggulingan Rato, tidak ada mosi tidak percaya. Ini aneh tapi sekaligus mengisi satu rongga lagi di perut saya yang penuh ketidakpercayaan.

Buku-buku teks yang pernah saya baca rasanya mau saya bakar semua, ketika Rato menjawab pertanyaan saya tentang ketiadaan dokumentasi dan kemungkinan hilangnya sebuah ajaran. “Bagaimana ajaran atau keyakinan atau spirit ini akan hilang? Kami hidup dengan ini. Kami mendengar tentang ini sejak kami lahir. Dan kami tidak sendiri. Tuhan, semesta dan leluhur yang memastikan bahwa kami tetap ada di jalan yang benar. Tugas kami adalah menjalankan yang sudah digariskan.”

Rato Rumata, sang terpilih yang selama tiga minggu terakhir duduk di hadapan saya, membuktikan bahwa semesta, Tuhan dan leluhur memiliki cara menarik untuk setiap keputusannya. Pemimpin tertinggi suku Weelowo ini, mudah sekali pecah tawanya, hangat tetapi tetap berkharisma. Mungkin dia tidak kebal peluru atau bisa memundurkan waktu, tapi dengan pengetahuannya dia bisa menemukan jawaban yang mudah dari pertanyaan sulit.

← Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019
Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →