Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini:

Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020

Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju muslimnya?

Untungnya barisan yang pro dan kontra dengan pendapat kokoh ini seimbang di Twitter. Jadi eksim saya langsung terobati. Saya sih percaya kalau setiap manusia dilahirkan indah, seperti apapun bentuk fisiknya. Jadi kalau ada manusia mengatakan manusia lain tidak cantik, maka dia sedang menghina yang menciptakan manusia itu sendiri. Untunglah sejak kecil saya diajari untuk memaknai kata cantik bukan karena tampilan fisik.

Tapi mungkin buat sebagain orang yang sudah terpapar iklan kosmetik, susah ya membayangkan cantik, indah, ganteng tanpa menghubungkannya dengan tampilan fisik. Sebenarnya dari lingkaran terdekat saya banyak. Tapi mungkin pemirsa nggak kenal ya. Nanti saya dikira hoax. Mari kita lihat publik figur aja yuk. Buat saya Leonardo DiCaprio, Angelina Jolie, Keanu Reeves dan Matthew McConaughey itu ganteng/cantik. Kenapa? Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kepedulian sosial tinggi, yang menyumbangkan sebagian besar uangnya untuk kemanusiaan, menjadi duta kemanusiaan. Mau dikerudungin, dipeciin, dijenggotin atau enggak, buat saya mereka keren.

Tapi mari kita bayangkan sebaliknya. Ada nih orang, pakaiannya tertutup rapat, atau kalau versi laki-laki, jenggotnya melambai menjuntai takjim, tapi kerjanya bikin panas mulu, ngafir-ngafirin orang, menjadi petugas sensus surga neraka, padahal sendirinya juga belum tahu mau masuk ke yang mana, ngajak ribut, bikin dusta-dusta baru, mencabuli anak didiknya. Masih bisa disebut ganteng/cantik/keren nggak tuh? Buat saya sih enggak ya.

Badan kita ini cuma alat kok, pemirsa. Alat untuk mencapai tujuan. Jadi mungkin yang pertama perlu kita pikirkan adalah tujuan hidup kita mau kemana. Eh.. jawabnya jangan surga atau neraka ya. Itu udah bukan lahan kita. Hidup yang beneran masih hidup aja di dunia. Saya kasih contoh nih, misalnya ada orang yang cita-citanya mau mengembangkan desanya jadi berdaya, anak-anak di desa itu hidup bahagia dan mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, pendidikan bagus, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Ibarat kata seluruh dunia menutup diri dari desa itu, mereka tetap hidup karena sudah self sustain. Ini contoh saja.

Nah, badan kita bisa nggak diajakin untuk mencapai tujuan itu. Kalau masalah mati mah udah pasti. Semua orang juga bakalan mati. Nggak usah dibahas itu. Kalau si orang yang cita-citanya mengembangkan desa seperti tadi, saya rasa dia butuh pakaian lengan panjang, topi caping, sepatu karet, beberapa buku tentang pertanian, pengasuhan dan ketahanan desa. Duh, memikirkan orang seperti itu saya kok langsung deg-degan sendiri ya.. Rahimku jadi panas mas, kalo kata meme-meme.

Jadi intinya nih ya pemirsa, sebelum saya berpanjang-panjang sampai ke mimpi segala, mari kita kembali ke topik bahasan awal. Udah lah, udah 2020 ini ngapain sih bahas orang mau pakai baju apa. Kalau kita nggak happy sama pakaian yang dipakai orang lain, ya nggak usah dilihatin. Itu badan-badan dia, terserah dia mau diapain. Kita juga nggak mau kan diatur-atur disuruh berpakaian seperti apa? Coba sekarang kokoh, kalau saya suruh pakai baju ala Jungkook pas lagi manggung gitu, mau nggak?

Baju itu identitas ya, kokoh. Jadi terserah orang itu mengidentifikasi dirinya seperti apa, mau ber-statement apa dengan pakaiannya. Saya misalnya, kalau tetiba demi dibilang cantik lalu saya berkerudung, bisa kebakaran orang-orang nanti. Sholat enggak, ngaji apa lagi. Baju saya adalah yang nyaman saya pakai, merek yang kalau bisa punya sahabat-sahabat saya sendiri, kosmetik juga bukan yang dukung acara diskriminatif. Bye Wardah, Make Over dan Emina…

Begitu juga tempat-tempat yang dituju oleh tubuh kita, peralatan yang dipakai, kegiatan yang diikuti. Itu juga statement. Saya kalau diajak nongkrong, nggak suka ke Starbucks, karena nggak saya banget. Saya lebih suka ke warung kopi lokal untuk memesan teh panas, atau makan di McD dan KFC karena punya orang Yahudi, kadang juga duduk aja di rumah sambil goreng pisang, di co-working space karena murah dan gratis minum.

Jadi jadi.. sebelum saya latah juga jadi ngatur-ngatur orang lain, tentukan dulu aja identitas kita mau jadi apa, badan ini mau dibawa ke mana. Kalau udah ketemu, pertahankan. Tapi nggak usah nyuruh orang lain ikutin kita. Kalau masih mau nyari-nyari pengikut juga, jangan-jangan kamu belum yakin sama identitas kamu sendiri.

Para Putri Kerajaan Arab yang tetap cantik

Udah ya gitu aja, dapat salam dari putri-putri Kerajaan Arab yang cantik-cantik.. nih…

← Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru
Dipaksa Bertapa sama Corona →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

  1. Soal kostum, saya kagum Mbak dengan Mocopat Syafaat, forumnya Cak Nun tiap tanggal 17 setiap bulan. Meskipun konsepnya lebih condong ke ngobrol-ngobrol soal spiritualisme Islam, orang-orang datang dengan kostum dan penampilan yang apa adanya mereka. Ada yang berjilbab, ada yang enggak. Yang tatoan ada, beberapa orang datang dengan rambut gimbal, yang gondrong berkaos band metal banyak. Tapi suasananya adem. “Vibe”-nya positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →