The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like, and please do nothing major,” gitu kurang lebih pesannya.

foto nyomot dari sini ya

Saya pikir, it would be fun. Rupanya nggak juga. Dua hari pertama, ya iyalah nggak bisa ngapa-ngapain, orang demam. Mana waktu itu parnonya ampun-ampunan, karena di rumah adik saya ada baby. Pas mamaknya demam, si budhe ini lah yang ngurusin, jadi takut banget kalo nularin. Untung emaknya bilang, “Tenang aja, anak gue udah pasti positif, malah kayaknya kamu ketularan dari dia.” What a sister…

Ok, hari berganti, makin membaik. Yang paling bikin baik itu karena sadar bahwa banyak banget yang sayang sama keluarga saya dan saya. Dari mulai vitamin, jus buah, jamu kuat, jamu detox, wedang uwuh, sosis, lupis, kentang, cireng, obat dari Cina, eco enzyme, madu, daun katuk, tahu dan tempe, sampai yang paling nggak saya pikirkan tapi paling membahagiakan: bakso sony, man! Oh, oh, not to mention yang mengirim gopay dan transfer ke saya buat milih gofood sendiri ya. Juga yang tiap hari ngecek dan kirim doa. Tuhan pasti bingung membalas kebaikan kalian. You guys are angels.

Di hari-hari dimana tiap orang ngingetin buat nggak ngapa-ngapain, saya malah stres. Saya nggak bisa diem, that’s clear. Jadi disuruh diem di rumah itu equals dipenjara buat saya. Saya punya deadline kerjaan, dan pusing pala kalau belum diselesaikan. Tapi tiap lihat tulisan, malah muncul pertanyaan, emang gue nulis ini? Kenapa? Lho, ini apa? Kok dia ada di sini? Hah? Apa? Blank semua. Bagian ini, terima kasih banget buat Ega yang back up saya dan sabar banget nanya-nanya lewat WA. Saya masih bisa merespon WA dengan cepat karena rasanya aplikasi ini yang membuat saya nggak ter-shut down sama seluruh lingkaran kesibukan.

Tanggal 5 Juli kami serumah PCR akhirnya, hasilnya masih positif tapi CT-nya beragam. Ibu dan saya kebagian angka 35, adik saya masih 30. Saya happy dong, menurut teori itu adalah sembuh. Maka tanggal 8 saya minta diantar pulang ke rumah. Eh tapi tapi tapi.. drama yang lain terjadi. Kepala saya pusing dan napas jadi pendek-pendek. Repotnya, saya belum punya oksimeter.

Terima kasih tim RSJ yang bahu membahu membuat saya mendapatkan oksimeter dua sekaligus. Hahaha.. nanti kalau kalian baca ini dan ada yang darurat butuh oksimeter, kasih tahu ya.

Dan begitu menjepit jempol saya, terjawab sudah, memang lagi rendah kadar oksigen di darah saya, 91-93. Sekali lagi, kalau menurut teori ini harusnya udah dirawat, tapi tentu saja saya nggak mau dirawat lah. Saya pulang ke rumah demi ketemu anak dan bisa berdua-duaan sama dia kok. Berbagai cara dilakukan dari proning sampai uap-uapan. Kadang naik tapi nanti turun lagi. Paling deg-degan tanggal 10 dini hari, 87 man. Saya tadinya mau stress tapi saya memutuskan untuk mem-FU oksimeter saya lalu kembali tidur. “Awas ya kalau nanti pas matahari terbit nggak naik angkanya.”

Ini dia oknumnya, mungkin dia kesal karena jempol saya gede banget

Alhamdulillah naik. 93-95 lagi sekarang.

Jadi angka 94 awalnya saya pikir hanya representasi angkatan kuliah saya, angkatan saya lulus SMA, dimana setiap mendengar kata 94 dada saya sesek karena bangga. Nggak tahu bagian mana yang paling saya banggakan, tapi bangga aja berhasil melalui masa SMA, pretty much alive dan saya masih mengenangnya sebagai masa yang paling menyenangkan. Yow! Yang angkatan 94 mana suaranya? Tapi sekarang 94 punya makna baru lagi buat saya, dimana setiap saya jepit jempol saya, selalu sambil ada doa, “Please please please jangan berhenti di 94, naik naik naik naik.” 94 yang kali ini setiap kali muncul, rasa seseknya beda. Literally mnghimpit dada. Fiuh!

Untuk orang yang udah belajar mandiri sejak SMA, merasa tidak berdaya seperti sekarang ini jauh lebih melelahkan dibanding fakta bahwa ada virus di dalam tubuh saya. Mengakui bahwa saya takut setiap kali anak saya tidur, lalu dengan parno saya memberikan nomor PIN dan password benda-benda penting dalam hidup saya, termasuk akses ke asuransi pada orang yang saya percaya, menyampaikan wasiat untuk anak saya, yang seharusnya bisa saya sampaikan sendiri tapi cuma berhenti di ujung jari dan tidak pernah tega mengetikkannya.

Dalam hidup yang saya pikir semuanya ada di bawah kendali kita, sekali ini saya merasa sungguh-sungguh harus menyerah. Bukan, bukan menyerah sama virusnya ya, tapi menyerah bahwa ada kekuatan super di luar kita yang “udah deh lu pasrah aja, semua udah ada yang atur,” itu rasanya bikin dada sesak.

Jadi yang saya lakukan sekarang adalah, berdoa dan berusaha agar saturasi terus di atas 94, berkompromi sama alien apapun di dalam tubuh saya dan mengajaknya ketemu di satu titik tengah. Silahkan tinggal selama kamu mau dan suka di dalam tubuh saya, selama saya masih bisa menulis, pergi ke Sangihe, Morowali dan Pipikoro karena ada banyak kisah yang harus saya tuliskan dari sana, ke Slovenia, Rusia, Irlandia, Nepal dan bahkan Wakanda jika dia ada, menulis buku yang sampai dibikin film saking pentingnya itu cerita, melihat anak saya wisuda berkali-kali, well… tiga kali lah setidaknya. Sarjana Sejarah, lalu dua kali master terserah apa. Nggak usah S3 nggak papa nak, kamu butuh bersenang-senang juga dalam hidup.

Sesungguhnya saya nggak tahu apa yang saya tulis hari ini, kalau kata anak twitter, pokoknya spill aja, biar lega. So I did it.

Udah lah, yuk… sehat ya kita semua. Kasihan pengusaha perjalanan kalau kita nggak jalan-jalan. Eh, satu lagi. Terima kasih teman-teman di grup WA yang walaupun belakangan banyak ucapan duka cita dan prihatin karena ada lagi dan lagi yang positif, tapi selalu berusaha menceriakan dengan video dan meme lucu. You guys are rock! You deserve a stage in heaven.

← Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim
44 Years of Practice →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini: Gambar dari darlingquote.com Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup...

Read More →

The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like,...

Read More →

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →