44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini:

Gambar dari darlingquote.com

Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup saya saat itu. Jangan sedih, setengahnya belum saya kirimkan sampai sekarang, dan ada satu yang paling membuat sedih. Ada yang karena kemalasan ke kantor pos, nggak saya kirim-kirim sampai akhirnya beliau keduluan pulang dan tanpa sempat membaca kartu pos dari saya.

Tahun ini saya ngapain ya? Tahun ini udah dikasih kado sama semesta yang sangat saya syukuri. Kami sekeluarga sembuh dari Covid. Udah, nggak butuh apa-apa lagi rasanya. Semoga belum telat kalau di tahun ini saya seriusan mulai hidup sehat. Semoga kebiasaan ini terus berlanjut sampai tua dan saatnya pulang nanti ya.

Malam tadi setelah sekian lama nggak ngerumpi, saya bisa chat lama banget sama seorang teman, dan serunya adalah karena kita ngomongin orang lain di sana. Hahahaha…

Ada banyak hal yang membuat saya lega. Semoga teman ngobrol saya juga sama leganya ya dengan saya. Kalau nggak kasihan banget dia, ngeladenin saya hahahihi tapi nggak dapat apa-apa. Orang yang kita omongin banyak. Dari mulai yang ngeselin karena nggak percaya Covid dan anti vaksin, sampai ke orang yang menyia-nyiakan potensinya padahal orang lain di sekitarnya melihat potensi itu dan kesel aja gitu. Yang dia lakukan adalah terus menerus berjalan melingkar tanpa akhir, and trying to proof what?

Tapi ya kalau dia nggak gitu, malah nggak bisa kita jadiin bahan obrolan malam tadi, kan.

Setelah obrolan berakhir, dia kembali ke deadline dan saya kembali ke film dokumenter tentang perkawinan di Iran, saya jadi memaksa diri membuka lemari ajaib di kepala saya dan memandangi cermin di bagian dalam pintunya.

“Hey, kamu tadi ngomongin orang, yakin nggak ada bagian dari kamu di situ yang sebenernya perlu kamu review sendiri?”

Sekarang tahu kan, kenapa cermin ajaib emang perlu dihancurkan sama ibu tiri?

Dan sayapun memandang cermin itu lebih lama. Iya ya, banyak bagian dari obrolan seru tadi yang mungkin juga di seberang dunia lain, ada orang lain yang sedang ngerumpiin saya dengan tema yang sama. Ouch!

Maka saya menggunakan kesempatan bercermin semalam untuk flashback, selama lima tahun ini apa aja ya, yang saya lakukan? Saya menjadi lebih baik nggak ya, dari ulang tahun saya dimana saya merasa look good lima tahun lalu? Kalau nggak, kok sia-sia banget yak.

Maka hari ini saya nemulah quote ini:

Gambar dari Pinterest

Ok, nggak papa. 44 tahun yang lewat adalah pelatihan yang panjang dan seru. Panggungnya mulai dibuka sekarang nih. Di hari-hari berikutnya orang harus ngomongin saya kayak sekarang saya ngomongin Raif Badawi dalam hal baik dan keberaniannya, Eka Kurniawan karena kegilaan dan konsistensinya, Mira & Riri karena film-filmnya, gitu pengennya.

Dari hasil ngobrol dan bercermin semalam saya jadi seperti diingatkan bahwa orang hidup itu idealnya ya punya tujuan. Nggak papa sih nggak punya tujuan, tapi tapi itu biar orang lain aja. Saya tetap mau jadi bagian dari semesta yang punya tujuan. Maka di satu titik saya harus berterima kasih sama obyek pembicaraan semalam karena sudah mengingatkan dan mengembalikan saya pada tujuan awal.

Foto ini membuktikan kalau saya punya tujuan. Setidaknya saya suka foto di tempat-tempat yang ada papan penunjuk arah, lah! Haha.. Dan saya kangen jalan-jalan di Eropa, kayak orang-orang gitu. Kalau saya masih kelihatan muda, ya iyalah, udah 11 tahun lalu motretnya

Pesan kuncinya adalah: berhenti melingkar-lingkar, karena sudah 44 tahun kamu berlatih, jadi sudah cukup. Berikutnya adalah pertunjukan yang sesungguhnya. Dan pertunjukan-pertunjukan yang saya sudah persiapkan untuk setahun ke depan adalah:

  • Nerbitin novel lagi
  • Terjemahin Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ke bahasa Inggris
  • Belajar satu bahasa asing lagi dengan serius
  • Tambahin mainan banyak-banyak di Gogotoys Rental

Maka dengan ini saya tahu bahwa saya harus lebih banyak riset, nulis, riset nulis, jalan-jalan ke Toys Kingdom dan makin akrab sama Duolingo.

Hahaha… Happy birthday to me!

← The Class of 94 and Beyond

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini: Gambar dari darlingquote.com Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup...

Read More →

The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like,...

Read More →

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →