Ambar Margi; j. Malaikat itu Bernama Seno

Sayangnya, senyum di wajahku tidak berumur lama. Dengan serta merta, hanya dalam hitungan bulan, kami sudah mulai berjumpa dengan masalah baru. Musim hujan ketika itu. Jalanan desa menjadi kubangan yang membentang menghubungkan satu rumah dengan yang lainnya. Satu tikungan ke tikungan berikutnya, sawah yang lebih mirip genangan air sejauh mata...

Read More →

Ambar Margi; i. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Sembilan bulan kujalani masa kehamilanku dengan kulit leher, perut dan tetek menghitam. Menurut orang-orang di sekitarku, memang seperti itu kalau perempuan sedang hamil. Tetapi untukku ini semua tampak aneh dan aku ingin segera melahirkan anakku. Bukan saja karena aku ingin ruam-ruam hitam di beberapa bagian tubuhku hilang, tapi juga karena...

Read More →

Ambar Margi; h. Sandal Jepit

Yudi, nama suamiku. Dia adalah orang pertama yang berada sedekat ini denganku. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan pelukan dari orang yang kusayangi. Aku tidak pernah memiliki pacar, seperti teman-temanku yang kutahu sejak kelas 5 SD sudah berdekatan dengan teman lelaki lain. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk lompat karet dan...

Read More →

Ambar Margi; g. Kawin Muda

Hari itu akhirnya datang juga. Hari dimana akhirnya aku menyerah karena sudah satu tahun berlalu sejak bujukanku pada simbah. Dua laki-laki yang disodorkan pertama padaku, kutolak mentah-mentah. Bangkotan! Sama sekali tidak menarik. Untung mereka tidak langsung datang bersama keluarga dan membawa mahar yang menyilaukan perut keluargaku, jadi aku masih bisa...

Read More →

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi; d. Tak Lelo Ledung

Aku tidak ingat bagaimana aku ditimang ketika masih dalam buaian. Aku juga sudah lupa bagaimana bunyi detak jantung ibu ketika mulutku menyecap air susu di dadanya. Ingatan pertamaku adalah ketika ibu mendorong dengan keras aku yang membuat air susunya berwarna kemerahan. Air susu itu bercampur darah karena gigitanku di putingnya....

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; a. Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Angel of Mine

Novel kedua saya terbit tahun 2007. Yang ini sejarahnya lucu banget. Ketemu sama Deny dari Gagas Media di Depok. Ditanyain punya naskah apa, saya jawab naskah kerjaan kantor. Lalu dia men-challenge saya untuk submit tulisan dalam 2 minggu. A Cinderella Story. Well, why not? Maka Angel of Mine ini lahir....

Read More →