selamat datang tahun naga
January 26th, 2012
Ini adalah tahun pertama saya merayakan pergantian tahun lunar, alias Imlek di Jakarta. Kebetulan juga tahun ini adalah tahun kelahiran saya *angkat kaca mata* tahun naga.
Terlepas dari apapun yang diramalkan orang tentang tahun naga, yang konon kabarnya merupakan tahun terbaik, tahun penuh rejeki dan keberuntungan, tapi ada hal miris yang saya temui di malam menjelang pergantian tahun.
Semasa masih di Semarang dan Jogja, saya biasanya merayakan pergantian tahun lunar dengan pergi ke beberapa vihara atau pusat-pusat kebudayaan Tionghoa di sana. Di Jakarta ini, yang saya tahu dan belum pernah didatangi adalah Petak Sembilan. Tadinya saya sempat ngotot bahwa namanya adalah Petak Tujuh. Hehe.. saya suka mengalami kesulitan mengingat-ingat angka.
Dari stasiun Jakarta Kota, saya dan dua orang teman berjalan menyusuri sisa-sisa pertokoan yang sebagian besar masih berwarna gelap sisa terbakar di kerusuhan 14 tahun yang lalu. Setelah dua kali bertanya, akhirnya kami melihat tanda-tanda Petak Sembilan. Lampion merah bergantung di sepanjang jalan, pedagang kaki lima menjajakan amplop angpao, gantungan kunci bernuansa merah terang dan emas, baju-baju chongsam merah, serta pedagang bunga yang ramai diborong oleh orang-orang yang akan bersembahyang.
Sepanjang perjalanan menuju vihara terdekat, ada satu hal yang mengganjal di hati saya. Sebuah mobil pemadam kebakaran, lengkap dengan krunya. Saya tidak melihat kebakaran atau sisa kebakaran di sana-sini. Setelah bertanya-tanya, tahulah saya bahwa rupanya bapak gubernur yang terhormat akan datang esok hari.
Maka muncul pertanyaan ini di kepala saya:
Kenapa baru ada acara bersih-bersih dan mempercantik diri yang dipaksakan, ketika akan ada pejabat datang? Emang kalau pejabat harus dikasih yang bagus-bagus ya? Bukannya lebih baik kalau mereka melihat kondisi sebenarnya, supaya kebijakan-kebijakannya juga lebih jujur? Ini perbuatan siapa ya? Para penjilat pejabat atau aparat negara yang tidak mau ketahuan kalau selama ini pekerjaannya tidak dilakukan dengan baik?
Lalu, ada hal lain lagi yang membuat saya merasa sekali lagi terobek jantung.
Tepat di pekarangan vihara Widya Dharma berkumpul ratusan orang yang duduk di bawah untuk menunggu dibagi angpao. Eh, tidak semuanya menunggu, lebih tepatnya ada yang secara agresif meminta angpao pada orang-orang yang lalu lalang di kawasan vihara.
Lalu di berita-berita TV saya melihat terjadi banyak kericuhan di vihara-vihara lain sehubungan dengan pembagian dan rebutan angpao.
Saya jadi ingin bertanya-tanya lagi, Kenapa setiap hari raya dimana ada kesempatan pembagian uang atau barang, selalu terjadi kerusuhan dan rebutan?
Di mana lembaga bernama negara yang mendapat amanat untuk memelihara fakir miskinnya dan anak-anak terlantarnya? Tidakkah hal-hal menyedihkan yang terus berulang setiap tahun ini bisa menjadi cermin agar tidak berulang lagi di kemudian hari? Kalau setiap tahun selalu terjadi hal yang sama, saya curiga para penyelenggara memang tidak melakukan apapun selain berusaha memakmurkan dirinya sendiri dan kelompoknya.
Aduh, bapak dan ibu penyelenggara negara, paham nggak ya, apa yang saya maksud di tulisan ini? Saya takut sudah menuliskan sesuatu yang sia-sia.
Atau sebaiknya besok saya mulai memposting tentang interior impor terbaru dan termahal saja, supaya lebih bisa dimengerti oleh mereka?
Entahlah…
Sarasvati (1)
January 18th, 2012
Teman-teman, di beberapa posting yang akan datang, saya akan sering bercerita tentang Sarasvati. Selamat membaca..
Siapakah Sarasvati sebenarnya?
Sarasvati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan, yang sering kali digambarkan duduk di atas sebuah lotus, atau berdiri di atas seekor angsa putih, dengan tangan kanan memegang semacam rantai bebatuan untuk berdoa, sementara tangan kiri memegang batu. Oh iya, Sarasvati memiliki lebih dari dua tangan. Ada yang menggambarkan dengan 8 tangan, ada yang menggambarkan denan 4 tangan. Yang jelas, dua diantara tangan-tangan itu memainkan alat musik yang disebut sebagai vina. Vina adalah semacam gitar tapi dengan leher lebih panjang, sementara badannya bundar kecil. Alat ini juga menggunakan senar untuk dipetik.
Makna simbol-simbol itu antara lain:
Lotus atau teratai yang adalah penggambaran dari kebenaran yang sesungguhnya
Rantai untuk berdoa mewakili kedalaman spiritual
- Buku atau disebut pustaka adalah mewakili ilmu pengetahuan pada umumnya
- Sementara vina mewakili seni atau keindahan.
Jadi secara keseluruhan, Sarasvati ini mewakili ilmu pengetahuan, kebijakan, keindahan seni yang selama ini diagung-agungkan oleh manusia.
Itu adalah Dewi Sarasvati yang sesungguhnya. Ada Sarasvati lain lagi yang saya juga ingin perkenalkan pada teman-teman.
Sarasvati yang saya maksud adalah Lembaga Pendampingan dan Bantuan Hukum untuk Perempuan bernama Sarasvati. Kantornya ada di Yogyakarta, tetapi pada prakteknya bisa juga membantu teman-teman di Semarang, Solo, dan beberapa kota lain.
LPHBP Sarasvati berangkat dari kepedulian terhadap perempuan yang sering kali berada dalam posisi marginal, terstigma, dan tidak mendapatkan keadilan di banyak tempat - termasuk hukum, karena gender. Kegiatan yang kami lakukan selama ini adalah,
- pendampingan hukum untuk perempuan di dalam penjara, bekerja sama dengan Penjara Khusus Perempuan Semarang, untuk memberikan konseling pada penghuninya,
- pendampingan psiko sosial dan bantuan hukum untuk perempuan di luar penjara. Ada banyak kasus perempuan yang sudah kami bantu di beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta dan,
- rumah transisi. Kami menyebutnya WRP atau white rose palace atau rumah mawar putih. Kenapa rumah mawar putih, karena rumah yang kami tempati ini dulunya adalah sebuah bengkel dan rumah makan bernama Mawar Putih. Kami dipinjami rumah tersebut untuk membantu perempuan-perempuan yang memang membutuhkan bantuan.
Siapa saja mereka dan siapa saja yang ada di dalam Sarasvati, akan saya tulis selanjutnya..
Terima kasih sudah membaca.
Salam
blackberry >< kaya
December 21st, 2011
Beberapa saat belakangan ini, hidup saya terusik karena BB. Ah… lebai. Jadi begini ceritanya
*musik menegangkan*
Bulan lalu saya merasa sangat aneh melihat tayangan mengenai antrian doskin BB yang sampai membuat banyak orang pingsan dan terjadi keributan. Waktu itu saya pikir BB yang ditawarkan itu harganya menjadi semacam 300 ribu, sampai antriannya seperti itu. Oh.. tentu saja saya salah, karena rupanya, harga BB yang diantri ribuan orang itu masih 2,5 juta. Itu sangat mahal untuk saya.
Saya adalah tipe orang yang membeli HP dan gadget lainnya kalau mereka sudah tidak bisa dipakai lagi. HP terakhir saya sudah ganti baterai beberapa kali, sampai saya sadar bahwa harga batereinya sudah semahal harga jual HP itu sendiri. Saya tidak memakai BB, sehingga kalau ada yang bertanya PIN, saya berikan nomer PIN salah satu ATM saya, yang tidak ada saldonya
Setelah heboh antrian BB itu, anak saya yang berusia 10 tahun mencoba menawar ajakan liburan saya.
Vanya: Ibu, boleh nggak, uang untuk liburan ke Bandungnya dibeliin BB aja? Teman-temanku udah pada pake BB lho, dan aku juga pengen.
Saya : Wah, maaf anakku, kamu terlambat. Hotel dan mobil sudah dipesan, dan ibu tidak bisa menarik kembali uangnya. Selain itu, menurut ibu, kamu baru boleh punya HP sendiri waktu sudah masuk SMP nanti, (dan itupun bukan BB) tambah saya dalam hati.
Vanya: Oooo… baiklah.
condom is your best friend
December 2nd, 2011
Pada suatu hari saya mendengar kalimat tersebut meluncur dari seorang nenek pada cucunya yang berniat meninggalkan keluarganya di sebuah kota kecil dan memutuskan untuk bekerja di New York. Adegan tersebut ada pada sebuah film berjudul Post Grad. Oh, saya sungguh suka gaya nenek itu.
Hal tersebut mengingatkan saya pada suatu hari di Nusa Dua dan di Vienna. Di kedua tempat tersebut saya pernah mengikuti konferensi HIV/AIDS. Dari begitu banyak hal baru berhubungan dengan HIV/AIDS yang saya temui di kedua tempat tersebut, ada satu persamaan besar, yaitu kampanye kondom. Konter kondom bertuliskan CONDOMIZE di konferensi Vienna menyediakan kondom berbagai macam ukuran dan warna. Bahkan ada satu malam dimana mereka menggelar sebuah Condomize party, dimana peserta dari seluruh dunia berkumpul, dengan artificial kondom yang disebar dimana-mana, dance for life action, juga sebuah pagelaran fashion show dengan pakaian-pakaian terbuat dari kondom.
Di Vienna saya juga memperhatikan ada kondom-kondom jenis baru yang mungkin saya lewatkan ketika di Bali, yaitu kondom jari atau findom (singkatan dari finger condom) dan kondom untuk perempuan. Kondom jari itu, kita tahu dong untuk siapa? Betul sekali, untuk orang yang menggunakan mister atau miss Palmer sebagai partner aktifitas seks mereka. Sementara kondom perempuan, sampai saat ini di Indonesia masih belum dijual secara bebas di apotik, tapi kalau penasaran ingin mendapatkannya, saya rasa KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) memiliki persediaan. Itu adalah kondom yang dipakai oleh perempuan, sehingga jika pasangan seksualnya menolak untuk memakai kondom, dia masih tetap terlindungi. Karena kuncinya ada pada perempuan. Hampir semua kondom itu dibagikan secara gratis. Kecuali kondom jari yang dijual 1 Euro untuk 4 buah kondom. Souvenir yang menarik bukan?
Semoga anda tidak langsung melotot dan merasa risih, perangkat yang paling personal itu kita bicarakan di edisi bulan Desember yang setiap tangal 1-nya diperingati sebagai hari AIDS sedunia ya. Karena idealnya kita memang sudah berhenti berkampanye kondom sejak beberapa tahun yang lalu, kalau saja setiap orang yang memang membutuhkan, tidak merasa malu atau enggan untuk menjadi aktifis kondom. Tetapi nyatanya sampai sekarang angka yang mencatat infeksi baru HIV masih terus saja ada. Angka tersebut mayoritas adalah usia produktif, yang juga bisa disimpulkan sebagai usia aktif secara seksual.
obat segala penyakit
November 23rd, 2011
Minggu lalu saya baru saja pulang dari Makassar. Ini adalah untuk pertama kalinya saya berkunjung ke kota itu. Oh, tentu saja bukan dalam rangka jalan-jalan, karena saya belum punya cukup uang untuk dialokasikan ke budget jalan-jalan. Saya ke Makassar untuk sebuah tugas kantor.
Ini yang saya sukai dari pekerjaan saya sekarang. Pekerjaan yang membawa saya berjalan-jalan berkeliling dunia. Well, Makassar bagian dari dunia kan? Tapi ini juga yang membuat saya jadi memiliki banyakan keterbatasan. Misalnya jadi terbatas waktu untuk potret sana sini, ngetwit sana sini, up date status facebook, dll. Tapi satu hal yang menguntungkan adalah saya jadi berkenalan dengan banyak teman. Jadi berkenalan dengan @ipulg_, @_nanie-, @Iqko, @irhapunya, @mustamar, @TaqdirArsyad, @rara79, @andhy2 dan banyak daeng yang lain.
Kami bertemu hanya sekali, selanjutnya pertemuan kami diperpanjang oleh twitter. Janjian mau kesana kemari, tidak pernah berujung, sampai akhirnya saya memutuskan menculik seorang teman yang dikenalkan oleh sahabat saya, untuk membawa saya ke pantai Losari. Hidup belum lengkap di Makassar tanpa mengunjungi pantai Losari. Dan di sana, ada sebuah keajaiban yang mungkin hanya terjadi di Indonesia. Saya menemukan dua kerumuman orang berdiri melingkar (mengkotak lebih tepatnya) mengelilingi satu orang berpakaian jubah panjang ala pemuka agama, yang berteriak-teriak menjajakan keahliannya.
Yang pertama secara telak menjajakan obat yang konon bisa mengobati berbagai penyakit, sembari membawa kotak kayu berisi buaya muda sepanjang kurang lebih 1 meter. Tentu saja saya segera ngacir meninggalkan kerumuman itu. Saya juga kadang-kadang bisa jadi buaya, tapi kalau dipertemukan dengan nenek moyang saya yang sesungguhnya, saya memilih untuk pura-pura tidak pernah jadi buaya saja.
Di kerumuman berikutnya, si aktor utama jauh lebih cantik permainannya. Dia membagikan sebuah batu akik, yang tentu saja langsung saya sambut dengan bahagia. Warnanya merah, kecil dan cantik. Lalu ada atraksi dimana seorang penonton diminta menggenggam batu akik itu, dan tangannya dipotong dengan golok. Abrakadabra, tentu saja tangannya tidak terluka sedikitpun. Kemudian, dia memotong leher seorang aktor pendukung yang sudah dibungkus dengan kain hitam. Tapi dia baik-baik saja. Ah… saya benar-benar semakin cinta Indonesia. Karena mungkin hal-hal seperti ini hanya bisa saya temukan di negeri ini.
Berikutnya, si aktor utama meminta kami yang sudah menggenggam batu akik untuk membungkusnya dengan uang kertas lalu menggenggamnya dengan tangan Kanan. Dia bilang, semakin besar pecahan uangnya, semakin ampuh doanya. Hmmm… malaikat juga bisa disogok rupanya ya.. Saya ambil lembaran seribu rupiah dari dompet, karena saya merasa sayang kalau uang pecahan lebih besar menjadi pembungkus. Soal keampuhan, saya kurang terlalu peduli. Tapi ketika aktor itu meminta saya dan penonton lain untuk mengembalikan batu akik dan uang yang membungkusnya ke dalam wadah yang disediakan, saya mundur dong. Saya mulai mencium gelagat tepu-tepu di sini. Bukannya pelit uang 1000 saya melayang lho… Tapi, saya sudah terlanjur cinta pada batu akik merah saya tadi ![]()
Setelah itu berpanjang-panjang aktor itu bercerita tentang keampuhan akik, dari mulai mengobati panu, batuk kering, tenggorokan gatal, kanker, sampai mengobati skripsi yang tidak selesai-selesai, saya merasa putus asa. Teman saya Fifi lebih putus asa lagi. Dia 5 tahun kuliah kedokteran, dan semua ilmunya patah oleh aktor utama di kerumunan tadi. Maka kami memutuskan untuk pergi dari kerumunan itu sambil membawa batu akik secara diam-diam.
Menurut teman saya Ikdar, keputusan saya tepat. Karena aktor itu tidak akan berhenti berpidato. Dia akan terus berbicara sampai satu persatu orang menyerah seperti saya, lalu dia mengumpulkan uang pembungkus akik tadi. That’s how it works. Dari situlah dia mendapatkan uang pengganti energinya yang terbuang.
Woh!!
Bukannya itu penipuan ya?
Nyatanya tidak ada yang merasa ditipu. Para penonton yang masih tersisa nanti diberikan kembali akiknya, beserta sebuah keyakinan, bahwa obat segala penyakit, sudah ada di tangan mereka.
Pak, punya obat untuk menyembuhkan penyakit para pemimpin negeri ini nggak?
putih langsat
November 7th, 2011
Pada suatu hari bulan-bulan belakangan ini, saya menonton TV dan merasa terganggu dengan sebuah iklan produk kecantikan yang menggunakan semboyan putih langsat. Sebelumnya saya memang kurang aware dengan istilah putih langsat ini, biasanya yang terdengar lebih sering adalah kuning langsat bukan? Maka here I am, mencoba mencari tahu inti permasalahannya.
Langsat.
Langsat adalah buah DUKU!! Seperti ini bentuknya.
![]()
Nah, lihat sendiri kan, di gambar yang saya ambil dari wikipedia itu, kelihatan bahwa warnanya sama sekali tidak putih, dan kalau putih malah menurut saya dia tidak apa adanya, atau tidak sehat, alias busuk. Mungkin. Saya tidak berhasil menemukan buah langsat berwarna putih soalnya.
Nah, tentang buah langsat itu, mari tidak perlu kita persoalkan. Dia sudah terlahir seperti itu, so be it. Saya lebih tertarik kalau kita membahas kata putih yang mendahuluinya. Pertama, kenapa harus putih? Seperti halnya hampir semua iklan produk kecantikan untuk perempuan seolah-olah mengajak perempuan berpikir bahwa cantik adalah putih, dan itu menyedihkan menurut saya.
Kenapa harus putih? Kalau iklan itu diterapkan untuk perempuan di negara yang rasnya berkulit putih, saya sih tidak akan ribut. Tapi masalahnya adalah ras kita ini (yang tidak lebih buruk juga tidak lebih baik dari ras lain) kan warna dasarnya adalah sawo matang, atau fair dalam bahasa Inggrisnya. Kenapa tidak mengajak perempuan untuk berpikir bahwa kulit sehat apapun warnanya itu lebih baik dibanding kulit yang dipaksakan berwarna tertentu tapi tidak mempertimbangkan unsur kesehatan dan keamanannya?
So, mbak, jeng, dek, sist, semoga kita tidak termasuk yang menjadi korban putih langsat ini ya. Kita cantik karena apa yang kita lakukan, bukan karena warna kulit kita.
Sampun, nuwun.
kemana kemana kemana?
November 4th, 2011
Kemana saya selama ini ya? Tulisan terakhir saya di blog ini adalah tertanggal 1 Agustus 2011. Owh owh owh.. sungguh saya sudah menyia-nyiakan kado ke-32 dari sepupu saya, berupa website ini. Maafkan… mas Yusuf & mb Yeni. Sampai akhirnya saya disenggol dengan manis oleh seorang sahabat, terima kasih mbak Itta di Semarang yang mengingatkan akan keberadaan dianpurnomo.com ini.
Jadi, kemana saja saya selama ini, sama sekali tidak penting. Tapi apa yang saya temui sepanjang perjalanan saya sok sibuk ke sana ke sini, amat sangat penting. Saya menyadari satu hal. Bahwa semakin banyak hal berkumpul di kepala kita, belum tentu semakin mudah dia menulis. Hehehe… *pembelaan diri*
Karena memang benar, melihat perempuan dan anak dipenjarakan, well… koruptor juga dipenjarakan sih (beberapa), tapi mereka mendapatkany banyak kemudahan, baik dari mulai lokasi pemenjaraan, fasilitas plus-plus, sampai pembebasan bersyarat maupun remisi. Sementara anak-anak dan perempuan yang dipenjarakan mengalami diskriminasi dan terus menerus dipersulit untuk mendapatkan hak-hak mereka.

Itu masalah yang serius, yang saya terus menerus kelah-keluhkan. Belum lagi masalah-masalah perkawinan anak di bawah umur. Fiuh… ada apa sih dengan kampung kecil bernama dunia ini? Kenapa di beberapa tempat, ukuran untuk kemandirian dan kematangan harus ditandai dengan perkawinan? Dipikir kalau sudah menikah lalu masalah hidup sudah selesai? Dapat salam dari Krisdayanti! Let me tell you something ya, menikah itu gerbang baru yang PR banget untuk dihadapin. Kalau memang nggak siap, nggak usah masuk ke sana. Apalagi yang kalau alasannya demi nafsu. Masih punya tangan kan? Manfaatkan. Aduh, maaf saya super emosi, membayangkan anak-anak dibawah umur dikawinkan. Mendingan duit buat kawinnya dipake buat bayarin sekolah.

Lihat foto di atas itu, nggak pantas kan, anak di bawah umur seperti saya, menikah dengan orang setua itu?
Udah ah, saya mau nyari Ayu Tingting lagi. Kemana… kemana… kemana…
Foto yg pertama saya ambil dari sini ya
Kantor Imigrasi Depok
August 1st, 2011
Internet adalah salah satu senjata sekaligus kamus saya belakangan ini. So does every body else mungkin ya. Seperti misalnya ketika saya berusaha menemukan letak kantor imigrasi di kota Depok bulan yang lalu.
Dari beberapa blog yang saya kunjungi, saya menemukan alamat kantor imigrasi depok. Ada yang bilang di dekat kantor walikota, ada yang di Jl. Dahlia, ada juga yang dekat kantor walikota atau di dekat BNI Depok. Baiklah, ketika alamat yang saya temukan di internet itu tidak terlalu berjauhan satu sama lain, maka saya bersepakat dengan teman untuk naik angkot dari arah Margonda. Tetapi alhasil, saya sampai naik angkot 3 kali dan tidak menemukan kantor imigrasi di dekat-dekat ketiga lokasi tersebut, sampai akhirnya saya menanyakan pada seorang petugas keamanan kantor walikota dan mengetahui bahwa kantor imigrasi sudah berpindah ke kota kembang.
Du du du du…
Jadi teman-teman, kalau berniat untuk membuat paspor atau memperpanjang paspor di kota Depok, silahkan ke kantor imigrasi yang alamatnya ada di Jl. Boulevard Grand Depok City di Kota Kembang - Depok. Kantornya berada di lingkungan perkantoran DPRD Depok, persis di seberang kantor Pengadilan Agama Depok.
Mengurus paspor di Kanim Depok ini masih menyenangkan karena antrian tidak terlalu ramai. Petugasnya juga ramah-ramah. Butuh waktu 3 hari untuk menunggu dari proses penyerahan dokumen-dokumen persyaratan untuk sampai di tahap wawancara dan pengambilan foto. Dari pengambilan foto dan wawancara sampai paspor jadi juga cuma butuh waktu 5 hari kerja.
So… we’re ready to travel around the globe now ![]()
glory glory Manchester United
May 23rd, 2011
Malam ini saya merasa biasa saja menonton kemenangan Manchester United (MU) atas sebuah perhelatan berjudul Liga Primer. Karena saya bukan penggemar MU dan di atas itu semua, saya bahkan sama sekali bukan penggemar sepak bola. Saya menonton sepak bola belakangan ini, karena saya sedang dekat dengan orang yang berhasil memaksa saya menemaninya menonton setiap laga MU.
Tapi malam ini, melihat seluruh kru yang terlibat membangun MU menjadi sebuah tim hebat berdiri di tengah lapangan, menyaksikan satu per satu manusia-manusia berseragam merah dengan senyum bahagia, melihat wajah datar Van der Saar ketika berpamitan, karena dia tak mampu menahan laju usia, menyaksikan angka 19 sebagai lambang berapa kali MU sudah menjuarai Liga tersebut, membuat saya tidak kuasa untuk ikut terharu.
Lebih dari kemenangan-kemenangan yang pernah diraih oleh MU, saya lebih merasa disentuh dengan keras oleh orang-orang yang mendapat kehormatan membawa piala ke tengah lapangan. Seorang laki-laki berseragam tentara dengan dua kaki yang sudah diganti logam, mata tertutup satu, beberapa bekas luka lain di wajahnya, seorang lagi di sebelahnya berjalan tidak setegap tentara pada umumnya. Saya curiga dia juga memiliki salah satu kaki yang sudah diganti. Ya, mereka adalah korban-korban perang yang hari itu mendapatkan penghormatan dengan membawakan piala kemenangan untuk juara Liga Primer tahun ini. Saya menelan ludah.
Boleh dong, kalau saya bermimpi suatu saat negeri ini memiliki hal-hal indah dari peristiwa yang saya saksikan malam ini di televisi?
- Sebuah tim - tidak hanya sepak bola - yang solid dan jujur dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
- Sebuah penghormatan terhadap mereka yang berjasa pada bangsanya. Maaf OOT, saya jadi ingat penghargaan yang diberikan oleh RCTI pada Taufik Kemas sebagai wakil rakyat tahun ini. Oh… kalau dibandingkan dengan Jusuf Kalla dan kandidat-kandidat lainnya, saya rasa pak Taufik masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya. Anyway…
- Sebuah loyalitas. Saya ingat Ryan Giggs sudah bermain di MU sejak saya belum boleh nonton bola karena terlalu malam acaranya.
Saya rindu itu semua. Karena ketika saya menengok kembali ke negeri saya. Saya merasa masih jauh dari itu semua. Saya jadi berdo’a semoga ponakan saya yang minta dibelikan seragam MU abal-abal beberapa hari lalu, akan menjadi pemain bola yang tangguh dan orang yang jujur suatu saat kelak.Gambar dari sini
satu abad perjuangan perempuan
March 10th, 2011
Tanggal 8 Maret lalu kita memperingati hari perempuan sedunia. Ada apa dengan satu abad peringatan hari perempuan dalam hidup saya? Saya melakukan rutin saja, dan menulis renungan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman bahwa sesungguhnya kita masih terus menghadapi masalah-masalah yang belum ditemukan penyelesaiannya. Memang kondisi perempuan saat ini jika dibandingkan dengan 100 tahun yang lalu jelas berbeda. Banyak hal yang sudah dicapai dalam sejarah perjuangan perempuan. Tapi bahwa kita belum selesai mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan, hak asasi perempuan, terutama masalah kesehatan, dan khususnya HIV.

Sampai detik ini perempuan masih memiliki resiko besar terpapar HIV. Dan menurut WHO, angka kematian tertinggi untuk perempuan usia 15 - 44 tahun adalah karena HIV. Faktor biologis, kurangnya akses informasi & layanan kesehatan, masalah ekonomi, ketimpangan kuasa relasi antara laki-laki dan perempuan membuat perempuan semakin beresiko terpapar HIV.
Menurut PlusNews, ada 5 cara untuk mengurangi resiko terpapar HIV untuk perempuan.
- Pendidikan, menurut UNAIDS, perempuan yang buta huruf 4 kali lebih percaya bahwa tidak ada cara untuk mencegah penularan HIV, sementara data membuktikan bahwa perempuan di Afrika dan Amerika Latin yang mengenyam pendidikan lebih tinggi, memiliki kecenderungan untuk menunda hubungan seks pertama mereka, dan mempunyai kemampuan untuk memaksa pasangannya memakai kondom. Read the rest of this entry »













