Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana.

Semua acara batal, diundur sampai jangka waktu yang tidak dapat ditentukan, atau diubah menjadi acara online. Toh rupanya bisa. Bahkan acara sebesar konverensi HIV yang setiap tahun selalu digelar megah berpindah-pindah dari satu kota ke yang lainnyapun, sekarang sudah mengumkan berubah format menjadi konverensi online, padahal baru akan kejadian Juli nanti di San Fransisco.

Apa kira-kira pesan yang ingin disampaikan di balik kehadiran virus ini? Beberapa hari saya mencoba menggunakan otak kanan saya untuk memikirkan jawabannya. Tapi lagi-lagi kepala saya malah berisi otak sutradara Avengers, Contagion dan Inferno. Kode keras buat XXI, Cinepolis dan CGV ini mah.

Ok, saya mau sok pintar dikit. Yang jelas sekarang ini kita sedang disuruh beristirahat oleh semesta, duduk diam di rumah, bertapa dan merenung di antara kesibukan yang bisa dikerjakan di rumah, lalu nanti pada saatnya sudah bisa keluar dari rumah lagi, yang bertahan akan menjadi manusia-manusia baru yang lebih baik.

Mungkin.

Sekarang mari kita bayangkan berapa banyak hal yang sudah terdampak baik dari masa-masa di rumah aja ini.

Hemat energi – coba cek ke luar rumah, kalau kamu punya kendaraan pribadi, kapan terakhir isi bensin? Kalau seperti saya yang punyanya sepeda kayuh, app ojek online saya terakhir kali bertransaksi di tanggal 16 Maret. Whooaa… hampir 2 minggu.

Terus gedung-gedung bertingkat yang biasanya menghabiskan puluhan ribu watt untuk pendingin ruangan, selama masa WFH ini juga pasti mematikannya.

Saya sedang menanti postingan dari Earth Hour tim mengenai berapa banyak energi yang dihemat selama orang-orang bekerja di dalam rumah masing-masing ini. Saya membaca beberapa literatur dari hasil penelitian di negara-negara maju yang kebanyakan terletak di negara empat musim, ternyata tidak sesederhana itu. Betul. Karena umumnya di musim dingin listrik dinyalakan untuk pemanas. Untuk kita yang tinggal di Indonesia dan masih punya kemewahan untuk buka jendela lebar-lebar atau ngeluarin semua kipas suvenir kawinan buat kipas-kipas muka, bisa lah ya kita hemat energi nggak perlu nyalain AC di rumah.

Hemat jajan di luar – pada dasarnya saya sudah selalu membawa makanan dari rumah sejak dua tahun lalu, semenjak Ibuk bergabung di rumah. Tapi buat teman-teman yang tadinya tidak punya kemewahan seperti saya, tiap makan siang harus jajan, lumayan kan sekarang? Makan tiga kali sehari pakai lauk sama semua, nikmati aja lah. Masih banyak orang di luar rumah kita yang mau makan aja bingung, lho.

Nah kalau ini jelas bukan hasil karya saya, ini karya agung Maimuna, ibuk kecintaan saya

Menekuni hobi – ini tidak berlaku buat yang hobinya olah raga luar ruang dan hangout ya.. ini berlaku buat yang hobi bikin rajutan, masak, nulis, melukis, baca buku, hobi-hobi di dalam rumah lain, termasuk rebahan. Enjoy your victory buddies! Eh, yang hobinya beramal juga saatnya beraksi sekarang lah. Banyak channel yang memberikan ruang kita buat membantu sesama dari rumah saja. Pastikan saldo di rekeningmu aman ya.

Waktunya menjalankan bisnis online – nah, buat kamu yang dari tahun alip cita-citanya punya bisnis sendiri sambil kerja, sekarang saatnya untuk mewujudkan mimpimu. Aku kasih bocoran aja ya, rental mainan Gogotoys kebanggan saya kelarisan banget. Ini juga terjadi di rental mainan lain. Banyak juga yang punya bisnis rumahan yang jad laris lho sekarang ini. Kamu nggak mau ikutan?

Dekat dengan keluarga – iya iya iya, saya tahu, ada yang malah perang Barata Yudha sama pasangan, anak atau anggota keluarga lain di rumah selama WFH, tapi oh… percayalah itu hanya selama masa penyesuaian. Bukannya ini yang kita rindukan waktu berdesakan di kendaraan umum menuju dan pulang dari tempat kerja?

Kalau nanti sampai satu bulan di rumah aja dan masih terus terjadi perang, maka sudah saatnya kamu belanja online dan mengganti semua perabot rumah dengan yang plastik ya. Hehe.. kidding Eh, buat para orang tua yang kemarin-kemarin mengeluh di rumah jadi lebih repot atau sibuk dibanding kerja kantoran, hey.. kamu tidak sendirian kok. Percayalah ini juga kesempatan kita buat mengganti waktu yang hilang sama anak. Coba hitung, berapa banyak waktu kita kerja di kantor, atau bahkan keluar kota kalau lagi ada tugas gitu dan nggak kita habiskan sama anak?

Semangat ya kita!

Anggap saja semua hal yang memberatkan saat ini adalah bayaran kita sama bumi. Oksigen, air bersih, langit biru, semua gratis kan kemarin-kemarin?

Nanti kalau kita selamat dari virus ini dan segala akibat buruk yang dibawanya, kita bilang sama anak-anak dan cucu kalau kita survive dari zombie appocalypse 2020, ok?

← Bajuku Identitasku
Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Ini jadi kayak globat reset gitu ya, Mbak. Semesta kayak ngasih kita kesempatan berefleksi soal kemanusiaan kita dan bagaimana relasi kita sama alam. Mungkin bakal ada major shift juga, misalnya soal geopolitik. Spanyol yang sekarang lagi riweuh mungkin bakal beda. Orang-orang Basque, Catalan, dan Aragon mungkin… ah, entahlah.

    Saya jadi inget film The Day after Tomorrow. Pas badai berakhir dan manusia-manusia yang selamat keluar dari persembunyian, bumi jadi tampak biru dari luar angkasa. Terus astronot di ISS bilang, kalau nggak salah, “I’ve never seen the sky so clear.” 😀

  2. Iya menurutku juga gitu mas. Ini macam Thanos atau Contagion gitu. Saya percaya semesta ini punya mekanisme untuk mempertahankan keseimbangannya kok. Jadi mari kita nikmati saja proses ini.
    Nuwun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →