Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo atau Semarang saya lupa tepatnya, itupun sekitar 10 tahun lalu dan menyaksikan betapa dunia langsung bergetar dan teriakan-teriakan histeris penuh kekaguman menggema di ruangan.

Foto diunduh dari Jatimtimes.com

Iya, beliau punya karisma untuk menciptakan aura seperti itu bahkan jauh sebelum komunitas Sobat Ambyar lahir. Sebagai orang Jawa saya termasuk yang dibesarkan oleh lagu-lagu macam yang mas Didi nyanyikan. Dari lagu-lagunyalah saya mengenal dia.

Dulu kalau mendengar lagu-lagunya Didi Kempot saya suka sebel. “Apa sih, mellow banget.” Atau, “Duh, nggak segitunya kali ah.” Atau kadang juga terkekeh, “Sial, bener juga dia.” Sambil terbahak-bahak. Meskipun demikian Stasiun Balapan, Sewu Kutho adalah lagu-lagu yang menghiasi ruang-ruang karaoke saya dan sahabat-sahabat.

Beberapa waktu lalu di Solo sempat ngajak ngobrol mas Blonthank Poer, yang kurang lebih isinya ngajakin bikin Sobat Ambyar ini jadi komunitas yang menguatkan laki-laki supaya mau curhat, supaya bebannya nggak ditanggung sendiri, supaya nggak stres dan melampiaskan ke cara yang salah, termasuk diantaranya menjadi pelaku kekerasan di rumah.

Belum kejadian apa yang saya obrolkan sama mas Blontank, sang Godfather Patah Hati sudah lebih dulu mematahkan hati kita semua.

Tapi dari Didi Kempot saya belajar dua hal besar. Pertama it’s ok to be sad. Kedua, it’s ok to have some rest.

Sepanjang pagi ini TV saya menyala dan terus menyaksikan breaking news tentang kematian sang maestro. Saya rela, padahal biasanya TV tidak menyala selama kami bekerja di rumah. Kali ini, saya ingin tahu apa yang terjadi di luar sana, dan kebetulan berita sedih ini yang saya terima, ya tidak apa-apa.

Di dalam beberapa wawancara dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, hampir semua menceritakan warna cerita yang sama. Beliau adalah orang yang ramah, beliau tidak kenal lelah. Terkadang sampai 30 kali show dalam sebulan. Beliau tidak pernah menanyakan fee yang akan diterima, beliau bahkan sudah berhasil mengumpulkan 7 milyar untuk disumbangkan pada masa pandemi covid ini. Disampaikan kalau Didi Kempot meninggal karena serangan jantung, tetapi ada juga yang berkomentar karena mungkin dia kelelahan.

Banyak hal bagus yang dilakukannya dan saya jadi bertanya-tanya, dia punya waktu untuk dirinya sendiri nggak ya?

Beberapa tahun belakangan ini mas Didi sudah membukakan mata banyak orang dengan komunitas Sobat Ambyarnya, yang menurut saya adalah sebuah gerakan brilian. Sedih itu manusiawi kok. Patah hati itu biasa. Jadi mari kita terima perasaan-perasaan yang dulunya untuk sebagian orang dihindari, ditutupi dan ditolak itu.

Patah hati ya nggak papa, tinggal responnya seperti apa? Kalau mas Didi responnya, patah hati – dijogetin. Setuju banget, kalau dengan berjoget bisa mengurangi sakitnya, bagus kan itu? Kalau nggak berhasil juga, ya setelah itu cari solusinya.

Gambar dari Kompastv.com

Lalu hari ini saya belajar hal besar lain dari Didi Kempot. It’s ok to have some rest. Nggak akan lari dunia dikejar. Besok akan ada kerjaan baru lagi, deadline lagi, tagihan lagi, beban hidup lain lagi. Tapi ingat, besok juga ada gajian lagi, bonus lagi, THR lagi, dan matahari masih akan terbit di sebelah Timur sana.

Kita memang akan mati dan tidak tahu kapan. Mengejar mimpi adalah baik, karena tidak ada orang lain yang akan menyelesaikan mimpi kita tepat seperti kita sendiri yang melakukannya. Tetapi beristirahat sejenak dan menikmati yang sudah kita capai adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Kalau nggak, selamanya kita akan selalu merasa belum mendapatkan apa-apa. Dan perasaan seperti itu terhadap diri sendiri, adalah jahat.

Matur nuwun ma Lord, Didi Kempot. Sugeng tindak. Kami patah hati, tapi seperti petuahmu, kami akan terus berjoget dan bernyanyi.

← Dipaksa Bertapa sama Corona

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Setiap kali denger Sewu Kutho dan Stasiun Balapan, saya jadi ingat masa-masa nongkrong di sekret mapala Fakultas sama senior-senior angkatan Majapahit, Mbak. Kalau main gitar, meskipun mulai dari lagu-lagu ndakik, ujung-ujungnya pasti nyanyiin lagu-lagu humble-nya Didi Kempot, seperti Sewu Kutho dan Stasiun Balapan itu.

    Kalau lagi naik bus dari Jogja ke Surabaya atau sebaliknya, di dalam kabin Sumber Kencono ya kemungkinan besar yang kedengeran lagu Didi Kempot, entah yang Lord Didi nyanyikan sendiri atau yang dibawakan orang lain.

    Semoga sobat ambyar sekalian tabah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →