Kantor Imigrasi Depok

Internet adalah salah satu senjata sekaligus kamus saya belakangan ini. So does every body else mungkin ya. Seperti misalnya ketika saya berusaha menemukan letak kantor imigrasi di kota Depok bulan yang lalu.

Dari beberapa blog yang saya kunjungi, saya menemukan alamat kantor imigrasi depok. Ada yang bilang di dekat kantor walikota, ada yang di Jl. Dahlia, ada juga yang dekat kantor walikota atau di dekat BNI Depok. Baiklah, ketika alamat yang saya temukan di internet itu tidak terlalu berjauhan satu sama lain, maka saya bersepakat dengan teman untuk naik angkot dari arah Margonda. Tetapi alhasil, saya sampai naik angkot 3 kali dan tidak menemukan kantor imigrasi di dekat-dekat ketiga lokasi tersebut, sampai akhirnya saya menanyakan pada seorang petugas keamanan kantor walikota dan mengetahui bahwa kantor imigrasi sudah berpindah ke kota kembang.

Du du du du…

Jadi teman-teman, kalau berniat untuk membuat paspor atau memperpanjang paspor di kota Depok, silahkan ke kantor imigrasi yang alamatnya ada di Jl. Boulevard Grand Depok City di Kota Kembang – Depok. Kantornya berada di lingkungan perkantoran DPRD Depok, persis di seberang kantor Pengadilan Agama Depok.

Mengurus paspor di Kanim Depok ini masih menyenangkan karena antrian tidak terlalu ramai. Petugasnya juga ramah-ramah. Butuh waktu 3 hari untuk menunggu dari proses penyerahan dokumen-dokumen persyaratan untuk sampai di tahap wawancara dan pengambilan foto. Dari pengambilan foto dan wawancara sampai paspor jadi juga cuma butuh waktu 5 hari kerja.

So… we’re ready to travel around the globe now 🙂

← glory glory Manchester United
kemana kemana kemana? →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →