Kenapa Harus Bule? Kenapa Enggak?

“Kenapa harus bule sih?”
Kamu suka nyinyir gini juga nggak kalau lihat perempuan yang pacaran sama bule? Saya sih iya. Dulu. Padahal sahabat-sahabat saya yang pacar atau suaminya bule nggak sedikit loh. Tapi again saya mau bikin self defense di awal ya. Itu dulu. Kalau sampai sekarang saya masih nyinyir, maka saya sesederhana tinggal ngaca. Hahaha…
Menonton Kenapa Harus Bule (KHB) ini butuh perjuangan. Satu karena nggak diputar di bioskop-bioskop terdekat kesayangan saya. Jadi saya harus extra effort untuk bisa nonton sebelum film ini turun dari peredaran. Kedua karena saya takut jangan-jangan ini film nyindir-nyinyir ke perempuan Indonesia yang lebih memilih bule dibanding orang Indonesia. Tapi setelah melalui dua perjuangan itu dan saya lolos, maka di sanalah saya. Nonton bertiga dengan teman-teman terbaik, dan alhasil, kami keluar dengan cengiran dari kuping ke kuping.
Ini film kocak banget. Seger. Segernya karena saya merasa disuguhkan pada dunia yang beneran ada. Orang-orang yang bermain di dalamnya bukan wajah pasaran yang bisa ditonton di film-film atau sinetron lain di negeri ini. Semuanya mungkin baru pertama kali saya lihat. Tokoh-tokoh utamanya seperti Pipin, itu mewakili banget sebagai image perempuan yang pacaran sama bule. Kulit coklat, rambut panjang, dandan penuh, pake baju seksi-seksi. Well, nggak semua seperti ini loh ya, tapi itulah image muncul tentang pacar-pacar bule. Lalu sahabat Pipin yang gay, Aiii maaakkk… itu remind me of my kencurs body… You guys are owsem, cyuurrr… Miss you much
Selesai nonton KHB minggu lalu, saya jadi ingat percakapan teman saya dengan salah satu gebetannya. Oh, teman saya adalah bule btw. Si teman, sebut saja namanya P. Dia lagi ngegebet perempuan Indonesia. Terus dia iseng tanya, “Kenapa kamu cuma swipe right di Tinder sama yang bule-bule?” Dan jawaban mbak itu bikin mata saya melotot kemudian ngakak. Nih, saya bikin list-nya aja ya:
1. Untuk dapat ATM berjalan
2. Untuk dapat keturunan Indo yang imut
3. Untuk dapat ‘itu’ yang gede
Wow… Hahahaha
Jawaban yang jujur sekaligus menyentil ya. Pertama, emang semua bule kaya? Please deh. Film KHB ini mewakili concern saya juga. Salah satu tokoh bule yang sucks di sini babar blas nggak kaya. Jajan minta dibayarin, bensin minta dibeliin, dan ini mematahkan wish list mbak itu dong ya, kalau cita-citanya dapat pacar bule adalah di poin pertama.
Poin kedua. Well… beneran pacaran sama mereka demi dapat keturunan Indo aja? Duh, ya nggak papa sih. Tapi look back in the mirror deh. Emang sejelek itu ya orang Indonesia. We are pretty, you know. Bule-bule yang saya kenal selalu iri sama kulit kita yang coklat. Saya selalu dikira setidaknya 5 – 10 tahun lebih muda dari usia saya yang sebenarnya karena kulit orang Indonesia nggak gampang keriput dibanding mereka. Tapi kalau namanya cita-cita ya mau apa juga lah ya… Poin kedua ini, saya fully respect.
Ketiga. Saya menuliskan kata ‘itu’ untuk mengantisipasi tulisan ini dibaca oleh yang belum lolos kategori usia dewasa. Girls… seriously? Udah pernah baca jurnal ilmiah tentang ukuran ‘itu’ belum? Saya sih belum ya. No need to lah. Saya cukup mendengar cerita-cerita seru dari sahabat-sahabat saya yang berpacaran dengan bule. Dan… sebelum kamu kecewa ketika sampai di bagian ‘itu’ dan nggak bisa kabur lagi dari kenyataan. Trust me, the myth is a true. Nggak mentang-mentang badannya lebih gede dari ukuran badan orang Indonesia kebanyakan, maka ‘itu’nya juga jadi lebih gede. And then, does size really matter? Kalau kata Ayu Utami, ukuran nggak penting. Yang penting bisa salto di dalam. Ouch!

Di dalam film KHB Pipin bilang kalau dia nggak mau punya pacar orang Indonesia karena mereka mostly nyari istri yang kriterianya kayak pembantu. Well, this doesn’t apply to every Indonesian guy sih. Ada juga kok yang udah paham equality. Dan jangan salah. Nggak sedikit juga bule atau orang asing lain, yang justru mencari perempuan Indonesia dengan alasan serupa. Penurut, diapa-apain mau. Hell no! Please hindari racun-racun serangga macam ini ya. Cih cih cih!
In my case, ada teman saya yang nggak pernah suka sama mas-mas berkulit putih sampai beberapa saat belakangan ini. Teman saya ini juga sibuk, jadi nggak sempat cari pacar selain di Tinder dan situs kencan lainnya. Nah, Selama 2 tahun pertama beredar di situs kencan, dia hanya swipe right ke cowok Indonesia yang berada di radius dalam jangkauan dan memiliki pekerjaan setidaknya setara sama dia. Tapi ketika sudah ketemu match, lalu ngobrol, obrolannya membuat teman saya lelah. Yang ditanya kalau nggak masalah agama, nyuruh pake jilbab, atau yang paling ngeselin, di awal-awal langsung kirim gambar ‘itu’, atau minta dikirimin gambar seksi teman saya itu.
Dia sangat lelah, sign off dari situs kencan itu selama dua tahunan, lalu baru mulai lagi tahun lalu. Dan di tahun lalu itulah dia membuat revolusi besar-besaran. Swipe right hanya pada mas-mas bule. Hahaha… Dan di sinilah petualangan menjadi dekat dengan mas-mas bule dimulainya.
Di dalam salah satu wawancara tidak resmi saya dengan teman saya ini. Dia bilang, ini bukan tentang bule atau bukan bule. Ini tentang hati. Kalau nggak reseup, nggak nyantol di hati, nggak nyambung omongannya, mau apapun rasnya, ya nggak masuk aja. Tapi kalau cucok, apapun rasnya ya jleb aja rasanya. “Dalem, Ciiin.” Gitu kata dia.
Saya manggut-manggut dan di sinilah saya merasa KHB itu cukup mewakili. Pipin yang berpikir akan mendapatkan kriteria pasangan idamannya di mas-mas bule, jadi lupa melihat sekeliling dan terlewatkan, bahwa pasangan yang diinginkan dan dibutuhkannya sudah ada di dekatnya selama ini.
Kamu yang sedang mencari pasangan, sebelum jauh-jauh ke semut di seberang. Coba buka dulu matanya. Mana tahu ada gajah di pelupuk yang siap diajak menari. Cus…

*gambar diambil dari www.21cineplex.com

← The Shape of Water, Film Cinta Anti Mainstream
Arini, Kamu Harus Belajar untuk Lebih Melindungi Diri →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Beliebte Spielstrategien im Glücksspiel Ein Leitfaden von Superbet Deutschland

Beliebte Spielstrategien im Glücksspiel Ein Leitfaden von Superbet Deutschland Einführung in die Welt des Glücksspiels Superbet Deutschland Das Glücksspiel hat eine lange und faszinierende Geschichte, die sich über Jahrhunderte erstreckt. In der modernen Welt ist es nicht nur eine Form der Unterhaltung, sondern auch eine Möglichkeit, Geld zu gewinnen. Die...

Read More →

Prominente Spieler Wer sind die größten Glücksspielexperten

Prominente Spieler Wer sind die größten Glücksspielexperten Einleitung in die Welt der Glücksspielexperten Glücksspiele haben seit jeher die Menschen fasziniert. In Casinos, ob online oder offline, finden sich viele Spieler, die nicht nur aus Spaß spielen, sondern auch mit dem Ziel, ihre Fähigkeiten zu perfektionieren. Unter den Spielern gibt es...

Read More →

Fantasy Sports Take Center Stage: Transforming the Casino Experience

Fantasy Sports Take Center Stage: Transforming the Casino Experience In recent years, fantasy sports have surged in popularity, evolving from a niche hobby into a mainstream phenomenon that now occupies a pivotal role within the broader casino landscape. With millions of players participating in leagues and tournaments, fantasy sports have...

Read More →

Unlocking Excitement: Discover the Benefits of Non Gamstop Casinos

Unlocking Excitement: Discover the Benefits of Non Gamstop Casinos If you're looking for an exhilarating online gaming experience, non Gamstop casinos offer a unique alternative to traditional platforms. 1. Understanding Non Gamstop Casinos Non Gamstop casinos are online gaming sites that do not participate in the Gamstop self-exclusion program. This...

Read More →

How Augmented Reality Is Transforming the Casino Slot Experience

How Augmented Reality Is Transforming the Casino Slot Experience In recent years, technology has been reshaping various industries, and the casino sector is no exception. Among the innovations making waves, Augmented Reality (AR) stands out for its potential to enhance player engagement and transform the gaming experience. This article explores...

Read More →

How Augmented Reality Is Transforming the Casino Slot Experience

How Augmented Reality Is Transforming the Casino Slot Experience In recent years, technology has been reshaping various industries, and the casino sector is no exception. Among the innovations making waves, Augmented Reality (AR) stands out for its potential to enhance player engagement and transform the gaming experience. This article explores...

Read More →