Slow Food
January 31st, 2010
Sadar nggak, bahwa saat ini kita sudah dituntun untuk hidup dalam budaya cepat? Dandan sambil makan, ngetik sambil nerima telpon, ngobrol sama teman di cafe sambil twitteran sama entah siapa, main game di kantor sambil dengerin orang ngomong di meeting, bahkan yang paling parah, naik motor sambil SMS-an. Ah, so…
Kenapa semua itu terjadi? Karena kayaknya 24 jam udah nggak cukup lagi buat kita. Bahkan kalau 24 jam itu kita pakai tanpa tidurpun, rasanya masih kurang. Ada aja yang mesti dikerjakan, semuanya berkejaran. Sehingga muncullah fast lifestyle. Dimana para ibu tidak lagi sempat memasakkan anak-anaknya sayur bayem dan sop cakar, dimana resto cepat saji menjadi tujuan makan siang, pagi dan malam, dimana setiap lemari pendingin di rumah menyediakan sosis dan nugget. Semua yang serba cepat menjadi solusi. Instant generation katanya.

Tapi, pernah terbayang nggak, apa saja kandungan gizi yang ada di makanan cepat saji itu? Bagaimana produsen memastikan kehigienisannya pernahkah menjadi pemikiran? Saya dulu tidak. Tapi belakangan gaya. Suka mikir-mikir aja sendiri. Kok ya, saya tega memasukkan makanan ke dalam mulut saya, tanpa saya tahu asalnya. Fiuh… Apalagi setelah saya ketemu dengan teman-teman hebat di Jogja, prof. Mur, mbak Ambar, mas Deka, cs, yang memperkenalkan dan mengajak saya bergabung dengan komunitas slow food. Read the rest of this entry »
HIV Test
January 26th, 2010
Minggu lalu saya berhasil mengajak sahabat-sahabat saya untuk tour de Hospital untuk mendapatkan HIV Test. Jam setengah 3 sore kami datang ke RS Sarjito. Well, sebenarnya kami sudah siap membawa ’sangu’ di kepala kami tentang rumah sakit pemerintah. Label lambat, hening dan kumuh sudah tertempel di kepala kami. Maafkan… tapi, memang seperti itu rasanya yang terbayang di kepala kami pertama kali mendengar nama Rumah Sakit Pemerintah. Iya kan? Ngaku aja!
Nah, begini nih, perbincangan kami dengan ibu resepsionis.
- Dian: Sore bu, untuk VCT dimana ya?
- Ibu itu: VCT untuk apa ya?
- Dian: (dalam hati) emang ada berapa VCT? (diucapkan) VCT untuk test HIV mungkin, bu…
- Ibu itu: Oh… VCT di ruang edelweiss mbak. Tapi udah tutup. Cuma sampai jam 12 siang. Datang aja lagi besok. Tapi kalo besok cuma sampai jam 11.
- Dian: Ooooo… (Beneran kagum) Emang buka dari jam berapa bu?
- Ibu itu: Jam 8.
- Dian: Oooo… Terima kasih bu.

Lalu kepala saya benjol karena dijitakin tiga sahabat saya. Mereka yang sudah meluangkan waktu dan tentu saja nyali untuk melakukan VCT, semangatnya langsung dipadamkan dengan fakta VCT yang buka cuma setengah hari. “Tulis di surat pembaca nggak!!” Kata mereka. Hihi… saya ketawa aja. Mereka cuma membuat semangat saya jatuh saja, itu adalah ekspresi cinta mereka pada saya. Saya tahu pasti itu. Karena buktinya, waktu saya arahkan ke Panti Rapih, mereka bertiga langsung mengangguk setuju tanpa perlawanan. Tentu saja setelah perut mereka diisi masing-masing 4 potong pisang goreng seberang Sarjito dan teh manis di sana.
Saya langsung terbayang bahwa kejadian semacam ini bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. masih bagus teman-teman saya tetap bersemangat untuk test. Kebayang aja kalau orang sudah disuruh test ogah-ogahan entah karena takut entah karena malas entah karena nggak peduli, eh… giliran sampe di tempatnya, ternyata sudah tutup pula tempatnya. Untuk balik lagi dijamin nggak sebersemangat sebelumnya. Fiuh… Read the rest of this entry »
fatwa haram rebonding
January 21st, 2010
Pertama-tama saya ucapkan puji syukur yang tiada terkira kepada Allah yang maha kuasa, karena saya dikaruniai rambut lurus, kulit putih dan hidung mancung. Pernah nggak, anda mendengar ucapan seperti itu keluar dari seorang Putri dunia, Indonesia, Jawa Tengah, atau bahkan Putri daerah antah berantah? Seharusnya ucapan ini terlontar dari mulut mereka. Karena kalau tidak, maka mungkin para putri cantik ini sudah masuk dalam kategori melakukan tindakan haram.
Beberapa waktu belakangan ini, ketika kasus Century mulai membosankan dan keriting, ada angin segar berupa fatwa haram rebonding rambut dan foto pre-wedding. Wuah… apa lagi ini? Saya gembira sekali melihat perkembangan berita yang tidak monoton lagi. Mulai dipanggillah para fotografer dan pemuka agama ke layar kaca. Berdebat sana-sini yang akhirnya membuat sang fotografer bilang: Ya udah deh… mulai sekarang saya akan mengarahkan klien saya untuk tidak foto berdekatan lagi. Yang saya belum lihat, adalah komentar putus asa para pengusaha salon nih…

Lalu apa kabar dengan foto-foto yang ada di kolom-kolom majalah yang menunjukan kemesraan pasangan suami istri yang diperagakan oleh model? Sebentar lagi akan ada fatwa haram untuk ini pastinya. Lalu kalau semua perempuan bosan dengan rambut lurus, lalu model keriting menjadi sexy lagi, lalu ada fatwa haram mengeriting rambut. Begitu terus tanpa henti. Awh… melelahkan sekali. Read the rest of this entry »
Dituduh HIV, Diasingkan di Kandang Sapi
January 12th, 2010
Tanggal 9 Januari lalu, di tengah Sabtu saya yang tenang, saya menonton berita di Global TV tentang seorang laki-laki di Blitar yang diasingkan oleh keluarganya di kandang sapi. Dia tidak diijinkan masuk rumah dan bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain. Tidur, makan dan semua kegiatan dilakukan di kandang sapi. Apa gerangan yang menyebabkan laki-laki tersebut mengalami perlakuan sedemikian? Rupanya si bapak tersebut dituduh mengidap HIV, karena menderita TBC selama 6 bulan dan tidak sembuh-sembuh.

Saya mengelus dada. Kok masih ada perlakuan yang mendiskriminasi semacam ini? Lalu apa kabar kampanye yang sudah dilakukan sedemikian rupa. Apakah tidak sampai ke telinga mereka, orang-orang yang memutuskan untuk mengasingkan anggota keluarga, tetangga, dan warga desa mereka, kalau mendapati orang tersebut terinfeksi suatu penyakit? HIV atau apapun lah. Apalagi ini masih tuduhan. Si korban belum lagi mengikuti tes untuk mengecek status HIV-nya, apakah benar positif atau tidak. Read the rest of this entry »
sexy underwear adalah sebuah investasi
January 8th, 2010
Wah, sebuah judul yang agak kurang sesuai dengan hati nurani saya belakangan ini, yang terakhir kali membeli underwear sexy adalah 15 tahun yang lalu. Saya masih 18 tahun waktu itu. Mmmppphhh… Umur 18 tahun adalah umur yang paling sexy menurut saya. Dan itulah kenapa saya selalu memberi ucapan ulang tahun pada teman-teman dekat saya dengan:
You’re not x (merujuk angka ulang tahun sesungguhnya), you’re 18 with x years of experience. x yang kedua ini adalah sisa umurnya setelah dikurangi angka 18.
Dan kembali ke masalah sexy underwear tadi. Saya kemarin mendapatkan kiriman foto di facebook dengan judul serupa judul tulisan ini. Gambarnya adalah seperti ini:

Maaf ya, saudara Dion, I really hope that that’s not your underwear. Cos if it is, I’d tell you something, that that’s not sexy at all. Not even close. Hihihi… Kidding, brader… Karena menurut saya sexy letaknya tetap di dalam kepala. Saya pernah tergila-gila pada orang yang menurut saya sexy, setelah ngobrol dengannya selama 2 jam tanpa henti. Saya beranggapan seorang aktor atau aktris sexy setelah melihat aktingnya di beberapa film. Javier Bardem itu sangat tidak tampan, tapi dia sexy. Karena kalau dia tidak sexy, dia tidak akan bisa tampak mempesona meskipun dalam keadaan lumpuh di salah satu filmnya. Rachel McAdams sangat sexy di film Sherlock Holmes. Karena dia menandingi kecerdasan tokoh utamanya. Dan saya yakin CD punya Dion tadi akan tampak jauh lebih sexy kalau sang empunya sudah menceritakan pada saya, tentang perjalanan dan perjuangan si CD orange itu. Read the rest of this entry »














