all we really want is big ‘o’

Pada suatu hari aku menemukan t-shirt yang bertuliskan seperti judul. All we really want is big ‘o’ atau semacamnyalah. Yang dimaksud big ‘o’ sudah pasti kita semua sepakat memahaminya sebagai orgasm. Iya kan?
So, here is the new vision of orgasm, by me, Dian Purnomo, yang baru saja membeli kaos yang seolah-olah mengatakan pada dunia bahwa perempuan cuma menghitung kepuasan hubungan seks dari dapat big O atau tidak.
Semalam, disaat RCTI muter film keren berjudul The League of Extraordinary Gentlemen, aku dan Fr3y membahas tentang ini. Emang bener gitu, yang diinginkan perempuan cuma itu? Hehe… gak juga sih sebenernya. Buat kami, eh, buat aku aja deh, karena ini belum diteliti dan dicobakan pada perempuan lain, baru Fr3y yang sepakat denganku, the big O itu nggak bisa dicapai hanya sekedar karena napsu, kejantanan, malam romantis, dan sebagainya. The real O is coming from the heart.
Pernah nggak, merasakan dicium kening, mata, tangan, atau pipinya sama orang yang kita cintai dan kita merasa seperti akan ada sesuatu yang meledak dari dada kita?
Well, that is the real orgasm for me now. Nggak harus making love – eh, namanya sudah kuganti dengan supporting love ya – dengan pasangan untuk mendapatkan orgasm. Jadi, kalo balik lagi ke judul awal kita, ya emang bener, all we really want is the big O. artinya adalah, cintai kami (para perempuan) dengan sepenuh hati. Maka setiap pertemuan akan menimbulkan O-O yang tidak terkira. Setiap sentuhan adalah bentuk lain dari supporting love. Dan kami, tidak akan melelahkanmu, memaksamu untuk minum jamu kuat.
Hehe.. peace!!
And this is the picture of us, me and Fr3y, in the middle of our conversation about my new t-shirt.

 

← spider web
2010 →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →