HEY YOU

Belakangan ini gak bisa nulis aja. Heran deh. Jadi tumpul dan have no idea. Akhirnya karena sadar bahwa ini tidak bisa didiamkan berlarut-larut, maka langsung nyari ide. Dan ide biasanya datang dari lagu. So here we go, Hey You from Madonna. Kayak gini nih, awal liriknya:
Hey you
Don’t you give up
It’s not so bad
There’s still a chance for us

Hiks… sudah langsung tahu kan, arahnya kemana? se-ma-ngat!! Terus pas didengerin lagi lebih jauh, ada kata-kata begini,

Save your soul little sister
Save your soul little brother
Hey You
Save yourself
Don’t rely on anyone else
First love yourself, then you can
Love someone else
If you can change someone else
Then you have saved someone else

Gitu dia.
Seru aja baca liriknya, save your soul. first love yourself, so Madonna. Dia kan orang yang terkenal sangat mencintai dirinya sendiri. Sampe orang yang gak paham sering menyebutnya what-so-called-trouble-maker. Padahal sebenernya I’m sure kalo itu semata-mata karena dia mencintai dirinya sendiri. Hehehe… Lagian, siapa coba yang mau cinta sama diri kita, kalo bukan kita sendiri?

Jadi mulai belajar mencintai diri sendiri ahhh..

← kembang goyang
facebok -> penutup →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. setuju sekali ama mba makdon ini..
    its inspiring simple words tp makna banget..
    cuma gitu deh Yan, kalo di gw jatuhnya narsis.
    hahahhahahha…
    jgn tumpul dong! payah nih.. semangat..semangat!!!

  2. Salam kenal mbak … tulisannya bagus-bagus banget n inspiratif 🙂
    Iya nih aku setuju … mending cintai diri sendiri dulu, lagian kalau mencintai orang lain … belum tentu cinta kita dibalas 🙁 ujung-ujungnya malah patah hati.
    Kalau kita mencintai diri sendiri … sapa tau orang lain juga ikutan mencitai kita he he he (ngarep 😀 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →