2010
January 31st, 2008
I call you faith. For passion, never ending love, unstoppable desire, and unfortunately, a hope that always floats. I listen to every word you whisper in my ear. That you will love me always. “You’re the one that I love most,” that’s what you told me. I believed that, but sometimes I feel that you feel the same way to, to her. I don’t know, you treat us the same way. Sometimes I got sick of it. But what can I do? I love you.
Read the rest of this entry »
all we really want is big ‘o’
January 25th, 2008
Pada suatu hari aku menemukan t-shirt yang bertuliskan seperti judul. All we really want is big ‘o’ atau semacamnyalah. Yang dimaksud big ‘o’ sudah pasti kita semua sepakat memahaminya sebagai orgasm. Iya kan?
So, here is the new vision of orgasm, by me, Dian Purnomo, yang baru saja membeli kaos yang seolah-olah mengatakan pada dunia bahwa perempuan cuma menghitung kepuasan hubungan seks dari dapat big O atau tidak. Read the rest of this entry »
spider web
January 24th, 2008
Di toilet
Kamu tahu nggak, ternyata Asri yang tiap pagi ketemu kita di lift itu bisa dipakai juga. Bisik Rini pada Juli di toilet kantor. Ternyata kantor di bawah kita memang sarang cewek-cewek begituan.
Lagi butuh duit kali. Walaupun berlagak cuek tapi Juli memperhatikan juga. Eh, tapi, masak sih? Siapa yang bilang?
Sumber yang bisa dipercaya.
Iya. Tapi siapa?
Masak kamu nggak percaya sama aku? Memangnya aku pernah bohong?
Read the rest of this entry »
sang pencari
January 24th, 2008
Kutemukan sudah apa yang kucari. Selebihnya jadi tidak berarti lagi.
Memandang ke arah kota tempatku dilahirkan seperti merasa lahir kembali dalam dimensi yang berbeda dengan derajat yang lebih tinggi. Sombongkah aku?
Mungkin aku hanya kelewat bangga setelah melalui perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Mendaki, menuruni, memanjat, meluncur, terjatuh. Seperti kehidupan yang kujalani saat ini. Read the rest of this entry »
jauh
January 24th, 2008
Jauh
“Berjalanlah… jarak tidak akan tertempuh tanpa kau jalani…”
Tinggi
“Mendakilah… karena ketinggian hanya bisa didaki.”
Dingin
“Sedekaplah… peluk dirimu sendiri.”
Licin
“Berpeganglah agar kau tidak tergelincir.”
Read the rest of this entry »
my favorite part
January 22nd, 2008
this is my #1 favorite part of life. love. i was born because of love, i live surrounded by love, of my parents, families, relatives, friends, brothers, sisters, and GOD. that’s why i fall in love easily *defensive mode on* i look at something and said, i my god, i love that tree, i just know someone and fell in love at 1st sight. but, didn’t we all? or it’s just me?
missing
January 22nd, 2008
I step off the train
I’m walking down your street again and past your door
But you don’t live there any more
It’s years since you’ve been there
But now you’ve disappeared somewhere like outer space
You’ve found some better place
And I miss you - like the deserts miss the rain
Could you be dead?
Read the rest of this entry »
saddest poem
January 21st, 2008
by: Pablo Neruda
I can write the saddest poem of all tonight.
Write, for instance: “The night is full of stars,
and the stars, blue, shiver in the distance.”
The night wind whirls in the sky and sings.
I can write the saddest poem of all tonight.
I loved her, and sometimes she loved me too.
kota bahagia
January 19th, 2008
Pernahkah kamu masuk ke kota bahagia? Kalau belum, sekarang kubantu kamu untuk membayangkannya. Pejamkan mata. Fokus pada sesuatu yang membahagiakan. Sesuatu seperti kelahiran, jatuh cinta, atau mendapatkan impian. Jangan buka mata sebelum seluruh inderamu merasa rileks dan setiap sentuhan dapat menciptakan getaran. Jangan merasa berada di dalamnya sebelum kamu dapat mengikhlaskan semua perasaan. Pikirkan apa saja sampai setiap kejadian bisa membuatmu tersenyum. Bukan tersenyum pahit atau sinis, tapi senyum yang diberikan oleh seorang bayi pada malaikat penjaganya.
Read the rest of this entry »
kosong
January 18th, 2008
It was all perfect. Was.
Yosi adalah laki-laki yang sempurna untukku. Sepuluh tahun lebih perbedaan usia kami tampak semakin melengkapi kesempurnaan ini.
Pesta itu. Pesta itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum di sudut bibirku. Bahkan sampai saat ini, setelah lima tahun berlalu dan seharusnya aku mengutuk perkawinan ini, aku masih saja mengenang musiknya, aroma berbagai makanan yang ada, siapa saja tamu yang datang. Semuanya. Pesta itu memang tidak layak disebut pesta sama sekali. Tidak ada gaun pengantin, bunga di sana-sini, gamelan megah, dekor meriah, dandan berlebihan dan aroma parfum pengunjung yang berbaur di sana. Read the rest of this entry »
