sang pencari

Kutemukan sudah apa yang kucari. Selebihnya jadi tidak berarti lagi.
Memandang ke arah kota tempatku dilahirkan seperti merasa lahir kembali dalam dimensi yang berbeda dengan derajat yang lebih tinggi. Sombongkah aku?
Mungkin aku hanya kelewat bangga setelah melalui perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Mendaki, menuruni, memanjat, meluncur, terjatuh. Seperti kehidupan yang kujalani saat ini. Terjal yang harus kuhadapi ketika berada di rumah, pertengkaran yang kulalui setiap hari dengan suami, jadi tidak berarti lagi ketika aku berada di puncak ini.
Suamiku, laki-laki tempatku berlari ketika tidak menemukan pijakan lagi. Sekarang dia ada di dalam ranselku. Meringkuk di dalam sana dengan kedua lutut menghadap wajahnya. Persis seperti seorang bayi di dalam perut ibunya. Tangannya memeluk kaki yang tertekuk. Jempolnya dihisap.
Lelaki yang sudah mengawiniku selama 10 tahun sekarang berada di dalam tas di punggungku. Membuat langkahku semakin terseok-seok. Tapi kalau tak kubawa dia, maka ranselku kosong. Tidak ada lagi yang bisa kubawa. Aku akan kelaparan dalam perjalanan, aku akan kehausan ketika pagi menjelang. Kedua anakku tidak kubawa. Mereka tidur di rumah. Meringkuk seperti bapaknya. Yang besar sudah bisa merawat dirinya sendiri dan membantu merawat si kecil dengan gaya sok dewasa.
Aku mengajarkan pada mereka cara mandiri dengan cepat agar kelak ketika aku pergi, mereka tidak kaget lagi. Karena aku tidak pernah tahu kapan aku akan pergi. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi tidak ada buruknya mempersiapkan diri.
Angin yang berhembus menimpa wajahku rasanya mengingatkan waktu membuka kulkas. Dingin dan beku. Tapi tidak ada bau mentega dan daging beku di sini. Bau tanah, embun, dan api dari pembakaran parafin. Kadang-kadang bersamaan dengan bau indomie tercium kalau angin berhembus ke arahku dari sekumpulan remaja yang ada di sisi lain puncak ini. Bau belerang 15 menit sekali tercium. Dan yang tidak pernah hilang adalah bau matahari. Matahari yang sama. Matahari yang itu-itu juga. Yang setiap hari menyinari rumah kami. Mungkin menyinari rumah kamu juga.
Ingin rasanya aku berhenti di sini. Tidak pulang lagi. Menjadi penghuni puncak ini, menemani Soe Hok Gie. Setiap hari mendengar ceritanya tentang perjuangan. Dia pasti bahagia mati muda. Mati yang tidak sia-sia. Perjuangannya membawa arti. Teriakanya dilanjutkan. Dia akan lebih berbahagia lagi karena dirinya diperankan oleh Nicolas Saputra di film Gie. Dia tidak pernah mati. Mungkin kalau aku berhenti di puncak ini, aku juga tidak akan mati. Tapi untuk apa aku berhenti di sini?
Suamiku menggeliat. Mungkin dia sudah bangun. Tapi sudahlah, dia bangun atau tetap tidur aku juga tidak peduli. Apa yang tidak dan dilakukannya bukan lagi sesuatu yang kupikirkan. Toh aku sudah menemukan puncakku. Aku sudah menemukan apa yang kucari. Dan tidakkah kamu akan berhenti ketika sudah mendapati apa yang kau cari? Atau kamu akan terus mencari-cari. Menemukan apa yang mungkin bisa kau dapatkan lagi? Kenapa manusia selalu mencari-cari? Apakah kita diciptakan dengan dua mata untuk keperluan itu? Untuk menjadi si pencari? Tidak bisakah kita puas dengan apa yang sudah kita miliki?
Aku jadi ingat lagu yang sering dinyanyikan anakku yang pertama;
Paman dari mana? Paman dari Betawi. Paman bawa apa? Paman bawa lemari. Kuncinya dimana? Kunci ada di Budi. Budi minta apa? (mungkin dia disogok agar mau menyerahkan kunci) Budi minta susu? Susu ada di sapi. Sapi minta rumput? Rumput ada di sawah. Sawah minta air? Air ada di gunung. Gunung minta api? Api ada di kompor. Kompor minta minyak? (sulit sekali untuk mendapatkannya saat ini) Minyak ada di warung. Warung minta uang? Uang ada di bank. Bank minta bunga? Bunga ada di taman. Taman minta patung? Patung ada di sini.
Lalu anakku dan teman-teman bermainnya diam. Berdiam seperti patung. Sampai salah satu tertawa atau berkedip atau menggerakan anggota tubuh lainnya dan dia jadi penjaga. Ini hanya masalah kekuatan. Siapa yang kuat bertahan dalam diam, dia akan memiliki kesempatan untuk bersembunyi. Lalu si penjaga menutup mata. Menghitung sampai angka yang disepakati. Yang lain berlari, bersembunyi. Hitungan selesai. Lalu si penjaga mencari-cari.
Mencari lagi? Setelah semua kebutuhan terpenuhi masih terus mencari? Sampai kapan akan berhenti? Sampai mati? Jangan bicara mati. Mati itu sudah titik. Final! Kamu pasti akan menjawab seperti itu. Mungkin itulah kenapa aku ingin tetap berada di sini. Di puncak Semeru agar tak pernah mati. Orang akan mengira aku menghilang. Tim SAR akan mencari. (mencari lagi kan?) Lalu kalau tidak ketemu anakku akan menganggap aku tetap ada di puncak ini. Suatu saat salah satu dari kedua anakku mungkin akan mendaki Semeru dan berusaha menemukan jejakku. Keluargaku akan berdoa untuk sebuah keajaiban. Kembalinya si hilang setelah sekian lama dicari. Aku tidak akan pernah mati.
Tapi kalau aku berhenti di sini, akan kuapakan suamiku ini? Aku tidak tahu. Aku tidak ingin menanyakan pendapatnya. Dulu sih dia bilang dia mau sehidup semati denganku. Till death do us part. Tapi mungkin tidak ada diantara kita yang mau mati lebih dulu. Siapa sih yang mau mati? Aku saja yang sudah ingin pergi dari suamiku tetap tidak berani memikirkan mati. Apalagi dia? Yang tidak ingin pergi dariku. Mungkin dia berpikir kalau kita berdua akan mati di hari yang sama. Biar romantis. Aduh! Kok jadi bicara mati lagi. Tidak! Aku juga tidak ingin suamiku mati. Aku ingin dia terus hidup dan berbahagia. Tapi mungkin tidak denganku. Aku menjadi beban hidupnya. Perempuan yang setiap bulan hanya bisa menerima pemberiannya. Kalau tidak cukup bisa dengan seenaknya mengemis lagi. Bagaimana mungkin dia tahan dengan perempuan seperti itu? Aku tidak habis pikir dengan laki-laki. Aku sendiri kalau jadi laki-laki akan memilih hidup sendiri.
Sekarang disaat aku berusaha mencapai kebebasanku, aku membawanya dalam ransel. Biar tahu rasa aku. Bergantian merasakan laki-laki ini menjadi beban.
Kalau aku memutuskan untuk tinggal di sini nanti, aku akan meminta serombongan pendaki yang sedang berdo’a itu untuk membawa ransel ini pulang. Akan kutitipkan surat untuk anakku agar tidak mengharapkanku lagi. Dan kuminta mereka untuk menjadi diri sendiri. Melakukan hal-hal dengan nurani. Akan kutuliskan surat untuk suamiku kalau dia sekarang bebas. Dia bisa saja segera menikahi perempuan lain setelah masa perkabungannya selesai. Mungkin teman sekantornya. Yang juga punya penghasilan sendiri. Yang kerjanya tidak hanya menghamburkan uang suami, tapi juga membantu mencarikannya.
Home Sweet Home. Bodoh! Kenapa remaja-remaja yang ada di sisi lain puncak ini menyanyikan Home Sweet Home-nya Motley Crue. Apa karena mereka sudah mulai tersiksa selama tiga hari hanya makan indomie? Lalu mereka merindukan nasi yang panas mengepul dengan lauk pauk buatan ibunya? Kalau memang rindu ya segera saja pulang! Menggangguku saja. Kenapa mereka tidak menyanyikan 18 and Life-nya Skid Row saja. Waktu umurku 18 aku merasa sebagai satu-satunya manusia yang benar-benar hidup di dunia ini. Dan sejak saat itu aku berhenti menyalakan lilin berbentuk angka di kue ulang tahunku. Aku memilih lilin batang kecil warna-warni yang berulir-ulir dengan jumlah sebanyak umurku bertambah. Orang akan mengalami kesulitan menghitung jumlah lilinnya karena setiap tahu bertambah, dan segera setelah aku meniup, lilin-lilin itu akan kucabut. Jadi umurku berhenti di 18. Jadi aku hidup selamanya di angka 18. Atau kalau toh aku mati, angka yang terakhir kali tertancap di kue ulang tahunku tetaplah 18. Mungkin ini idenya Bryan Adams. I’m gonna be 18 till I die. Tapi aku sangat setuju dengan ide itu.
Matahari meninggi. Beberapa pendaki sudah mulai packing untuk turun lagi. Jadi buat apa mendaki kalau nanti harus turun lagi? Kamu tahu jawabannya? Kalau kamu juga suka naik gunung sepertiku, kamu akan tahu. Dulu, waktu aku masih sering mendaki gunung, waktu laki-laki dalam ranselku ini belum menikahi dan mengikatku dengan dua anak kami, aku mendaki gunung dua minggu sekali. Karena dua minggu yang disela-selanya diminta olehnya untuk jadi hari pacaran. Aku cinta sekali sama dia. Jadi aku rela. Waktu itu aku sangat menikmati naik gunung. Bukan karena aku suka berlelah-lelah, menggotong makanan dan air di dalam tas untuk dimakan di perjalanan dan setelah sampai di puncaknya, melihat pemandangan di bawah dan merasa menjadi penguasa. Tidak! Sama sekali bukan itu. Aku suka naik gunung karena aku menikmati ketika saat meluncur turun tiba. Naik gunung sangat melelahkan. Berat dan dingin. Ketika sampai di puncak baru kita merasa senang. Bahagia. Tujuan sudah tercapai. Saat turun jadi tidak ada artinya lagi. Aku akan turun sambil bernyanyi. Kadang keras-keras seperti orang gila. Lebih sering menyanyi dalam hati. Tapi ada hal lain yang lebih kunikmati dari naik gunung. Kenikmatan yang tidak ada taranya adalah ketika sampai di kamar dan aku bisa tidur dengan kaki lurus, tangan terlentang, tanpa selimut. Itulah kenikmatan naik gunung untukku. Kamu?
Mungkin kita semua sama. Baru mensyukuri apa yang kita miliki setelah merasa kehilangan. Setelah penderitaan berlalu, baru kita merasakan kebahagiaan. Bagaimana kalau penderitaan tidak pernah berlalu? Bagaimana kalau penderitaan adalah nama tengah kita? Tidak bisakah kita berbahagia di tengah-tengah penderitaan? Mensyukuri penderitaan? Setidaknya karena kita masih bisa merasa menderita? Sulit mungkin. Sedangkan mensyukuri kebahagiaan disaat kita benar-benar bahagia saja tidak bisa. Bagaimana kita bahagia ketika sedang menderita? Kenapa kita harus menunggu sesuatu berlalu untuk menikmatinya?
“Turun-turun!” Beberapa orang sudah mulai berteriak mengkomando yang lain untuk segera turun. Kalau tidak turun sekarang, siang akan terlalu panas, dan sebentar lagi gas beracun akan mulai menyelimuti orang yang masih nekat tinggal di atas.
Aku malas berkemas, karena memang tidak ada yang harus kukemasi. Ranselku masih menggantung di punggung. Kusandari ketika aku duduk di pasir. Suamiku sama sekali tidak kukeluarkan. Memang bukan kemauannya mengikutiku ke puncak Semeru. Aku yang memaksanya ikut, melesakkannya ke dalam ransel. Tadinya kupikir dia bisa menggosok punggungku kalau aku kedinginan. Punggungku memang selalu menjadi bagian yang pertama kedinginan setiap kali aku naik gunung. Tapi ternyata suamiku tidak menjalankan kewajibannya. Dia malah melungker sendiri kedinginan di dalam sana. Tidak apa-apa. Toh ini semua skenarioku. Aku yang mau.
“Turun-turun!” kembali mereka berteriak-teriak sambil mulai menuruni lereng pasir.
Aku bingung. Apakah aku harus ikut turun juga. Tapi kalau aku turun, aku akan mencari-cari lagi di bawah sana. Tujuanku sudah kudapatkan. Kalau aku kembali lagi, aku harus memulai semuanya dari awal. Mencari sesuatu yang sebenarnya tidak hilang.
Apa yang tampak tidak pernah hilang. Tapi cinta itu memang tidak tampak. Jadi mungkin saja dia memang bisa menghilang. Atau mungkin tidak menghilang? Hanya saja sekarang dia sedang bersembunyi untuk berganti wajah. Mungkinkah? Cinta berganti wajah dan tidak kita kenali lagi? Tapi namanya bukan cinta dong, kalau dia sudah berganti wajah. Buat apa orang berganti wajah tapi tetap memakai nama yang sama? Mungkin cinta yang dulu kurasakan dan kupahami sebagai cinta itu berubah wajah menjadi tanggung jawab, menjadi kesetiaan, menjadi kepedulian, perhatian, atau entah apa lagi namanya. Dan cinta tidak memberiku peringatan ketika akan mengoperasi wajahnya. Mungkin dia malu. Jadi diam-diam melakukannya tanpa sepengetahuanku.
Cinta!! Bodoh!!
Seharusnya aku tahu dari awal kalau ini akan terjadi. Dunia ini penuh dengan perubahan bagaimana mungkin aku mengharapkan hal-hal kecil tidak berubah? Jadi bagaimana? Aku turun atau tetap di sini?
“Mbak, turun sekarang!” Seseorang memperingatkanku. Agak keras. Mungkin dia pikir aku seperti orang stress yang sedari tadi diam saja. Mungkin dia memperhatikanku dari tadi.
“Sebentar lagi!” dia juga mendaki sendiri. Aku tidak melihat ada rombongan bersamanya.
“Harus sekarang. Sudah tidak ada lagi orang di atas sini. Kita yang terakhir. Kalau tidak mau mati konyol, kita harus turun.”
Aku tidak mau berdebat dengannya. Aku mengikutinya. Dia mengulurkan tangan membantuku berdiri. Dia menawarkan bertukar beban. Ranselnya tipis dan sepertinya sudah kosong. Hanya berisi sleeping bag dan matras yang diikat di atas ransel mungkin. Aku menolak tawarannya. Suamiku adalah beban yang harus kubawa sendiri.
“Sendiri?”
“Iya.” Aku menjawab singkat.
“Saya sudah puluhan kali naik Semeru sejak 3 tahun yang lalu.” Aku tidak bertanya. Dia menjelaskan sendiri. Mungkin asam juga mulutnya kalau tidak dipakai bicara.
“Tidak bosan?”
“Belum ketemu yang saya cari.”
“Apa?”
“Istri saya. Dia mendaki sendiri tiga tahun yang lalu. Belum pulang sampai hari ini. Saya mencarinya setiap kali. Tapi tidak pernah bertemu lagi. Saya yakin dia masih hidup dan saya akan terus mencari.”
“Tidak kawin lagi saja?”
Dia menggeleng. Pasti dia sangat mencintai istrinya. Apakah cintanya pada sang istri tidak berubah wajah? Atau mungkin karena dia tidak benar-benar mengenali bentuk cinta itu jadi dia juga tidak menyadari perubahan wajah cinta. Atau mungkin dia terus mencari istrinya karena dia berpikir dari istrinya dia bisa menemukan cinta? Kamu tahu jawabnya? Aku juga tidak. Aku tidak pernah menanyakan pada laki-laki ini. Aku tidak mau dibilang bawel. Kita baru saja bertemu.
Tiga tahun mencari tanpa henti. Tanpa hasil. Apakah suamiku akan melakukan hal yang sama kalau aku yang hilang?
“Akan terus mencari?”
“Iya.”
Mungkin manusia memang diciptakan untuk mencari. Bagaimana kalau aku sudah menemukan apa yang kucari. Apakah aku akan berhenti? Akukah satu-satunya manusia yang akan melakukan itu? Tapi kalau berhenti nanti aku dibilang mati. Aku tidak mau berhenti. Aku akan seperti yang lain. Mencari-cari.
“Mas, kapan akan naik lagi? Mencari istri?”
“Mungkin bulan depan. Bisa juga dua minggu lagi. Saya tidak pernah naik gunung lain selain Semeru setelah istri saya hilang.”
“Sebaiknya Anda berhenti mencari.”
“Kenapa?”
“Karena dia akan pulang.”
Sebersit senyum terlintas di matanya. “Bagaimana Anda tahu?”
“Saya juga tidak tahu.”
Kami berhenti sebentar di Ranu Kumbolo. Laki-laki si pencari istri itu mengambil air untuk membasuh wajahnya. Aku duduk di tepi danau. Membuka ranselku. Suamiku sudah tidak ada di sana. Sekarang aku bisa tersenyum. Bukan tersenyum karena bebanku akan menjadi lebih ringan dalam perjalanan pulang. Aku tersenyum karena sekarang aku punya alasan untuk mencari lagi. Seperti laki-laki pencari istri yang mengajakku meneruskan perjalanan pulang ini.
Kutemukan sudah apa yang akan kucari. Selebihnya jadi tidak berarti lagi.

Ranu Kumbolo, 17 Agustus 2005

← jauh
spider web →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Waktu bocah, kita sering main petak umpet. Aku paling suka menjadi anak yang dicari, bukan yang mencari teman-temannya yang bersembunyi.Mungkin semua orang juga begitu. Memang mencari itu melelahkan.. ada yang tersiksa karenanya, ada yang menikmati pencariannya… tetapi bukankan hidup kita ini adalah estafet dari pencarian yang satu ke pencarian yang lain ?
    Aku setuju denganmu Diyan, menghentikan pencarian sama saja mengakhiri hidup… jadi nikmati saja pencarian-pencarianmu.. barangkali kau beruntung menemukan ‘penemuan’ yang lebih dari ekspektasimu… who knows..? i mean, heaven knows.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →