untuk shizuka

Dimuat di Good Housekeeping Magazine
Edisi Mei 2006Shizuka, aku menamaimu demikian bukan karena kita adalah orang Jepang atau aku sangat menyukai kebudayaan Jepang. Aku menamaimu Shizuka agar kamu sebaik nama itu. Shizuka, perempuan yang manis. Gadis yang pendiam. Dan adalah sebuah kebetulan kalau kamu juga dilahirkan di Jepang.
Anakku, kutulis surat ini disaat aku begitu merindukanmu. Jarak yang terbentang diantara kita, membuatku mengingat semua yang pernah kita jalani bersama. Adakah kamu mengingatnya juga? Mungkin sebagian kenanganmu tentangku ada yang menguap. Aku tidak tahu apakah menguap adalah kata yang benar. Kenangan bentuknya tidak cair, juga bukan padat yang bisa menyublim. Aku tidak tahu apa bentuk kenangan. Mungkin terhapus adalah kata yang lebih tepat, karena kenangan memang tidak ada bentuknya. Aku hidup lebih lama dari kamu saat ini. Dua tahun pertama hidupmu mungkin kamu hanya mengingatku selain sebagai pabrik susu yang siap kamu sesap kapanpun. Aku bersyukur diberi kesempatan menjadi pabrik susu untukmu. Aku menikmati payudaraku yang kamu tarik kesana-kemari dan bentuknya jadi tidak beraturan. Saat itulah untuk pertama kalinya dalam hidup aku mensyukuri ukuran kecil yang diberikan Tuhan.
Kenanganku tentangmu terus merambat. Bahkan ketika karena keadaan aku terpaksa menitipkanmu pada orang tua ayahmu, aku tetap mengenangmu sebagai anak berumur dua tahun yang belum bisa mengucapkan hurup R dengan benar tapi kamu terus berusaha sambil marah-marah. Menurut istilahmu mayah-mayah. Aku suka mayah-mayahmu. Kamu sangat aku. Pemarah. Tapi tidak pendendam. Meletup-letup tapi tidak meledak.
Kenangan tentangmu terus berjalan, seragam demi seragam kucucikan untukmu. Kusetrika agar kamu tampil terbaik. Sekarang kamu tidak perlu memakai seragam itu lagi. Aku ingat betapa senangnya kamu ketika harus melipat mereka semua dan berpikir keras akan disumbangkan pada siapa. Senyummu yang penuh kemenangan karena akhirnya berhasil melepaskan diri dari penjara sekolah, terus membekas dalam kepalaku. Sampai sekarang, aku masih terus tersenyum mengingatnya.
Shizuka cintaku, seandainya bisa, aku ingin tetap membawamu dalam pelukanku. Seperti ketika kamu ketakutan karena suara petir, seperti ketika aku menyelamatkanku dari seekor kecoa. Seperti ketika aku mendekapmu karena kamu diserang teman-teman nakalmu. Aku tidak pernah benar-benar menyelamatkanmu dari mereka, sayang. Kamulah yang menyelamatkanku. Memberiku rasa berarti. Sekarang kamu harus tahu itu nak, karena suatu saat nanti, kamu akan melakukannya juga untuk cucuku.
Sekarang, disaat aku benar-benar merindukanmu, semua kenangan terbaik tetap melekat. Bahkan ketika kamu menolakku, aku tetap mengingatnya sebagai kenangan manis. Menurut seorang temanku, kamu menyebutnya Om Sissy, semua hal buruk akan menjadi manis ketika sudah berlalu. Waktu aku marah padamu, karena kamu menolak minum susu, tidak mau minum vitamin, membuang sayur yang kubuatkan untukmu, aku sangat marah. Tapi setelah semua berlalu, aku mengingatnya sebagai sesuatu yang perlu ditertawakan. Sekarang aku bangga, bahwa anak yang belum genap tiga tahun sudah bisa memilih. Aku senang menceritakan pada semua orang bahwa anakku yang masih balita sudah bisa menolak dipeluk dan dengan gaya sok dewasa memarahi ibunya dan berkata, “Aku ini udah gede, jangan dipeluk-peluk lagi!!!” Dengan tiga tanda seru kupikir. Dulu gemas sekali melihatmu seperti itu. Tapi aku tidak pernah mau mengalah. Aku terus berusaha memelukmu dan menimangmu sampai kamu benar-benar marah. Mayah, maksudku. Karena aku tahu, Shizuka sayangku, kalau aku tidak berusaha memelukmu saat itu, maka semua waktu itu akan berlalu. kamu akan membesar dengan cepat, lebih memilih dipeluk kekasih ketimbang ibumu sendiri, lebih suka ditimang angan-angan yang belum tentu bisa kamu dapatkan ketimbang ditimang orang yang ada di depanmu dan nyata.
Shizukaku, sekarang aku sedang membuka dus berisi kain-kain yang dulu jadi lemek ompolmu. Kamu ingat betapa marahnya aku karena sesudah masuk TK kamu masih juga suka ngompol? Semoga kamu tidak mengingatnya sayang. Tapi untunglah kamu ngompol sampai sebesar itu, karena sekarang dengan senang hati, aku membuka lembaran-lembaran kain tidak berbentuk itu dan mencoba mencium baunya. Bau pewangi. Sudah tidak ada bau ompol yang membuatku uring-uringan lagi. Entah berapa kali aku mencucinya setelah kamu benar-benar berhenti ngompol. Kain-kain itu begitu lembut walaupun beberapa sudah tampak tidak berwarna dan serabut kainnya mulai membentuk bintil-bintil yang membuatku geli. Sama seperti kenanganku tentangmu. Begitu lembut, harum, membuat geli, tapi begitu rapuh. Seperti kain-kain ini. Kutarik sedikit saja kedua ujungnya, pasti akan segera robek.
Shizuka, beranjak dewasamu adalah masa terberat yang harus kulalui. Waktu kamu lahir aku senang karena dikaruniai anak perempuan. Tidak terlalu sulit membesarkannya, karena aku sendiri juga perempuan. Tidak akan jauh jurang yang membentang diantara kita. Dan satu lagi yang kusukai, anak perempuan akan tampak manis, lucunya bertahan lebih lama. Kalau anak laki-laki, mereka cenderung nakal, sangat merepotkan, dan sudah diatur. Ternyata ketika membesar, aku menemukan kesulitanku memang bukan pada masa kecilmu. Aku harus terengah-engah mengikuti masa remajamu. Tentu saja karena kita dibesarkan pada masa yang berbeda. Seingatku dulu, aku menurut saja ketika eyangmu membelikan aku pakaian. Kupakai saja tanpa banyak protes. Pada masa remajamu, aku tidak pernah kamu beri kesempatan memilihkan. Baju-baju yang kubelikan tidak kamu sentuh. Aku marah. Kamu lebih marah lagi, “Memangnya ibu mau kalau aku dikatain nggak modis?” Tentu saja aku tidak mau, tapi baju yan kupilihkan juga tidak terlalu ketinggalan jaman. “Pokoknya mulai sekarang, ibu nggak usah belikan aku baju. Semua yang kupakai biar aku milih sendiri.” Oh, tentu saja kamu menyakiti hatiku, Shizuka, aku tidak terpakai lagi bagimu. Padahal kupilihkan semua yang terbaik. Harga tidak menjadi pemikiranku untukmu. Tapi kamu memilih barang-barang murahan yang kalau dipakaipun, membuatmu tampak murah. Terlalu pendek, terlalu ketat, terlalu buruk untuk keindahanmu.
Shizuka cintaku, ingatkamu kamu berapa kali aku harus menghadapi guru atau kepala sekolahmu ketika SMP dan SMA? Aku menghadapinya dengan tenang dan siap membelamu, tapi apa yang kamu lakukan? Di rumah kamu malah marah dan menuduhku sok pahlawan. Kamu selalu bilang kalau kamu tidak butuh pembelaan, kamu berbuat nakal bukan untuk dibela. Kamu memang ingin tampak nakal. Lalu aku harus bagaimana? Bukankah aku memang pahlawanmu nak? Atau waktu itu masaku menjadi pahlawan sudah lewat? Aku sedih sekali saat itu. Dua hari aku menangis untukmu. Untuk diriku sendiri. Aku juga pernah nakal waktu sekolah nak, tapi kenakalanmu kamu sengaja. Merokok di kelas, yang paling membuatku malu harus menghadapi gurumu. Aku sampai membuat peraturan, kalau kamu boleh merokok tapi hanya di depanku. Di dalam rumah. Aku menyediakan rokok untukmu hanya untuk di rumah. Tapi kamu tidak pernah menyentuhnya. Sampai sekarang kamu juga tidak merokok kan? Kamu merokok di kelas untuk menantang gurumu. Untuk menunjukan kekuasaan. Aku menyadarinya setelah jauh melewati masa itu. Dan aku ikut menyalahkan diriku untuk kekuasaan yang kamu harap bisa didapatkan dimana saja. Aku menciptakanmu sebagai penguasa di dalam rumah. Sebagai anak satu-satunya, tentu saja kami semua memperlakukanmu sebagai ratu.
Masa puber membuatku dua kali lebih pusing. Kepalaku sering berdenyut karenamu. Kalau gonta-ganti pacar mungkin aku masih bisa hadapi dengan kepala dingin, tapi berpacaran denga dua orang sekaligus, itu membuatku bergidik. Nenekmu bilang, kamu memang sangat aku. Sekarang aku mensyukurimu, karena kamulah cerminku.
Banyak hal yang kutakutkan ketika itu, Shizuka. Pikiran buruk tentang pernikahan dini, aib yang menimpa keluarga, semua sudah kuantisipasi. Tapi ternyata kamu cukup menjaga diri. Aku bangga padamu karena itu nak. Walaupun ketika masa itu sedang kujalani, kamu sering membuatku pusing. Menghadapi teman-teman kencanmu yang marah-marah karena merasa diduakan, mencoba membantumu dengan berbohong pada mereka, semua kulakukan untuk menyelamatkanmu. Semua terasa lucu sekarang. Bagaimana ketakutanku membuat hubungan kita semakin terasa jauh. Seperti layang-layang yang tampak semakin indah kalau terbang semakin tinggi. Tapi semakin keras juga angin yang menimpanya, semakin rentan juga talinya akan terputus. Kamu tak tersentuh ketika itu. Aku sering sakit hati karena kamu lebih dekat dengan tantemu ketimbang denganku, kupikir bukankah kamu masih punya aku, tidakkah aku cukup untukmu. Tapi aku memang tidak berhasil menyelami pikiranmu di masa itu. Aku berusaha memenangkan hatimu, sementara tembok bentengmu terus kamu pertebal. Aku menyerah.
Ingatkah kamu ada masa dimana kita tidak bertegur sapa? Sangat menyakitkan untukku. 18 tahun dan 9 bulan di dalam kandungan yang kulewati rasanya menjadi sumbu yang terbakar pelan tapi pasti menuju dinamit yang siap meledak. Aku berharap sumbu itu mati, tapi kamu meniupnya semakin keras. Kamu berusaha membuat ledakan itu semakin cepat terjadi. Kamu semakin berani. Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk tidak hidup bersamaku lagi. Kamu memilih pergi, dengan alasan menuntut ilmu. Padahal kamu bisa saja kuliah di kota yang sama. Tapi dengan alasan demi kehidupan yang lebih baik kamu pergi.
Aku diam. Menangis di dalam hati. Setahun pertama kepergianmu aku hidup seperti manusia eskimo. Dingin tanpa ada kamu di rumah kita. Tapi kudengar dari tantemu, kamu sangat bahagia jauh dariku. Hatiku robek nak. Tapi sekali lagi, segera terobati ketika kamu akhirnya merindukanku. Bukan dari mulutmu sendiri aku mendengar. Dari sebuah lagu yang diputar di radio. Aku tahu kalau lagu itu adalah lagumu. Aku marah tapi terus mengikutimu. Kamu membuat sebuah band. Bernyanyi. Menciptakan lagu untuk ibumu. Sekali lagi aku bangga karenamu waktu itu.
Shizukaku sayang, ketika akhirnya hubungan kita kembali, sekarang aku harus melepasmu lagi. Ironis. Seperti lagu kesukaanmu dulu. Ironic. Aku jadi ingat betapa marahnya aku, waktu kamu putar lagu Alanis Morissette itu keras-keras di kamar, padahal di rumah sedang ada arisan. Waktu itu hampir kubakar semua kasetmu. Untung aku urung melakukannya. Karena kalau sudah kubakar, saat ini aku tidak akan mendengarkan lagu-lagumu untuk mengobati rinduku. Seandainya dulu aku mau mendengarkannya bersamamu, mungkin kenangan kita akan berbeda.
Shizuka cantik, sekarang aku ada di dalam kamarmu, mengaduk-aduk semua kenangan tentangmu. Memutar lagu-lagu yang tidak pernah bisa kumengerti, membaca majalah-majalah usangmu. Kenapa aku baru melakukannya sekarang? Mungkin karena dulu kamu tidak pernah memberiku waktu. Atau dulu aku sendiri yang tidak punya cukup waktu untuk masuk ke kamarmu?
Sekarang aku tahu, foto-foto kita berdua kamu simpan di album yang berbeda. Tahukah kamu aku menitikkan air mata karenanya? Bukan karena wajah kita yang begitu mirip, tapi karena di setiap foto kamu selipkan tulisan-tulisan indahmu. “Me and my self, the one I love, best enemy-worst best friend, twin sisters, jelek,” tulisan terakhir kamu pasang dibawah foto kita ketika berpose dengan lidah menjulur dan mata membelalak. Dari semua komentarmu tentang foto-foto kita, aku tahu kalau kamu juga mencintaiku. Seandainya kamu ijinkan aku masuk ke kamarmu dulu nak, mungkin aku akan memperlakukanmu seperti yang kamu inginkan. Tapi mungkin memang harus begini, aku harus melewati semua masa ini untuk memastikan bahwa aku melepaskanmu untuk kebaikan yang lain.
Shizuka, yang membuatku menulis semua ini, adalah sebuah buku harian. Hanya dua buah. Mungkin yang lain kamu bawa pergi bersamamu. Setiap lembarnya membuatku menangis. Sekarang aku sadar betapa aku sangat egois padamu nak. Dulu kupikir, kamu yang membuatku menangis. Sengaja melakukan banyak hal hanya untuk menyakitiku, tapi ternyata aku salah. Aku juga membuatmu menangis. Kamu sedih karena kemarahanku, kamu marah karena ketidakmengertianku, kamu berontak karena perlakuanku.
Buah hatiku, aku menulis semua ini, untuk membuat semuanya kembali ke titik nol, dimana kita akan sama-sama belajar. Belajar berjalan bersama, belajar berlari bersama, dan belajar terbang bersama. Sekarang kamu seusiaku ketika aku melahirkanmu, dan kamu akan melahirkan cucuku. Aku berharap, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan dulu. Tidak pada cucuku.
“Bu, mbak Zuka sudah melahirkan. Perempuan.”
Tulisanku terhenti karena Lena, adik angkatmu, tergesa memberitakan kelahiran anakmu. Sekarang aku tahu kalau aku benar-benar harus berhenti menulis, dan mulai melakukan sesuatu. Sekarang kamu bukan lagi gadis kecilku. Sekarang kamu adalah seorang ibu. Sekarang kamu akan menjadi aku. Semoga kamu belajar lebih banyak dariku.
Yang selalu mencintaimu,
Ibu.

← vanya
kangen vanya →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. huwaa.. ceritanya aku banget nih bu diyan. kapan2 tolong dijadwalkan sesi curhatan soal keluarga ya… pokoknya kita nangis2an abis2an ya bu diyan.. hahahaha

  2. ShIzuka,,itu panggilanku,,dan makin bangga untuk itu,,
    karena cerita yang rasanya seperti ditulis oleh ibuku,,khusus untukku,,

  3. Zuka…
    senangnya ada yang happy dengan nama itu. Soalnya bidadariku di rumah itu, masih protes aja dengan nama Shizuka-nya.
    Semoga kalian sempat berkenalan ya, biar dia senang karena ada yang bangga dengan namanya.

  4. GREAT STORY.
    Zuka punya adik angkat namanya lena.. (sama ya). Boleh kenalan juga kan?? 🙂

    Zuka yang beruntung dengan “Ibu” nya. Tak ada kata terlambat untuk memperbaikinya kan… Hope i can see the next story about it.. 🙂

    Btw, Mana si “bapak”? hehehe 😛

    Lena

  5. si bapak??
    hehehe… karena dipecat, maka jarang-jarang ditulis di cerita dan web.
    mungkin nanti dalam cerita lain dan topik yg berbeda, hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →