GATEL? GARUK !!!

Entah berapa orang yang bilang kalau aku gatel. Ok, aku memang mengidap beberapa alergi. Diantaranya adalah, alergi udang yang dimakan tanpa kulitnya, alergi udara dingin dan alergi sinetron Indonesia. Tapi yang paling parah diantara semua alergiku itu adalah, aku alergi nggak punya pacar. Here we go. Mungkin dari sinilah gelar ‘gatel’ itu kudapatkan. So? Terus dimana salahku, kalau aku selalu mendapatkan pengganti pacar setelah yang sebelumnya kuanggap tidak up to date lagi?
Oke, baiklah. Aku menyerah. Tidak semua mantan pacarku kuanggap kurang up to date. Karena ada beberapa yang sebaliknya. Mereka menganggap aku kurang up to date lagi. Atau lebih tepatnya, mereka menemukan yang lebih menarik dariku. Hhmmm… aku tidak tahu dari sudut mana mereka memandang itu. Karena sejauh pemahaman tentang diriku sendiri, aku adalah orang paling menarik di dunia. Aku bilang menarik ya. Bukan cantik, pintar, kaya, apalagi beriman. Aku seperti kebanyakan orang. Bukan perempuan yang di hari pertamanya masuk sekolah langsung menjadi pusat perhatian semua laki-laki, dan beberapa diantaranya merasa terintimidasi sampai melihatku seperti gerakan slow motion dalam iklan shampoo. No! Aku bukan perempuan yang seperti itu. Aku adalah Dian yang di hari pertama masuk SMA-nya harus berpura-pura tidak bisa berbahasa Indonesia demi menarik perhatian teman sebangkuku. Tapi aku harus mengakhiri kepura-puraanku di jam istirahat karena ternyata aku bertemu teman SD yang bahkan tidak hanya berbahasa Indonesia denganku, tapi kadang berbahasa Jawa.
“Lho? Kowe sekolah kene juga to?” (Lho, kamu sekolah di sini juga to?) dengan huruf k di akhir kata juga.
Hari pertamaku dihancurkan Widya. Nama teman SD-ku itu. Dan dari sanalah kutukan itu dimulai. Aku dikutuk tidak pernah bisa memiliki hubungan dekat dengan siapapun yang pernah berada di kelas yang sama denganku. Ehm, lebih tepatnya seangkatan denganku. Namaku langsung tercoreng sebagai seorang yang belagu. Seandainya waktu itu Cinta Laura sudah ngetrend, mungkin aku tidak akan dianggap aneh. Tapi, ah sudahlah! Setidaknya sekarang kalian tahu, bahwa jauh sebelum Cinta Laura mempopulerkan bahasa Indonesia kakunya itu, aku sudah lebih dulu mempraktekannya dan ternyata gagal. Jadi, sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai Laura menyadari kesalahannya dan mengaku gagal, instead of merasa bangga dengan gayanya dan terus berpikir dia akan menjadi trend setter.
Sejak hari pertama masuk sekolah itu, aku terus menerus mengalami kejadian lucu. Menyukai kakak kelas yang kuanggap ‘lucu’ – I hope you do understand what I mean with ‘lucu’ thing – tapi ternyata menurut teman-temanku dia memang benar-benar lucu (tanpa tanda apostrof yang mengurungnya). Kaca mata silinder yang kalau terkena sinar menjadi berwarna gelap menurut teman-temanku adalah lucu. Well, mereka nggak ngerti bahwa kakak kelas yang kusukai itu juga merasa terbeban dengan warna kacamatanya yang berubah di siang hari itu. Tapi dia nggak mungkin menerangkan ke semua orang bahwa dia tersiksa kan? Menurut lo, penting ya gue tau? Pasti sebagian besar akan menjawab seperti itu. Ketika akhirnya kami jadianpun, teman-teman sekelas masih mentertawakanku dengan memanggilku rayben. Aku terpaksa memutuskan hubunganku karena aku nggak akan sanggup selama 3 tahun ditertawakan untuk sesuatu yang tidak kulakukan, sementara kakak kelasku itu hanya akan bertahan di sekolah yang sama selama 1 tahun. Dia kelas 3 saat itu. Jadi aku memilih untuk segera berpindah haluan. Menemukan anak kelas 2 yang tidak kalah lucunya untuk kupacari. Jagoan basket di sekolah. Waktu itu Michael Jordan sedang naik daun.
Rupanya si kakak kelas berkacamata hitam ini tidak terima kuputuskan begitu saja dan mengetahui aku begitu cepat mendapatkan pengganti. Dari sinilah gelar gatel pertama kali kudapatkan. Dia dan genk motornya kemudian sepakat menyebutku gatel. Oh my God. Aku yakin dia sedang berbahagia sekarang karena Ian Kassela memakai kaca mata hitam dan dia tetap terkenal juga kaya raya.
Oke, kita kembali ke kutukan tidak disukai oleh teman sekelas.
Jadi, setelah ketahuan berbohong dengan pura-pura nggak bisa bahasa Indonesia itu, kebodohan keduaku adalah melamun di kelas. Ehm, aku yakin banyak orang lain melakukannya. Dan ini akan terus terjadi selama guru sejarah memaksakan murid-muridnya untuk menghafalkan tanggal dan nama. Aku melamun, dan dibuyarkan oleh panggilan itu.
“Dian! Maju ke depan!”
Ini dia saatnya. Aku maju ke depan dengan ragu-ragu setelah sebelumnya menowel teman sebangkuku. Memberinya isyarat dengan pandangan mata memohon, untuk diberi bantuan kalau aku membutuhkan. Aku rasa dia cukup mengerti arti tatapan mataku itu.
Aku berdiri dekat sekali dengan meja guru. Berharap bisa mencontek jawaban dari buku sejarah tebal yang sedang dibukanya.
“Kapan terjadinya peristiwa Supersemar?”
Aduh! Entah kenapa pikiranku begitu kosong. Aku tidak mengingat satu tanggalpun di dunia ini kecuali hari lahirku, Natal dan tahun Baru. Dari mulutku hanya terdengar huruf m yang agak panjang. Guruku memberi kesempatan berpikir. Seisi kelas hening. Mataku memandang penuh harap pada teman sebangkuku. Dia sama sekali tidak membuka buku untuk mencari contekan. Tapi aku melihat jari telunjuknya diacungkan dua kali, lalu sebelum menyusul dengan kode berikutnya guruku sudah mengetahui kecurangan kami.
“Sakti!”
Yah! Gagal! Aku tidak mendapatkan jawabannya.
“Kamu mikirin apa? Melamunkan siapa?” Tanya guruku yang biasanya tampak agak cantik tapi siang itu begitu mengerikan buatku.
“Nggak kok bu.”
“Kalau nggak melamun, masa’ pertanyaan segampang itu nggak tahu jawabannya?”
Kembali suara dengungan yang keluar dari mulutku. Kalau dia memaksaku sedikit lebih keras, aku curiga aku akan berubah menjadi lalat.
“Coba dipikir lagi. Su-per-se-mar! itu adalah singkatan dari?”
Dan dalam waktu bersamaan aku merasa seperti Thomas Alfa Edison yang pertama kali menemukan bola lampu. Seperti ketika Albert Einstein menemukan hukum relativitas. Seperti Lang Ling Lung menemukan sebuah teknologi baru. Seperti Dian yang menemukan kepanjangan dari su-per-se-mar.
“Surat perintah sebelas maret.” Jawabku antara yakin dan yakin sekali.
“Jadi kejadiannya adalah?”
“Tanggal 11 Maret bu.”
“Tahun?”
Sekarang aku merasa seperti Judika yang menjadi runner up Indonesian Idol. Karena menjadi nomer dua sama artinya dengan kalah. Aku kembali tidak menemukan satu angkapun di kepalaku.
Dari sanalah teman-teman menganggapku bodoh. Dan segala sesuatu yang bodoh dianggap lucu. Jadi, mulai detik itu, siapapun yang ingin tampak pintar akan berada dalam radius kurang dari satu meter denganku. Setidaknya pada saat itu mereka akan tampak pintar.
Kalau sampai di sini kalian masih bertanya-tanya dimana letak kegatalanku, tenang… cerita baru saja dimulai. Aku masih mengawali cerita hidupku dengan kelucuan dan kebodohan. Belum sampai di tahap kegatalan.
Menjalani hari-hari di kelas yang berisi orang-orang pintar membuatku harus menyelami samudra yang begitu luas. Aku tidak mungkin berenang mengejar mereka. Jadi, satu-satunya jalan adalah, aku berenang terbalik. Kalau mereka semua menuju kea rah yang utara, maka aku satu-satunya yang ke selatan. Maka tidak satupun diantara mereka yang akan mengalahkanku. Karena bahkan tidak satupun menyadari kalau mereka kehilangan aku.
Aku menyibukkan diri di luar kelas. Berada dekat-dekat dengan kakak kelas dengan dalih meminjam buku ini itu. Dengan cara itu aku dilihat. Setidaknya aku sudah selangkah di depan teman-temanku. Karena kalau ada acara-acara OSIS yang nota bene pengurusnya adalah anak kelas 2, aku adalah adik kelas yang pertama kali dinominasikan untuk ikut serta. Yipiee..
Menurutku aku cerdas, menurut teman-teman sekelasku aku sombong. Sebagian lagi mengamini gelar ‘gatel’. Jadi aku memutuskan untuk berbuat adil. Aku adalah orang sombong yang cerdas tapi kadang-kadang gatel. Atau, aku adalah orang cerdas yang kegatelan, udah gitu sombong lagi. Bisa juga, aku gatel banget tapi cerdas untuk tidak menyombongkan kegatelanku. Terserahlah mau pilih yang mana. Yang jelas efeknya adalah aku dikucilkan selama semester pertamaku. Aku baru menyadari bahwa tidak selamanya berenang menjauhi arah semua orang adalah bukan pilihan yang tepat. Nilai rapotku tidak terlalu buruk. Aku hanya menduduki rangking dua. Dari belakang. Seandainya aku tahu siapa yang beada di rangking pertama dari belakang itu, tentu aku akan dengan senang hati menjadi sahabatnya. Sayangnya tidak seorangpun tahu. Sejak hari penerimaan rapot itu, aku memutuskan untuk meminjam perahu dan berbalik arah. Semoga aku tidak terlalu jauh tertinggal. Dan semoga lagi, tidak ada badai yang menghancurkan perahu kecilku.
Perahu itu berupa, mentraktir beberapa teman di kantin. Uang jajan yang biasanya kuhabiskan untuk sebulan, harus kurelakan hangus dalam waktu seminggu. Huh! There’s always a price to pay, isn’t it?
Yang jelas, sekarang aku sudah tahu rahasianya. Mungkin ini juga rahasia nenek moyangku yang asli Madura. Bahwa obat mujarab untuk setiap perasaan gatal adalah digaruk.

← pekerjaan radio harus penyiar ya?
kebangkitan nasional di semawis →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. iki kisah nyata jaman masih di Smanssa mas… Hwiihh, masa awalku di Salatiga juga nggak gampang ternyata, setelah kuingat-ingat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →