kebangkitan nasional ala dian-okta

nah, inilah cerita kebangkitan nasional yang lain, yang kemaren kujanjikan.

hari minggu sore, setelah seharian merawat diri dengan pijet dan lulur, makan bakar-bakaran cumi dan daging merah, tidur selama dua jam, nggak heran dong, kalau bangun jam 4 sore dengan penuh keceriaan. merasa cantik, merasa sehat, merasa kuat.

yang pertama terucap adalah:
dian : okta, ke simpang luma yuk
okta : hayukk… naik apa budhe?
dian : naik apa? ya jalan lah…
okta : *di luar dugaan* ayuuuuukkk

maka langsung bersepatulah kami, membawa handuk dan semua peralatan mandi, nyiapin minum, iket rambut, permen, dan tentu saja semangat baja.

seperti ini kira-kira rute yang kami tempuh:

pos bayangan 1, patung diponegoro undip atas

pos 1, gapura gombel golf di gombel lama

pos bayangan maksa, halte ksatrian. di sana sms semua orang dan menceritakan perjalanan. sayangnya karena udah jam 6 kurang seperempat, yang di-sms banyak yang dongo’ alias gak nyambung.

pos bayangan 2, don bosco

pos 2, gapura akpol. hihi… mau banyak pose di sini takut. ntar ditangkap sama calon-calon polisi kan nggak seru. lagian matahari udah tenggelam. jadi, mesti nyalain mode night yang bikin foto gak maksimal hasilnya karena yang motret maupun yang diptret sama-sama tremor.

pos bayangan 3, taman diponegoro. di sini kita ketemu 3 anak punk tidur di bawah pohon. thanks god, kita nggak punk-punk amat, jadi masih nggak malu mengakui diri sebagai pemuja kenyamanan. kasur empuk, makan enak, pacar banyak, hehe…

turun di siranda sempet fto dulu di reservoir siranda. salah satu situs yang belum pernah didatengin di semarang. yak… next destination berarti ya..

akhirnya…
pos 3, giant screen pahlawan.

akhirnya lagi…

SIMPANG LIMAAAAAA

inti dari perjalanan dalam rangka memperingati kebangkitan nasional ala dian – okta ini adalah:
1. janji untuk lebih banyak bersyukur ketimbang ngedumel (bersyukur punya badan lengkap, kekuatan, kesehatan, kemauan, kegilaan, spontanitas, ide, rumah, orang tua, anak, keluarga, sekolah, pekerjaan, nyawa, dan sebagainya)
2. senyum lebih sering
3. ketawa lebih banyak (bukan mentertawakan lho ya)

hhh… harus segera mencari tantangan selanjutnya nih..

← kebangkitan nasional di semawis
Iklan radio, Zonder Gambar, Ora Hambar →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →