enjoy the silence

Aku jangan disentuh dulu ya
Aku butuh ruang sendiri
Sebentar saja
Aku pastikan akan kembali, jika tidak ada perubahan yang berarti

Diam
Menunggu
Jadi, harus apa aku ketika menunggu?

Aku tidak pandai menyanyi
Dan aku sedang tidak ingin berkemah dengan rombongan sirkusku

Diam
Berpikir

Kadang aku juga suka menyendiri
Sering aku merasa terlalu berisik di sekelilingku sampai aku tidak mendengar suaraku sendiri

Ctak!!
Aku tahu sekarang
Aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan
Aku akan menari tanpa musik
Aku akan berdansa tanpa pasangan
Sampai bibirku tertarik
Mataku terpejam
Dan seluruh kulitku bersisik

Diam
Kali ini tidak lagi menunggu
Aku duduk di sini kalau kau sempat berpikir aku lari
Tidak menunggu tapi juga tidak pergi
Hanya ingin kau tahu bahwa kadang manusia memang butuh sendiri

Jadi
Sampaikan salamku pada seluruh sendirimu, katakan: aku memantrakan yang terbaik untuknya

← drama
Ubud Writers & Readers Festival →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Bah!
    kenapa pulak kau ni?
    KEsambet apaan Bu di Ubud?
    Wakakakakakakkkk…
    Yakin mo menyendiri?
    Tar dikejar hantu baru tau lo Yan..
    Hehe..

    p.s. Your heart tells what u want but your mind tells what u need..

  2. kamu kenapa?
    ….
    jangan nunduk begitu…angkat mukamu
    …..
    kenapa?
    …..
    harusnya aku tahu…bahwa kamu memang belum siap
    ……
    wis ah ….aku pulang
    ……

    (pernah ndak, satu jam penuh kamu didiemin
    tanpa ada sepatah katapun terucap dari bibirnya?)

  3. walopun sudah basi…. tp aq setujuh!!!!!!!!!!!!!!!!!!! kadang manusia butuh u sendiri…. asal g kbablasen wae yo….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →