year end wish list

After that long time not maintaining my web, today i’m posting two items. This one is about my new wish list.
I wrote them last nite actually. Before I went to bed and a loooongggg sleep.

  1. Build Jogja dream team as soon as possible
  2. Finish my thesis
  3. Finish the writing about Patria and bu Mitha
  4. Birth certificate
  5. Passport
  6. Publish my own book under my own company
  7. Build a promotion team for the book
  8. Roadshow for the book, Semarang, Jogja, Salatiga, Purwokerto, Jakarta, Cirebon, Bandung, Malang, Bali, Surabaya, Cilacap, where else??
  9. Collaborating with Aya to make an Indonesian version of Mum’s gift book
  10. Bangkok, Timor Leste, Perth, Philipina, India
← officially patah hati
vaksin campak →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. oo..bab “NIAT” yho..

    jd ingat kata² simbah-ku :
    ” le.., nek niat ki yho dipolke sing paling dhuwur,diniat ke nggo gustialloh…mengko rak liyane dadi gampang…”*

    ok tetap semangat..!!

    * maaf tanpa terjemahan.

  2. kurang lebih artinya:
    cucuku… kalo niat itu, ya yang sampe mentok to… diniatkan hanya untuk Allah yang maha tinggi. ntar kalo udah gitu, yang lain jadi mudah,
    mekaten to mas?

  3. oooooooooooooooooooooooooooooooooooo………….ngoten tho wishnya Bu?????
    lek aq opo ya???????bingung… masih belum dpt wangsit…. tp yg pasti hrs more better dr skrg….
    bukan begitu Bu???
    jd inget cita2 aq dr kcl klo dtanya Ibu “de,mengko lek wies gedhe pgn dadi opo???”
    “pgn muter2 Bu… paling enggak keliling negara aq Bu…masak aq g ngerti ndhi2 cm ngerti desaku thok????”
    qqqqqqqqqqqqqqqqqqqq……… peace….

  4. stuju… gak ada waktu buat broken heart…

    btw, aku mau lho bantu kamu khususnya di wish-list yang nomor 6, 7 dan 8… kita joinan yuk…

    dan yang nomor 10: Bangkok!!!! ikuuuutttt, I love that city, no wonder people call it “the city of Angels”…..

  5. oh berarti bener skripsi ya?
    Emang patut dirayakan tuch..

    berarti saya mengusulkan untuk menambahkan sidoarjo, malang, boyolali, banyumanik,
    ntar tiap hari aku tambahin 4 kota lagi.

    dan,
    aku ikutan tim promosinya donk, aku bagian government relation yaks, inget loch aku dah mesen duluan….

    HAHAHAHAHAHAHAHA

  6. Duh Yan.. sensi bener kyk pantat bayi..
    hahaha…
    Baguslah Bali msh dimasukin.
    List no.10 yakin nih?
    *mengindikasikan pd salah satu kota sambil senyum2 setan

  7. bukannya wish list yang no 2 sampai 10 sudah kamu bikin des 07?
    jadi sekarang des 08 diulang lagi ya? hanya nambah no 1 yang baru …

    hehehhehe…
    pokomen amin saja wis ….

  8. Oh ya kelupaan. Mo ingetin aja Yan di Bangkok msh tutup bandaranya. Coba ganti dengan kota lain..

    *msh kliyep2 di list no.10 itu negara apa kota yah?

  9. u didn’t even tell me about it before…. tapi mau aja dehh… numpang ketenarannya DHEK DIAN PURNOMO… hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →