dian, nama sejuta umat

Dian Yuliasri. Bukan nama yang luar biasa hebat dibandingkan dengan adik kelasku yang bernama Cogito Ergo Sum, atau anak tetangganya Rani yang dinamai ayahnya Kill Me Maradona, atau Cinta Laura Kiel. Namaku yang sangat sederhana itu memiliki arti yang luar biasa. Setidaknya, begitulah ketika kedua orang tuaku menempelkannya di jidatku untuk sepanjang masa.

Dian = lampu tempel (bahasa Jawa)

Yuli = aku nggak harus menerangkannya kan, kalau banyak orang yang namanya diambil dari nama bulan kelahiran mereka?

Asri = indah, cantik, menawan

Kalau digabungkan maka kurang lebih artinya adalah, lampu kecil yang menerangi bulan Juli yang indah. Sebentar… kok jadi bulan Julinya yang indah ya? Semoga maksud orang tuaku adalah, lampu kecil yang indah dan mewarnai bulan Juli.

Kehadiranku memang menyelamatkan perkawinan bapak dan ibu. Setidaknya itu yang kudengar dari mereka. Semoga ini bukan cerita yang dibuat-buat untuk menjadikanku orang yang percaya diri ya.

Ok, kembali ke masalah Dian. Coba hitung, berapa teman bernama Dian yang kalian miliki? Atau, cek ke phone book HP kamu, berapa nama Dian di situ. Sejak kecil aku terbiasa dengan duplikasi nama di kelas. Waktu TK ada dua nama Dian. SD kebetulan tidak ada Dian yang sekelas denganku. Waktu SMP ada Dian di kelas sebelah. Paling parah adalah SMA. Ada tiga nama Dian di dalam kelas. Akirnya kami memanggil dengan julukan-julukan. Dian gede’, Dian kecil (itu adalah aku) dan Dian lanang (laki-laki).

Waktu ujian UMPTN, lebih tidak bermoral lagi. Aku harus mengecek namaku dengan ekstra hati-hati agar nomerku tidak tertukar dengan Dian-Dian yang lain.

323. Dian Yuliandari

324. Dian Yuliani

325. Dian Yulianti Supolo

326. Dian Yuliarti

327. Dian Yuliasri

328. Dian Yuliastuti

Coba lihat daftar nama di atas itu, dan katakan, bisakah kalian menunjukkan namaku ada di nomer berapa dalam hitungan kejapan mata? Nggak bisa kan? Nggak bisa kan? Mesti mikir dulu kan?

Waktu Annisa Banowati dan seorang artis lagi yang aku lupa siapa mengganti nama, aku sempat kepikiran untuk melakukannya juga. Tapi setelah itu aku mikir lagi, kalau aku ganti, aku mau ganti Diannya atau Yuliasrinya ya? Kalau aku ganti dua-duanya, mungkin aku akan memilih nama yang benar-benar berbeda saja. Misalnya menjadi Angelina Jolie, Alanis Morissette atau bahkan Jason Bourne. Tapi kalau aku ketemu sama teman-teman lamaku, mereka pasti masih akan tetap memanggilku dengan Dian. Apa aku harus menunjukan identitas baruku sama mereka. Seperti KTP atau SIM misalnya?

Akhirnya aku menyerah. Proses ganti namanya tidak sulit, tapi proses sosialisasinya pasti akan lebih rumit. Beriklan setengah halaman di Koran nasional sama sekali tidak murah. Udah gitu, belum tentu semua orang yang kukenal membaca Koran itu. Lagipula untuk orang yang tidak mengenalku, akan jadi terasa aneh. Dan sekali lagi mereka akan berteriak, “Siapa elu?” kalau harus memasang iklan perubahan nama dengan gambar wajahku yang berwarna, harganya jadi semakin mahal. Aku menyerah dua kali. Aku memutuskan untuk tidak mengganti nama. Toh namaku yang tercantum di akte kelahiran juga bukan nama yang ini.

Nah lo!

Yak, ini adalah cerita lain lagi. Pada suatu hari waktu aku sudah hampir lulus SMA, aku membongkar lemari bapak. Sungguh, ini tidak dengan maksud untuk mendapatkan sesuatu yang disembunyikan di dalamnya. Aku mengaduk lemari bapak karena ibu memintaku membantunya mencari sertifikat rumah atau tanah. Aku lupa. Nah, ketika membenamkan diri diantara baju dan tumpukan kain-kain itu, berubahlah sejarah dalam hidupku.

Guess what??

Namaku bukan Dian Yuliasri, melainkan, DIYAN YULIASRI. Hwaaaa!!!

Sungguh aku panik saat itu. Karena saat itulah masanya aku membuat KTP. Maka, jadilah aku memiliki nama KTP yang berbeda dengan nama ijazah. Tapi waktu itu stay cool aja. Bodo’ amat. Karena sama sekali nggak pernah ada cita-cita untuk jadi pegawai negeri.

Tapi belakangan itu jadi masalah juga, bikin passport nggak bisa karena bingung nama mana yang mesti diikutin. Terus mau apply beasiswa juga riweuh mau pake nama ijazah atau nama KTP. Maka akhirnya memutuskan untuk ganti akte kelahiran.

Lagian waktu itu dikuatkan dengan sebuah artikel. Fiuh!! Semoga artikel ini ngaco adanya. Jadi di situ ditulis kalau pembunuh-pembunuh kelas dunia dan pembunuh-pembunuh berantai itu rata-rata memiliki 13 karakter huruf di nama mereka. Yak!! DIYAN YULIASRI adalah 13 huruf. Maka semakin yakin aku mengganti nama itu. Aku nggak mau jadi pembunuh presiden JFK atau John Lennon. Kasihan! Mereka kan udah mati.

So, here i am, menunggu nasib yang ada di tangan catatan sipil. Belum lagi ngadepin ibu yang ngamuk-ngamuk karena surat nikahnya dipinjem dengan alasan mau ganti nama.

Hehe… i’m really sorry, mum, dad… I have to do this. Lagian, siapa suruh, dulu nggak diteliti, nama di ijazah dan di akte beda kok diem aja. Udah tau ya, kalau anaknya nggak mau jadi pegawe negeri?

← your partner is what you are.
soulmate →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. Nama asli gw juga udah tenggelam tuh. Bayangin aja ada 4 org namanya sama. En gw end up dgn panggilan saat ini yg ternyata jd unik. Hehe..
    Apalah arti sebuah nama? Ya berarti bgt dong!!
    Ur name is a gift and the meaning of it is a bless.
    Jadi.. Pake nama yg mana nih skrg, Bu?

  2. Nama adalah do’a n harapan orangtua utk kita…hmm nama mba udah bagus banget loh artinya, hehehe..salam kenal ya mbak, ohya tukeran link ya, blog mbak udah aku link dengan nama Dian Purnomo – Semarang, hmm kita sama2 do semarang dong yah 🙂

  3. aha…
    sepertinya klo memang ada perbedaan nama,, mana yang asik dng yg wagu… mending pake yg wagu walaupun itu nama yg tertera di Akte kelahiran..hehe…

  4. Bahkan namaku beda antara akte, surat kenal lahir, ktp, ijazah, buku rekening, panggilan.

  5. Mba Dian aku juga lg masalah sama dgn perbedaan nama pada bbrp dokumen penting.
    Mba blh tau imel Mba ga?
    Krn aku mau tny2 mengenai prosedur penggantian nama di akte kelahiran.
    Thanks before.

  6. wahhhh semasa SD nama saya juga sama tapi cuma dua orang bedaiinnya pakai A & B heheheh :D, arti namanya bagus 🙂

  7. yaikss gw juga beda KTP sama Akte, pusing klo mo serahin data. boleh kasi tau cara ganti nama di KTP
    thx alot udh bantu orng yg pusing 🙂

  8. Key, pilih dulu, nama kamu mau dibuat jadi yg mana. Kalo ideku sih, samakan dengan akte kelahiran dan ijazah. Itu yang paling paten. Jadi ntar kalo mau bikin paspor dll, lebih gampang.
    Kalo udah, bawa deh ijazah sama akte ke kelurahan, sama KTP-nya juga. Bilang sama mereka mau ganti nama karena tidak sesuai sama akte. Paling parah suruh bayar deh. Sukur-sukur dapat petugas yang baik, cuma suruh ganti admin 10 ribuah paling.
    G’luck Keylie!!

  9. Weleh, akta lahirku juga beda. Budi ditulis Budy, ato mungkin benernya Budy tapi tak kira Budi..
    Jadi biar kalo ngurus apa2 gampang, biasanya aku bilang kalo di zamanku surat begituan gak gitu umum he..he..
    Tapi pokoke nama Mbak sip punya, lah!
    (Eh, kayaknya sering mondar-mandir ya, Mbak? Mbok kapan-kapan aku diajak, udah lama nggak piknik nih. Ke daerah perang yo nggak papa wis)

  10. Wah… mas HS mengingatkanku untuk kembali melihat tulisan lama sesekali.
    Matur nuwun sekali mas sudah mampir.
    Ayo, mau ikut mondar-mandir ke Sampangan – Tembalang po??
    Hehe…
    Tak tunggu kopdaran di ibukotanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →