selamat hari kartini, bagi yang merayakan

Lho? Kok jadi semacam agama ya? Segenap kerabat kerja TV X mengucapkan selamat hari raya X, bagi anda yang merayakan. Haduh? Familiar dengan kalimat semacam itu kan? Nah, yang ini juga. Sudah beberapa tahun belakangan ini, hari Kartini menurutku tidak dirayakan setulus jaman aku masih wajib memakai kebaya dan pawai di sekolah dulu.
Setiap hari Kartini pasti di milis beredar tulisan-tulisan, kenapa pilihannya harus Kartini? Kenapa bukan Kristina Marta Tiahahu? Atau Cut Nya Dien, Cut Mutia, atau pahlawan perempuan lain. Padahal Kartini kan perangnya justru nggak pake senjata. Udah pula gitu, Kartini itu kirim suratnya bukannya ke pahlawan-pahlawan Indonesia yang sudah lebih dulu happening. Kirim suratnya malah ke temen-temen nonik belandanya, dan sebagainya.

Mulai dari tuduhan kurangnya nasionalisme sampai unsur politis Jawanisasi by Soeharto yang menetapkan pemilihan Kartini sebagai hari khusus dan masih banyak lagi alasan ini. Nah karena setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan, maka banyak juga yang kemudian manggut-manggut dan mikir, “iya ya… kenapa mesti Kartini?” dan seterusnya. Maka kemudian muncullah tulisan ini. Selamat hari Kartini bagi yang merayakan.

Aku sendiri, apakah aku merayakan hari Kartini? Aku merayakan hari apapun kapanpun. Bersyukur karena Kartini lahir dan menulis surat, bersyukur juga karena Cut Nya Dien berjuang dan film-nya bagus banget, bersyukur karena terlahir sebagai perempuan. Walaupun kalau misalnya saat ini ternyata aku laki-laki, aku juga tetap akan bersyukur. Bersyukur karena di dalam keluargaku aku merasa tidak pernah dibedakan hak dan kewajibannya dengan sudara laki-lakiku. Bersyukur karena memiliki ayah yang memandang ibuku sejajar, mencintainya sebagai pasangan dan bukan konco wingking, bersyukur karena tinggal di lingkungan yang semakin membuka pemikiran, dan masih banyak rasa syukur lain.
Tapi hari ini yang aku catat dan ingat dari begitu banyak tulisan yang bersliweran tentang Kartini adalah, bahwa ibu yang satu ini memilih untuk tidak mengambil beasiswanya ke Batavia dan memutuskan menikah. Ini terdengar mau enak sendiri dan males belajar dan berjuang. Eh, siapa bilang ketika perempuan menikah maka perjuangannya berhenti. Salah cuiiinnn…
RA Kartini berjuang dengan menikah. Kenapa? Menurut beliau, itu adalah short cut yang dia ambil untuk melanjutkan perjuangannya. Karena dengan menjadi istri Bupati Rembang, maka suaranya lebih terdengar dibanding dia menjadi guru bantu, setelah sekolahnya selesai. Wuah… pemikiran yang mencerahkan. Hihihi… Menjadi nyonya RI-1 juga terdengar lebih menggiurkan dan penuh perjuangan tampaknya.
Halah!! Kan, nyelimur lagi!!
Intinya, hari ini aku bersyukur dengan semua yang kudapatkan, termasuk kelahiran Kartini. And more than that, seperti yang semalam kubicarakan sama Frey dan Monang, bahwa kita semua dilahirkan untuk membuat legenda sendiri. We have to fulfill our own legend. Our destiny. Siapa tahu suatu saat nanti ada perayaan hari Dian Purnomo. Hehe..

← komitmen, again??
knowing →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Amin…

    Makanya, mulai sekarang kamu harus sortir foto2mu, mbakke.. Foto mana yang akan dipajang besok kalau ada Hari Dian Purnomo!

    Jangan kaya Ibu Kartini. Fotonya itu-itu mulu.
    Kurang mencerminkan kecentilan seorang perempuan…..

    *njaluk dihajar ki kethoke mase…* Hihihi..

  2. Aku tahu… aku tahu…
    Kamu iri karena tidak ada hari yang mencerminkan lelaki sekali.
    Iya toh??
    Masalah foto, sebenarnya itulah alasanku kenapa begitu gemar mengabadikan diri belakangan ini.

  3. Iya dhek Aya.
    Menciptakan legenda sendiri. Menjadi pemeran untuk film yang ditulis sendiri naskahnya. Menjadi lirik untuk lagu yang diciptakan sendiri nadanya.
    Halah! aku puitis..

  4. Pure… pingin menghormati lawan jenisku… hehehehe…

    Terserahlah mau Kartini..atau Sartika … yg penting Perempuan… hehehe
    “Selamat Beremansipasi”

  5. hari yang aneh, karena sudah banyak keluarga yang sadar akan hak-hak perempuan, namun untuk menciptakan nilai-nilai bagi anak-anak mungkin sangat penting dan tentunya harus dilakukan setiap saat bukan… semoga saja bagi para penerus nilai-nilai ini bisa dicerap dan tidak ada lagi perlakuan salah kepada perempuan….

  6. *menjadi lirik untuk lagu yang ditulis sendiri nadanya????*
    Ndak menjadi penyanyinya saja kah dhek diyan? Seperti dhek aya dulu pernah bilang: “dhek diyan itu sebenernya suaranya bagus.. Hanya saja belum menemukan lagu yang tepat..” (Hihihi) brati memang kudu ditulis sendiri lagunya ya dhek.. Supaya dhek diyan jadi penyanyi terkenal seperti dhek agnes misalnya. Khan sudah diawali dengan hair cut..

  7. coba pemerintah menetapkan hari Kartini sebagai tanggal Merah yang artinya hari libur nasional mungkin banyak orang yang mengingat Hari kartini … hu ehe he he

    btw salam kenal iach….

  8. @Achoey: setuju!!
    @Xitalho: bukan cuma lawan jenis, cintai sesama mahluk deh.
    @Suryaden: bijak kali… amien
    @Dhek Aya: percayalah, suatu saat akan ada yg menikmati laguku (ngarep)
    @Olip: whuaaa… enak. Aku juga mau..

  9. OJ, lucu2 comment nya..setuju2 menurut saya kita harus lebih sering mempublikasikan diri sendiri..salut OJ..ech ini kok jd seperti web nya OJ ya?

    Diyan, as always..you are good with words..

  10. mungkin mbah kartini dipilih dengan alasan yang sama dengan dipilihnya hari kebangkitan nasional, bukan ngambil yang make kekerasan tapi ngambil momen dimulainya perjuangan kaum intelektual. mungkin lho ya…

    ikut ngucapin selamat hari kartini buat yang merayakan…
    *emang dirayakan ya?*

  11. Wew..
    Kenapa bukan..
    Cut Nyak Dien..
    Ato Tiahahu..
    Kenapa?
    Bukan juga karena suku Jawa..
    Lalu kenapa?
    Itu karena..
    Peperangan sesungguhnya untuk para wanita..
    Hanya digagas dan dicontohkan oleh Kartini..
    Waktu itu..
    Peperangan melawan apa?
    Kebodohan..
    Ya, itulah musuh sebenarnya dari wanita..
    Kebodohan..
    So bukan pedang untul melawannya kan ce..
    Hehehe..
    Met knal ya ce.. πŸ˜‰

  12. rodo serius kiye ya bu. Kartini nikah tu bkn pilihan dia (maap,mungkin buku sejarah kita beda,idep-idep *indonesiane idep-idep apa bu?bkn bulu mata-bulu mata to?* buat sudut pandang laen)jd ceritanya mister abendanon tu kuatir dg semangat kartini yg pengen minterke perempuan jawa,hingga disusunlah suatu konspirasi cara ‘membunuh’ kartini tanpa menimbulkan huru hara mengingat dia putri bupati.abendanon tau, yg namanya bangsawan tu tatakramanya tinggi terhadap ortu. dia merayu ayah kartini utk melarang kartini sekolah ke belanda setelah sebelumnya melarangnya ke batavia. dengan alasan utk mempererat hubungn rembang jepara,abendanon menyuruh bpk kartini menjodohkannya dg bupati rembang yg sudah punya gamblekan 2 (ato 3?gamblekan bahasa alusnya garwo ampil)dan you know,adat saat itu seorang istri ya ‘cuma’ konco wingking even istri bupati. i’m sure kartini knew that,jd kyknya gak mungkin dia punya pikiran spt yg njenengan tulis.FYI dari yg kubaca, sobat2 penanya pun itu orang2e abendanon yg diminta menggali apa yg ada di pikiran kartini. intinya, kartini dibunuh dg budayanya sendiri,budaya kepatuhan anak terhadap bapak,budaya pengabdian total pada suami. seorang gadis muda yang penuh semangat,dinikahkan dg lelaki seusia ayahnya,yang mana laki2 itupun dah punya ‘istri’,yang mana -lagi-jadi istri saat itu ialah semacam mengikatkan rantai pd jiwanya…siapapun dia pasti mati ngenes…..hiks . oya, habis gelap terbitlah terang itu bukan kata2 kartini,tapi armin pane.kartini bilangnya ‘dari kegelapan menuju cahaya’ krn dia betul2 terpesona pada ayat alqur’an ‘minadz dzulumati ilannuur’,dia dapat kado terjemahan alqur’an pd hari pernikahannya dari Kiai Soleh darat,sayang cuma 15 juz krn Kiai keburu wafat. btw, Kartini pernah ngambeg ga mau ngaji gara2 guru ngajinya marah saat dia tanya arti ayat2 alqur’an,sampe2 dia nulis srt ke sohibnya ‘ngapain gw pating dremimil baca kalo gak tau artinya’.bener2 kritis ya dia…hayooo yang di KTPnya agamanya Islam…Qur’an terjemah dah ada lho…baca yuuuukkk…(sumpah tulisan ini zonder maksud menandingi panjangnya tulisan yang punya blog, tapi didasari niat tulus mengungkap sejarah yang mungkin tertutup oleh ‘kebijaksanaan penguasa’)maafkan aku ya buuuuuuu

  13. cita2mu utk jd istri RI-1 mungkin hrs didelay bu…masmu kayane meh dadi ‘konco sampinge’ (bkn konco wingking nggih!) mbak mega…jan eman2 tenan (mugo2 sidane karo JK wae)

  14. semalam antara sadar dan tidak ada yang negur aku salah nulis sejarah lalu diingatkan. oke, i made mistake.jadi ,abendanon bukan mbujuk ayah kartini untuk njodohin,melainkan mbujuk bupati rembang untuk melamar kartini. ayah kartini moderat, maka kartini dipanggil untuk menjawab sendiri lamaran itu.bisa jawab apa dia selaen ‘yes i do’?, mengingat kalo dia menolak dia tau akan membawa akibat buruk bukan hanya untuk diri dan keluarganya melainkan untuk rakyat 2 kabupaten. Nggak diancam sih, tapi kartini cukup cerdas untuk memikirkan akibat penolakannya dengan cepat. jadi dengan ini aku udah merevisi komenku (komen?artikel kaleeee!) sebelumnya….maaf lagi ya buuuuuuuu

  15. bu liyak, santai rak wis…
    namanya juga my two cents. so you can have your other cents as well.
    dan aku percaya setiap mata uang punya dua sisi yang berbeda. pelangi nggak cantik kalo warnanya cuma satu, hehe…
    love you still, sist. for being whatever you are.

  16. waduh telat nih…
    selamat hari kartini deh (bagi yang merayakan yah)

    semoga semangat kartini masih bergelora di dada kaum perempuan negeri ini

    amin

  17. terlihat basi gak ya kalo aku masih komen di sini? πŸ˜€
    dan bukan bermaksud untuk keminter apalagi menggurui, tapi siapa tahu bisa jadi pencerahan.

    jadi gini coy…
    secara sosiologis, masih banyak bangsa di dunia ini yang bersifat simbolik. butuh sebuah simbol, butuh penokohan, untuk membuat suatu gerakan bermasyarakat. Pun dengan indonesia. masyarakat kita tidak semuanya “melek” dan terbuka pikirannya. jadi kita masih butuh simbol2 dan penokohan. Layaknya Ki Hajar, sukarno ataupun Kartini. Lalu kenapa harus Kartini yang dijadikan simbol untuk gerakan emansipasi wanita di negeri ini? Timbul pertanyaan, Siapa lagi kalo bukan dia? πŸ˜€
    pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang dilakukan Kartini adalah suatu hal yang istimewa? SANGAT ISTIMEWA. Trus apakah yang dilakukan Kartini bisa menginspirasi banyak orang? YA. lalu apakah yang dikerjakan Kartini berpengaruh bagi bangsa kita? TIDAK!! Pada masa itu, Dewi Sartika pun melakukan apa yang dikerjakan Kartini. Tapi semuanya bersifat lokal dan kedaerahan, layaknya perjuangan Cut Nyak Dien atau Kristina Martha. Itulah kenapa Cut nyak dien dibuang ke Sumedang oleh belanda dan bukan ke luar Indonesia, karena Sumedang bukanlah yang diperjuangkan Cut Nyak Dien.

    Jadi intinya Kartini hanyalah sebuah simbol yang bisa menginspirasi kaum perempuan, tapi pengaruh yang dia lakukan tidaklah besar. beberapa pertanyaan retoris… Apakah tanpa kartini, gerakan emansipasi bakal tidak ada? apakah kita tidak bisa melihat SK Trimurti ikut berjuang untuk memproklamasikan negeri ini? apakah tidak akan ada Yayuk Basuki, Susi Susanti? apakah Nirmala Bonat tidak akan menjadi tulang punggung keluarganya? apakah kita tidak bisa melongo saat liat Prisa dengan Flying V nya di Dead Squad? apakah Dian Purnomo hanya akan jadi tukang cuci, masak buat keluarganya? πŸ˜€ πŸ˜€

    Mari kita bandingkan dengan Jepang. Budaya mereka terhadap kaum perempuan sangatlah ketat bahkan sampai sekarang. Putri Akiko sampai stres berat ketika harus memasuki kehidupan istana. tapi tanpa sebuah tokoh dan simbol, karena pola pikir mereka, Kimiko Date tetap bisa mengacak2 Wimbledon, remaja2 perempuan mereka bisa bikin terbelalak para pengamat mode saat mereka berdandan dan berdiri di daerah harajuku, bahkan mereka bisa punya yang kita tidak mungkin bisa miliki di indonesia, siapa lagi kalo bukan Miyabi!! πŸ˜€

    jadi saya sangat tidak setuju dengan WR Supratman di lagu Ibu Kita Kartini, di akhir lagu…”…sungguh besar cita2nya bagi Indonesia” πŸ˜€

    hidup perempuan Indonesia….

    idih…idih…panjang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →