Arisan FeMale 80s

Niatannya sih bikin Arisan FeMale di Jogja dengan tema 80-an. Tapi rupanya kesalahan terbesar adalah bikin dress code 80-an juga. Hellloowww… hari gini semua baju kan sebenernya lagi balik ke tahun 80-an? Jadi nggak keliatan bedanya deh, sama dandanan hari-hari.

Coba lihat jeng-jeng sahabat FeMale di Jogja ini? Hayooo… apa bedanya, dandanan mereka sama kalau lagi mau ke mal? Belum lagi, jeng-jeng yang barusan pulang dari kantor. Fiuh… Nggak mungkin kan, maksa mereka pulang dulu, ganti baju!

Tapi over all nyenengin deh. Akhirnya Jogja berarisan FeMale lagi. Yang belum keundang, sabar… bulan Juli ini kita bakal bikin lagi yang lebih seru. Jadi, siap-siap yaaaa…

Dan inilah para pasangan berbahagia yang telah dengan sepenuh tenaga berupaya untuk tampak seperti tante-tante dan om-om di tahun 80-an dulu.

Dari kanan ke kiri: Yanto-wati, Nuri-wati, Dian-kencur, Wenda-renda, Felix-kencur, Mamat-o, Agung-patul, sanchez-Arwin, Rini-wati, Doni-mayoni, banner FeMale.

← KING
King on FeMale Jogja →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. ih udah beberapa kali gw rencana pingin ikutan ga jadi jadi!!!! ga ada kelompoknya melulu 🙁 padahal pengen banget!!! hmmm nanti kalo ada lagi beneran ikut aaaaaaaahhh

  2. Dengan hormat dan rasa bangga,saya hadiahkan award untuk anda.Mohon dilihat di blog saya.Selamat,semoga dengan award ini bisa memacu semangat untuk menulis artikel yang menarik dan bermanfaat lainnya.
    Salam dari Surabaya.

  3. @sastro: keliatan angkatanyaaaaa…
    @andyan: amieeennn
    @nat: nah loe!!! beneran yaaa… besok lagi ikut!
    @si gembala: sama! saya juga…

    @abdul: terharu… saestu saya teruharu.. nuwunnn sanget

  4. @bunga: sedaaaappp… paling sejuk baca sajakmu

    @arc: towel balik ahhh

    @kuliah: amien

    @aden: ada cowoknya kok…

    @lindabelle: mari kita reuni. mau di-arrange-kan sama FeMale? 😉

    @mas: hahaha… kayak Marlyn Monroe gitu yak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →