sexy underwear adalah sebuah investasi

Wah, sebuah judul yang agak kurang sesuai dengan hati nurani saya belakangan ini, yang terakhir kali membeli underwear sexy adalah 15 tahun yang lalu. Saya masih 18 tahun waktu itu. Mmmppphhh… Umur 18 tahun adalah umur yang paling sexy menurut saya. Dan itulah kenapa saya selalu memberi ucapan ulang tahun pada teman-teman dekat saya dengan:

You’re not x (merujuk angka ulang tahun sesungguhnya), you’re 18 with x years of experience. x yang kedua ini adalah sisa umurnya setelah dikurangi angka 18.

Dan kembali ke masalah sexy underwear tadi. Saya kemarin mendapatkan kiriman foto di facebook dengan judul serupa judul tulisan ini. Gambarnya adalah seperti ini:

Maaf ya, saudara Dion, I really hope that that’s not your underwear. Cos if it is, I’d tell you something, that that’s not sexy at all. Not even close. Hihihi… Kidding, brader… Karena menurut saya sexy letaknya tetap di dalam kepala. Saya pernah tergila-gila pada orang yang menurut saya sexy, setelah ngobrol dengannya selama 2 jam tanpa henti. Saya beranggapan seorang aktor atau aktris sexy setelah melihat aktingnya di beberapa film. Javier Bardem itu sangat tidak tampan, tapi dia sexy.  Karena kalau dia tidak sexy, dia tidak akan bisa tampak mempesona meskipun dalam keadaan lumpuh di salah satu filmnya. Rachel McAdams sangat sexy di film Sherlock Holmes. Karena dia menandingi kecerdasan tokoh utamanya. Dan saya yakin CD punya Dion tadi akan tampak jauh lebih sexy kalau sang empunya sudah menceritakan pada saya, tentang perjalanan dan perjuangan si CD orange itu.

Sekarang tentang sexy underwear yang menurut teman saya adalah investasi, well saya bisa memahaminya. Itu terjadi pada saya. Saya suka pakaian longgar. Kecuali untuk dalaman. Saya bisa membeli pakaian seharga 5000 rupiah di awul-awul, tapi saya tidak bisa membeli pakaian dalam sembarang merk. Total belanja hidup saya untuk pakaian, yang terbesar memang untuk yang bagian tidak terlihat itu.

Pada suatu hari mantan suami saya pernah memprotes, kenapa harus pakai yang mahal-mahal, toh tidak kelihatan? Terus kenapa harus memakai yang bagus-bagus untuk bepergian?

Owh, saya punya alasan bagus untuk kedua pertanyaan ini. Dan setelah melalui survey pada beberapa teman perempuan, mereka memiliki jawaban yang sama. Pertama, kenapa harus mahal? Karena yang mahal kualitasnya biasanya lebih baik. Lebih nyaman dipakai, lebih awet, bentuknya lebih indah, dan membuat kita lebih percaya diri. Tidak kelihatan? Ya jelas, wong namanya saja underwear. I’d rather wearing nothing under, than wearing underwear that means nothing to me. Kenyamanan buat saya adalah segalanya. Halah!! Siapa elu!! kata Sammy, alter ego saya.

Sekarang jawaban untuk pertanyaan kedua, kenapa justru memakai dan membawa underwear yang bagus-bagus untuk bepergian? Karena, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Bukan berarti ada niatan untuk one night stand sama orang luar lho, tapi sebuah pengalaman menarik dialami sepupu saya. Dia pingsan. Dibawa ke sebuah klinik kesehatan terdekat. Dokter membuka baju luarnya, maka tertinggallan underwear yang ada bolongnya, juga beberapa benang karet yang menjuntai di sana-sini. Owh… sepupu saya itu sungguh cantik lho. Tapi begitu sadar, dia ingin berubah menjadi pangeran kodok. Dia merasa kecantikannya sia-sia. Sahabat saya yang tidak punya pengalaman pingsan, lebih ekstrim lagi, dia tidak mau pergi dari rumah kalau underwear-nya tidak sepasang. Mhhh…

Harga diri, rasa nyaman, percaya diri, adalah sebuah bangunan yang didirikan dari berbagai bahan baku. Dan bahan baku itu harus bagus, karena dia adalah investasi kalau mau bangunan itu kuat dan tahan lama. Dan diantara bahan baku yang dibutuhkan itu, terdapatlah beberapa hal, yaitu ilmu, kemampuan berkomunikasi, kecerdasan menata emosi, kemauan memahami orang lain, dan tentu saja underwear tadi, sebagai salah satu elemen pentingnya. Kalau ibarat bangunan, dia adalah catnya. Penting kan?

Pesan ini disampaikan oleh, beberapa produk pakaian dalam yang belakangan terlalu banyak memproduksi model berbahan linen. Please, give us more cotton. Trust me, comfortable and sexy could walk together.

← gitu aja kok repot
Dituduh HIV, Diasingkan di Kandang Sapi →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. Gyahahahahaha….

    Gw terbahak-bahak baca ceritanya. Kalo seandainya saya jadi sepupu Mbak itu, lebih baik pingsan selamanya dan bangun-bangun di pulau sendirian, daripada menyadari bahwa ada orang lain tahu benang-benang mennjuntai itu…

    Hahahaha….

  2. Dear dian,

    Thanks udah menulis ttg sexy underwear is an investment. Being sexy for your partner is an investment, bagaimana kita terlihat sexy dan bergairah di tempat tidur hanya dengan ber underwear ataupun lingeri yg sexy that why I consider an investment for me sebuah product bercetakan indah tak akan membangkitkan apetite saya gitu deh kira kira analoginya. So this investment is part of the love investment too. Cheers

  3. For me, the sexiest part of a human is brain. KAlo maish butuh cat, tengoklah kayu jati. Malah lebih oke tanpa dimacem-macemin..

    *omongan yang ga punya sexy undies.. hahahhahhahahaaa

  4. Iya… bener absolutely 100% cotton is the best for my tool! BTW CD yang dipajang disini jelek banget seeeeh. 🙂 ngebayangin jangan2 isinya juga buruk rupa ya. wakakaka pisss ah

    Sekarang tugas produsen pakaian dalam tertantang, mau bikin yang nyaman atau yang sexy doank. Mau buat berbahan cotton atau bahan lenin yang bikin iritasi tool? 🙂

  5. Mbak dian, artikelmu boleh aku upload ke ngerumpi[dot]com gak? keknya megang banget nih buat bacaan disana hahaha~

  6. saya setuju 100%, daleman yang bagus memang membuat kita lebih percaya diri karena percaya diri juga harus didukung oleh kenyamanan. Gimana bisa percaya diri kalau daleman kita bikin gerah..

  7. Silahkan dhek Didut…
    Shantoy, about sexy brain, no doubt about it! yippie!!
    Dion, you’re so damn sexy, brader, with or without sexy undies. trust me… miss you like hell!!
    Pakde, itu undie-nya Dion….. hihihi

  8. Wah… kalo nengok UW di emol.. yang brendid itu…
    harganya jauuh… lebih mahal dari baju yang biasa saya beli.
    Jadinya nunggu sale 70% baru deh bisa kebeli 🙂
    Emang sih kualitasnya jauh lebih bagus…

  9. Terkadang [disana loh bukan disini :lol:] Kalo jalan keluar pake underwear sexy nan mahal, tapi kalo dirumah pake underwear seadanya bikin suami-suami jadi loyo.

  10. wahaha
    keren nih posting-an.
    kalo gue sih selalu sok keren a la rock star.
    kalo mo pergi ke luar kota pake underwear baru.
    takut ada yang mo minta buat memorabilia nanti
    hihiihi

  11. huahhahah….
    Emang benerrrrr banget…
    Aku paling ribet kalo nyari bra….
    soalnya selain harus nyaman…kalo pake baju yang agak ketat, bentuknya juga harus keliatan rada bagus lah…

    Kecuali kalo di rumah yaaa…no bra…hihihi…

  12. hyahahaha pengalaman sepupunya kurang lebih sama dengan saya. pas pengalaman pertama kali ke obgyn, katanya mesti usg sedangkan yang ada di pikiran saya, usg itu cuman monitor lewat perut. ternyata oh ternyata … 😳

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →