Kontes: Oleh-oleh dari Vienna

Hai, ini masih dalam rangka promosi novel ke-3 saya DUA SISI BINTANG saya bikin kontes nih… Ikutan ya…

Caranya gampang kok. Saya cuma pengen lihat foto anda barengan sama si novel itu, boleh pura-pura lagi baca, boleh dipegang aja, atau mau atraksi yang lebih seru barengan sama novel itu juga terserah. Nah, foto itu silahkan di upload di web anda, lalu link-kan ke saya. Atau kalau mau yang lebih gampang, up load di facebook dan tag-kan ke sana. Ini link facebook saya.

Nah, kriteria yang menang adalah, mereka yang mendapatkan like dan komen terbanyak. Saya akan bawa 3 oleh-oleh dari Austria untuk 3 pemenang.

Mmm… kalau ada yang masih belum punya novelnya, silahkan hubungi saya ya. Boleh di sini, boleh di twiter saya, boleh di facebook saya. Silahkan…

← Road to Europe
jangan foreplay di tempat gelap yuwk... →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Duh, kalo pemenang dilihat dari komen dan like, suka mengkeret duluan, maklum fb saya ‘sepi peminat’, hihihi…
    Btw, deadline kontesnya sampe kapan, Mbak?

  2. wah! asyoi banget tu mbak?
    kalo mejeng sambari e’e, maaf? bole ngga
    hahahah.. cuman nyari ide, jgn marah dulu yeh..?
    sakses dah! ;b

  3. mba Dian… saya dan teman kemaren yg beli dua buku “dua sisi bintang” di radio female jogya. mba dian sdh berangkat, sayang sekali ga bisa minta tanda tangannya… hihihi
    btw, tanpa ada kontes ini, saya berniat ntuk review novel tsbt baik di blog maupun di fb saya. nuhun sanget mba dian dan salam kenal.

  4. yang promosi… yang promosi…
    ayo… ayo…segera dapatkan di toko buku terdekat..
    qkqkkqkq,,,, semoga sukses dengan novelnya yang terbaru yaaaaaa πŸ˜‰

    btw,,, QK pengen ikutan… tapi lum ada yg dipake bergaya ney :mrgreen:

  5. @prof Helga: mumpung webnya gratis prof πŸ™‚

    @Sinyo: terima kasih Sinyo, saya akan siap membaca πŸ™‚

    @Advent: silahkan beli ke saya πŸ™‚

    @Kika: ayo dong, belajar gaya πŸ™‚

    @Aan: gak usah daftar kok, langsung aja… harga novelnya 40 ribu

    @Codet: hehe, bisa belajar dr majalah kok πŸ™‚

  6. (blogwalking)salam kenal aja ya….
    numpang info ya om, tante, mas, mba, dll…
    bagi temen2 yang ingin bertukeran link dengan tujuan sama sama meningkatkan traffic, kunjungi blogku yg baru PR-3 di sini, http://agrit.web.id dan http://www.unek2ku.co.cc , kita tukeran link gratis bagi sapa aja, pasang linkku di web/blogmu, kl sudah, konfirmasi via komentar. ane cek setiap hari, jd jangan kuatir kl g dipasang….
    skalian mau tukeran link ya om, tante, mas, mba, dll, link blog ini dah ditambahkan di blog ane cek disini, tolong linkku dipasang juga yaa….

  7. Woow. btw novelnya udah ada di gramedia bandung blm mbak?? soalnya saya blm punya uy. kalau emang ada, saya mau beli. πŸ™‚ nanti minta tanda tangannya y mbak. hehe..

  8. saya juga blm punya mba πŸ˜€
    besok lah ke gramed.. atau pinjem punya tmn dlu utk ikutan kontesnya πŸ˜€

  9. Tak satupun kontes yg pernah saya ikuti, sempat ingin mencoba ikut, tapi belum kesampaian (alasan klasik, sibuk)

  10. @Agri: diterima titipannya πŸ™‚

    @Eka & Hanafi: aku self selling, jadi pesen di aku ya..

    @Orange: ayo ayo.. tak tunggu pesenannya

    @Tomi: hah? mau minjem siapa?

    @Bima: salam kenal kalo gitu πŸ™‚

    @Noto: semoga kali ini udah nggak sibuk ya

  11. blogwalking yah mbak πŸ˜€

    wah sukses buat bukunya deh,hhi kalo masalah lomba di fesbuk sama kaya di atas deh. jarang banget buka,mana ada yg mau ngelike.hhi.

  12. @Advent: siap nanti berkunjung lagi ya saya

    @Ahmad: matur nuwun

    @Volver: silahkan… saya tunggu BW berikutnya πŸ™‚

    @Julian: aduuhh… terus gimana ngebuktiinnya coba, kalo saya bener2 perempuan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai β€˜anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, β€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak β€œIyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca β€œini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →