Mulai lagi

It’s been forever since my last writing kayaknya. Nggak tahu selama ini kemana aja, sampai nulis pun susah. Padahal janjinya mau jadi penulis. Well… so I started with review tahun 2014 saja.
Tahun 2014 adalah tahun perubahan menurut saya. Bukan hanya perubahan saya sebagai individu, tapi perubahan di banyak hal di muka bumi Indonesia ini. Maaf, harus kembali mundur ke masa Pemilu. Terpilihnya Jokowi membuat saya dan banyak teman sealiran sedikit lega dan memiliki harapan baru. Setelah pemimpin sebelumnya yang selama 10 tahun seperti membuat darah para korban reformasi sepertinya tertumpah sia-sia, semoga yang kali ini adalah jawabannya. Tapi tunggu, 10 tahun yang lalu saya juga mengatakan hal yang sama tentang SBY. Dulu dengan bangga saya bilang ke semua orang kalau saya nyoblos Demokrat. Sekarang saya malu dulu memilih partai yang memberi saya harapan besar itu. Jadi kali ini, saya tidak akan mengulangi khayalan yang sama.
Siapapun presidennya, perubahan di dalam diri saya tidak menunggu dari mereka. Saya akan terus bergerak dan berubah.
Tahun 2014 juga tahun perjalanan. Keduanya semacam keajaiban yang setelah berada di tahun 2015 sekarang, saya nggak habis pikir bagaimana hal seajaib itu bisa terjadi, tanpa campur tangan yang Maha ajaib.

Swiss, Juni 2014
Saya masih belum bisa move on dari perjalanan ke dua negara tersebut. Setelah mendapat undangan dari ADI (Alzheimer’s Disease International) untuk mengikuti Alzheimer University, sebuah training tentang Alzheimer selama 3 hari di Geneva, mereka tidak pernah membalas semua korespondensi kita di e-mail. Jadi ragu-ragu dong, sebenernya diundang bener atau enggak sih. Karena kalau mesti berangkat sendiri, lumayan juga kan pengeluarannya. Kalau under undangan ADI, mereka mensubsidi untuk tiket. Akomodasi di Geneva sih ditanggung sama ADI.
Sudah di e-mail berkali-kali, tidak ada balasan juga. Baru H-2 minggu ketahuan bahwa selama ini mereka tidak menerima korespondensi kita. Cyber-lost ya istilahnya. Jadilah mengurus visa dalam 2 minggu. Setelah mendaftar online, dapat jadwal wawancaranya saja setelah tanggal keberangkatan. Pusing… Nyari orang dalam agak susah, karena memang nggak punya. Lalu setelah direkturnya ALZI dengan magic hand-nya menghubungi duta besar Mexico dan meminta bantuan agar – siapa tahu – sesama duta besar bisa membantu, baru ada pencerahan. Wawancara visa H-2. Visa keluar H-1. Tiket pun resmi dibeli H-1. Harganya? Hahaha… selamat tinggal tiket murah. Kantor jadi harus nombok banyak untuk ini.
Perjalanan di Swiss sudah pasti menyenangkan, walaupun beneran bukan untuk traveling. Tapi bertemu sepasang suami istri Indonesia yang sudah 14 tahun tinggal di Geneva, yang menjamu kita dengan rendang dan nasi putih angetnya, sungguh sesuatu. Satu hal yang saya lihat dari pasangan Anies-Bantan adalah, they’re so lovely. Mengingatkan saya pada iklan KB tempo dulu. Suami istri bahagia dengan anak laki-laki perempuan yang manis-manis. Udah gitu, pernah sekali atau dua kali ya, mas Bantan bisa pulang ke rumah untuk makan siang. What? Di Jakarta ada kejadian kayak gitu? Jangan harap! Di Geneva nggak macet-macetnya acan. Keren.
Saya dan Rokky merasa sangat spesial di Geneva karena last minute dapat akses untuk berkunjung ke dapurnya UN. Thanks to mas Bantan & kakak Anies for this. You are owsem.

Belanda, Juni 2014
Perjalanan ke Belanda juga seperti mimpi. Awalnya saya nggak berniat ke Belanda karena jauh dan mahal. Tetapi karena teman seperjalanan saya mau ke Belanda untuk bertemu ibunya yang sudah 6 tahun bekerja di sana, maka saya tergoda. Well, tergoda banget tepatnya. Madurodam selalu menjadi mimpi saya, Amsterdam adalah salah satu list yang saya masukkan ke dalam daftar wajib dikunjungi before I die. So, dengan bermodal kartu kredit untuk membeli tiket KLM Geneva – Amsterdam, berangkatlah saya ke sana.
Belanda adalah pure jalan-jalan. Nggak masuk ke museum-museum sih, karena waktunya nggak cukup. Karena saya Cuma punya tiga malam di sana. Maka berjalan-jalan menyusuri gang-gang red light district, makan di restoran China dengan sup hangat, mengunjungi dan berfoto di depan kincir angin di kota sudah cukuplah, juga menghabiskan satu hari untuk ke Den Haag dan berkeliling di dalam Madurodam Theme Park. Maka dengan berada di dalam Madurodam yang merupakan replika Belanda itu, saya bolehlah berkata bahwa saya sudah berkeliling Belanda, di tanah seluas beberapa hektar itu.
Last but so so so not least, mengunjungi sahabat saya, belahan hati saya, Icha yang baru saja tiba di Belanda. Dia akan tinggal di sana untuk setidaknya 3 – 5 tahun. Well, Cha… aku sudah mengunjungimu ya. I’m a person of my word, walaupun kayak sulapan yang Cuma beberapa jam saja, sambil merampok padamu untuk minta sangu pulang. Hahahaha… Suatu saat tak tukar ya, 40 Euro-nya. Sungguh, sahabat yang memalukan aku ini. Lagian, siapa suruh negara ini transportasinya semahal itu. Fiuh… Now, be good in there ya…

India, November 2014
Yang ini lebih ajaib lagi. This one is totally my mistake, my bad, and I’ve been punished already. Saya salah menghitung kadaluwarsanya paspor. Seharusnya saya tahu kalau paspor expired April itu, sejak Oktober harus sudah diperpanjang. Dasarnya slordeg, ya sudah… Last minute saya baru panic at the disco. Dan saya harus melakukan adegan jungkir balik untuk bisa mendapatkan paspor itu tepat waktu. Calo? Sudah pasti! Saya nggak punya teman yang duduk di kursi tertinggi imigrasi. Sayangnya, calo saya kurang canggih. Di hari keberangkatan paspor saya belum jadi. Alasannya: terjadi pergantian pimpinan. Saya nangis bombay, jauh sebelum datang ke negeri Bombay. Tapi saya ingat kedua sahabat saya yang super baik, mengajak saya makan malam sambil mentertawakan saya dengan penuh semangat, “Di, if it’s gonna happen, it’s happened.”
And it’s happened. Terlambat satu hari, saya berangkat juga ke India. The drama is over? Not yet! Jangan seneng-seneng dulu. Walaupun hari sebelumnya saya sudah mengganti tanggal keberangkatan, mereka bilang saya cuma bisa sampai di KL, karena KL – Delhi-nya tidak diganti. Duh, ngajak perang nih Malaysia Airlines. Setelah menelepon KL selama 1 jam tanpa hasil, mas Dimas yang baik hati dan ramah di kantornya MAS di Sukarno Hatta justru yang menjadi penolong saya. Makasih ya mas…
Finally, perjalanan ke India cuma semacam legalisasi di paspor, bahwa saya sudah pernah masuk negara itu. Dapat cap datang dan cap pergi.
Sebagai pemanasan, tulisannya sampai di sini dulu lah ya. Lessons learned? Be prepared. Be very prepared.

← ketika anak melanggar
Bukan Kita →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →