Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami baru bisa berangkat pukul 5 pagi dari Waikabubak. Maka kami harus cukup berbahagia dapat duduk-duduk di pantai dari pagi hari, melihat orang-orang membersihkan babi & anjing untuk menjadi santapan pesta setelah Pasola selesai.

Ketika awal melihat bagaimana babi-babi dibersihkan dan dipotong-potong, kami masih takjub saja. Tetapi waktu mata salah satu dari kami memicing dan mempertanyakan, apakah itu juga babi? Baru lah kami semua meringis. Anjing. Jadi anjing juga menjadi santapan pesta di sini. Padahal mereka juga sahabat sekaligus penjaga rumah bagi orang-orang di sini. Ini mengingatkan saya di salah satu FGD yang kami lakukan, ada keluarga yang memiliki anjing yang bagus. Demi sopan santun dan memang karena ingin tahu, saya bertanya, “Anjingnya namanya siapa?” Jawabannya adalah, “Anjing. Namanya anjing.”

Terjawab sudah mengapa anjingnya tidak diberi nama, mungkin untuk menghindari relasi yang terlalu personal. Mana tahu nanti anjing itu akan berpindah ke piring. Saya tidak berniat menghakimi, tapi kawan-kawan dari Dogs are not food pasti pilu mendengarnya. I feel you, guys.

Ok, kita kembali ke Pasola. Pukul 11.30 setelah Bupati dan rombongannya datang, barulah Pasola dimulai. Dua orang menunggangi kuda nyale masuk ke lapangan dan langsung menuju ke arah Bupati untuk kemudian mendapatkan berkat doa dari pendeta agar acara berjalan lancar, tidak ada permusuhan dan berakhir dengan damai.

Pasola memang berjalan lancar. Lempar melempar bambu terus bergulir. Setengah jam pertama kami begitu girang dan ikut terbawa arus. Kalau ada yang berteriak-teriak menyemangati, kemudian disahut dari kubu lawan, kami berlomba-lomba mencari sumber suara supaya bisa mengabadikan dengan video. Tetapi menit-menit berikutnya saya merasa bosan. Kalau cuma lempar-lemparan aja, nanti kita-kira akan diakhiri dengan apa ya? Apakah waktu, atau ada yang menghitung banyaknya tim yang terkena bambu, atau dari banyaknya sorakan penonton?

Pertanyaan ini terjawab kira-kira pukul 13.30. Tetiba tua-tua adat yang di awal membuka Pasola, masuk ke lapangan bersama dua ajudan. Mereka mengendarai kuda-kuda yang gagah, meneriakkan sesuatu dalam bahasa Sumba. Saya dengar bisik-bisik tetangga, katanya sudah berakhir. Lalu saya dengar ada yang bisik-bisik, “Ribut ini kayaknya.” Saya entah mengapa girang mendengar bisikan itu. Hehe… kebosanan dua jam menyaksikan kuda berlari-lari dan orang lempar melempar bambu akan terobati dengan keributan.

Rupanya saya salah, ini ributnya ribut beneran. Tiba-tiba ada suara ledakan dan asap mengepul ke angkasa dari arah penonton. Lalu suara tembakan sekali dan mata saya pedas. Hardie salah satu teman bilang, “Shut! Gas air mata. Merem. Jangan dikucek!” Kami yang duduk di tribun segera meraba-raba arah angin dari mana. Pedihnya arah angin tepat dari suara pistol tadi ke arah kami. Maka menundukpun percuma. Tiga tembakan gas air mata berikutnya menuntaskan kepedihan mata kami. Membuka mata sama sekali bukan hal yang mudah. Ketika akhirnya berhasil berkedip-kedip, tribun sudah kosong dan di bawah ada beberapa petugas yang menyuruh kami segera mundur dan berpindah ke rumah warga.

Singkat cerita, dua jam kemudian mata kami sudah tidak pedih lagi. Kami dijemput oleh tim lain dan segera kembali ke hotel.

Agak sedih ketika akhirnya saya menulis judul ini, Pasola Budaya Kekerasan. Tetapi semalaman saya memikirkan bahwa memang itu hal yang terpikir oleh saya pertama kali. Lempar melempar bambu, yang konon dahulu kala bambu yang dilempar dalam kondisi runcing. Kerusuhan yang terjadi karena ketidakpuasan kubu yang kalah, kabarnya. Tetapi dari bisik-bisik yang lain, kami mendengar bahwa rusuh ini bagian yang rutin terjadi. Setiap tahun lokasi rusuhnya saja yang berbeda. Tahun ini kebetulan di Kodi, tahun lalu kabarnya rusuh yang lebih besar terjadi di kecamatan lain.

Salah satu list to do things before I die saya adalah menonton Pasola secara langsung. Rasanya tidak rela gitu, kalau sesuatu yang saya idam-idamkan ini ternyata sarat kekerasan. Gimana ya kira-kira cara mempertahankan budaya-budaya indah seperti Pasola ini, tetapi perlahan-lahan mencoret unsur kekerasan di dalamnya? Karena saya hampir yakin Pasola bukan satu-satunya yang memiliki unsur kekerasan.

← Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer
Kartini, Sebuah Reminder →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →