5 alasan “boleh” mabok

  1. Karena ada yang ngajakin. Jadi ada alasan bahwa, it’s socializing, dear… so, come on. Apalagi kalo yang ngajakin adalah temen deket, sodara, temennya temen deket, klien, calon mertua, calon pacar, calon ipar, yang udah datang jauh-jauh dari luar kota. Hiks..
  2. Karena malam begitu dingin. Yak, mari kita review, apa saja benda-benda hangat yang bisa membantu mengusir kedinginan? Kompor. Yakin? mau berdiang di depan kompor semalaman? Kopi. Mmm… itungan 30 menit udah dingin. Girl/boyfriend? Psstt… lebih seru kalo meluk-meluk mereka disaat badan kita hangat karena alkohol. Apalagi kalo mereka juga udah ‘kena’… slrruuupp. Definitely tempting!!
  3. Karena dengan mabok, kita jadi punya masalah baru. Katanya, setiap orang tidak boleh merasa nyaman. Iya kan? Setuju kan? Nah.. itulah kenapa kita boleh memilih mabok, supaya mendapat masalah baru. Misalnya, menemukan cara supaya orang rumah nggak tau kalo kita mabok, orang kantor nggak sadar bahwa salah satu karyawannya ada yang berusaha keras mengurangi hangover sambil pura-pura konsentrasi kerja. Susah kan? Masalah kan? Belum lagi kalo liat tagihan semalem karena ternyata tanpa sadar udah buka beberapa botol. Waaakkkkss
  4. Karena bisa ngelaba. Qiqiqi.. Nah, kalo tujuannya mabok demi ngelaba, tipsnya adalah: jangan sampe ketinggian maboknya. You may get high, but still have to be on earth. Jadi nggak salah ngelaba. Heee
  5. Karena kamu bebas menabrak mobil lain. Hahaha… peace! Peace buat my beloved AYA, ANGGIN, DONNY, MONANG, FREY, dan WIWIT!!
← cuti bersama? cuih!!
5 benefits of being gay →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. ehm…. manusia selalu melawan rasa bersalah dengan pembelaan n pembenaran diri. pledoi n pledoi…. aya-aya wae…. 🙂

  2. boleh mabok kl terpaksa… (cihuy…!)
    tp jangan suka mabok!
    ntar perutnya njemblink
    kaya aq…
    hihihihihi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →