5 benefits of being gay

Pada suatu hari aku, tante dan seorang teman membahas ciri-ciri hotel yang bisa dipakai short time dan hotel yang tidak (bisa dipakai short time dengan terang-terangan <== begitu kepanjangannya. red)
Kami jadi menceritakan pengalaman dan kesulitan masing-masing sewaktu mencari hotel, misalnya permintaan untuk melihat KTP oleh front officer, bahkan ada yang nekat meminta tamu menunjukan surat nikah.
Wuah… sungguh hotel yang damai dan tampak tertib ya?
Tapi itu kan juga merepotkan kalau ternyata sebenernya kita tidak berniat untuk that kind of short time. Kebayang dong, kalau kita sebenernya beneran mau transit, dan itu kebetulan barengan sama teman lawan jenis. Fiuh…
Lalu nyeletuklah teman yang biasanya tak banyak bicara itu: “Susah ya, kalau berlawanan jenis.”
Hwahahahahaha
Tentu saja pernyataan itu sangat lucu. Dan bergulirlah pembicaraan kita tentang, keuntungan-keuntungan menjadi gay. Tentu saja ini tidak bermaksud mencari pembenaran diri lho. Karena kita juga tidak tahu mana yang benar atau yang salah kan? Peace!

Yak, dan keuntungan itu adalah:

  • Tidak perlu mengalami kesulitan kalau mau check in di hotel. Mau hotel bintang 7 sampe hotel kelas teri tidak akan berpikir kita akan melakukan perbuatan mesum di sana. Paling dikira temen, atau kalau kita beruntung memiliki muka yang mirip, akan dikira kakak adik. So, no need an id card anymore, kan?
  • Akses 24 jam ke kamarnya. Slurp… Aduh! kali ini tanpa pemikiran mesum apapun deh. Tapi pasangan yang sedang berkasih-kasihan adalah pasangan yang selalu ingin berada di dekat kekasihnya to? Kebayang dong, kalau kekasih hati adalah orang yang berlawanan jenis, pasti orang tuanya, kakaknya, adiknya, pembantunya, atau siapapun penghuni rumahnya akan melotot kalau kita masuk ke kamar si pacar dan pake acara nginep. Enak kan kayak circle k? 24-7…
  • Next. You don’t have to be worried about the undesirable pregnancy. Eh, bener ya, gitu istilahnya? Mau pacaran sampe model kayak apa juga, resikonya cuma lecet. Well, i’m talking about the girl stuff ya. Buat para cowok, mestinya kalian butuh pelindung ekstra. Cheers!!
  • Yang berikutnya, ingat buku kondang berjudul Mars and Venus, yang lalu latah menjadi Mars and Venus in Bed, in the Office, dan seterusnya itu? Hmm.. untuk pasangan gay, rasanya ini nggak perlu-perlu amat deh. Kenapa masih pusing dengan perbedaan ini itu? Bukankah salah satu alasan memilih pasangan sejenis adalah karena dia mengerti benar how we want to be treated? Gitu nggak sih? Terus nggak pusing lagi sama urusan dominasi antar gender ;P
  • Yang terakhir (menurut saya), kita bisa sharing lebih banyak hal. Tukeran dasi, jaket, rok, jepit rambut, sepatu, mmm… apa lagi ya?

So? Pasti banyak yang nggak setuju ya?
Once again, ini hanyalah sepetik pembicaraan di hari pertama tahun tikus ini. Terima kasih untuk masukannya ya, CSI…

← 5 alasan "boleh" mabok
cantikan maia atau mulan →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Kalo di kos2-an juga dong. Kalo yg laen Dilarang memasukkan teman wanita di kos2-annya, ini mah lancar2 ajah. Secara Teman Pria boleh masuk. (Berarti buat ibu kos jaman sekarang seharusnya malah teman wanita boleh masuk, lha daripada anak kosnya jadi gay semua..?)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →