cantikan maia atau mulan

Kamulah mahluk Tuhan
Yang tercipta, yang paling seksi
Cuma kamu yang bisa
Membuatku terus menjerit

Ah ah ah
(suara tercekik) ah ah ah
Ah ah ah
(suara orang geli) ih ih ih

Yak, selama di Cilegon kemarin, Vanya terus menerus menyanyikan lagu itu. Thanks God, akhirnya aku punya kesempatan me-recharge semangat dengan bertemu buat hatiku itu. Terus kita jalan ke mal dan sepanjang jalan dia menyanyikan lagu itu. Sampe di mal kita seperti biasa ngobrol dong.

Vanya: Bu, menurut ibu, Maia sama Mulan cantikan mana?
Ibu Dian: Mmmm (mikir beneran) kayaknya Maia deh.
Vanya: Kenapa?
Aduh!!
Ibu Dian: Karena menurut ibu, Maia itu pinter.
Vanya: Kan pertanyaannya cantikan mana, bukan pinteran mana.
Wups!!
Ibu Dian: Jadi gini dhek, menurut ibu, perempuan itu cantiknya baru keliatan kalau dia pinter.
Vanya: Gitu ya?
Ibu Dian: (semangat karena mau mendoktrin anaknya) Jadi, mulai sekarang dhek Va nggak usah takut makan banyak, karena takut gendut. Makan apa aja yang mau dimakan. Yang terpenting adalah belajar, biar pinter.
Vanya: Jadi, orang cantik itu harus pinter?
Ibu Dian: Yup.. Dhek Va mau jadi anak pinter kan?
Vanya: Ya iyalah… masak ibunya pinter anaknya nggak pinter…

J’dak!! Blast!!
Seperti ada sinar dari surga yang menyambar wajahku. Tuhan, terima kasih diingatkan untuk selalu belajar. Karena bahkan, anakku yang baru berumur 6 tahun ini berpikir bahwa aku pintar. Hiks!! Jangan sampai dia kecewa. Semua yang kuinginkan di dunia ini adalah membahagiakannya, membuatnya menjadi anak yang memiliki arti. Membuatnya merasa berharga telah lahir di dunia.

I love you, Vanya kecilku.
May God bless this lil angel

← 5 benefits of being gay
sepatu Vanya →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. suatu hari, Aku, Maia dan Mulai duduk di sebuah kedai kopi. kami bertiga menghisap rokok dalam-dalam. Maia dengan kemeja putih dan pantalon smart elegant. Mulan dengan baju khas nya, dan Aku setengah gaya mulan setengah gaya Maia. Aku memecah keheningan

    Aku : “Apakah menurutmu Anas Urbaningrum akan menjadi presiden masa datang?”

    Maia

  2. suatu hari, Aku, Maia dan Mulai duduk di sebuah kedai kopi. kami bertiga menghisap rokok dalam-dalam. Maia dengan kemeja putih dan pantalon smart elegant. Mulan dengan baju khas nya, dan Aku setengah gaya mulan setengah gaya Maia. Aku memecah keheningan

    Aku : “Apakah menurutmu Anas Urbaningrum akan menjadi presiden masa datang?”

    Maia : “emangnya dia siapa?”

    Mulan “dia kalo nggak salah ketua umum HMI, menurutku sih emang berprospek, anak demokrat dan gosipnya kesayangan jusuf kalla.”

    Maia : “masa sih? tau dari mana lo ?”

    Mulan : “Namanya juga gosip”

    Aku : Baik pemirsa…don’t judge a book by its cover…

  3. Whaaa…
    thanks for the comment Vira
    Pelajaran buat kita nih, kalo isinya bagus, berarti covernya jangan bikin orang berpikir kalo kita jelek.
    Peace!!

  4. Sekali Maia tetap Maia lah yauw……….
    kalau orang sexi, nggak perlu bilang sexi, karena orang yang melihat bisa menilai apakai dia sexi atau tidak.

    Chiao………..bunda ebhin

  5. dasar ya mulan dan maia, masa anas urbaningrum aja gak tau(untung aku gak masuk golongannya maia dan mulan)
    dan untungnya lg aku suka ngenet jd tau deh siapa anas itu dgn pasti kekekek yaah setidaknya begoku itu gak pake banget lah hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →