sex worker is a work

Owh owh owh owh… Judul yang mengundang kontroversi. Ini juga salah satu oleh-oleh saya ICAAP di Bali awal Agustus lalu. Di hari terakhir, ketika akhirnya saya punya waktu untuk jalan-jalan di Asian Pacific Village, yang di hari pertama banyak bagi-bagi souvenir gratis, tapi di hari terakhir itu sudah habis-habisan, ada sebuah demo yang digelar oleh kelompok sex workers baik laki-laki maupun perempuan.

Sebelum saya ceritakan demo itu, saya mundur sehari dulu ya. Hari sebelumnya saya mengikuti symposia yang diadakan oleh ILO. Di dalamnya dibahas tentang pentingnya kita mengajak para pemilik perusahaan, baik kecil maupun besar untuk ikut terlibat dalam upaya pencegahan bertambahbanyaknya penderita HIV. Kenapa? Here is the fact:

  • Banyak pekerja proyek yang tinggal semi permanen di gubuk-gubuk bersamaan dengan pekerja lain, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka jauh dari keluarga mereka. Ini potensial menjadi kolong-kolong tempat bersembunyinya HIV yang segera siap untuk disebarkan.
  • Banyak pekerja mobile (driver, pelaut, nelayan, dsb) yang bertemu istrinya beberapa minggu atau bulan sekali. Kebutuhan seksual mereka, biasanya dipenuhi dari pekerja sex yang mereka temui di sepanjang perjalanan kerja mereka.
  • Menjangkau para pekerja mobile dan pekerja kontrak itu, bukan perkara mudah. Bahkan keluarga mereka sendiri jarang bertemu. Maka cara termudah untuk mendapatkan perhatian dari mereka adalah, dari kepala proyeknya. Hmm… make sense.

Nah, di symposia itu, ada seorang peserta dari Fiji yang agak berapi-api dan bilang: “I’m a sex worker, do you think I don’t understand how to use condoms? You guys know nothing about us, so don’t talk like you’ve been here on my shoes.” Sayangnya dia nggak mau mendengarkan jawaban dari para presenter. Dia langsung keluar dari ruangan begitu selesai ngomong gitu.

Sebenarnya di forum itu, kita nggak judging siapapun kok. Kita juga nggak nuduh sex worker penyebab HIV tersebar. Justru kita mau encourage para pemakai jasa sex worker itu untuk paham akan kesehatan mereka, dan lebih jauh keluarga mereka.

Nah, sekarang kita sampai ke demo yang saya bahas di awal tadi. Demo itu garis besarnya adalah meminta orang untuk mengakui bahwa menjadi pekerja sex adalah sebuah pilihan pekerjaan juga. Kening saya sempat mengerut. Kalau memang sex worker adalah pekerjaan, 90% sex worker yang pernah saya temui selalu bilang kalau mereka terpaksa bekerja seperti ini. Wait wait wait… tapi ini juga terjadi pada tukang becak, kuli angkut pasar, pengamen, pemulung, dan bahkan tukang sedot WC. Mereka semua kalau memiliki pilihan pekerjaan lain, pasti memilih pekerjaan lain.

Nah loe, kening saya jadi mengerut dua kali. Jadi, pada akhirnya sex worker memang juga merupakan pilihan terakhir sebuah pekerjaan. They make money by selling sex to their clients. Jadi gimana nih? PR-nya kembali ke kita semua yang memiliki pilihan pekerjaan lebih baik, kemampuan berpikir lebih panjang, dan tentu saja, yang terhormat: PEMERINTAH!!

Pikirkan dan berikan pekerjaan yang lebih baik untuk rakyatnya, kehidupan yang lebih layak untuk mereka, pendidikan yang lebih baik, otherwise, mereka akan terus turun ke jalan dan menjadi what so called sampah masyarakat, padahal, they’re not at all. Coba pikirkan, mana yang lebih sampah, mereka atau koruptor yang menjual negara ini demi kepentingan perut mereka? Pada pekerja sex itu juga punya keluarga untuk dihidupi, sama seperti orang lain. Kalau mereka tidak bisa melakukan korupsi untuk membuat anak-anak mereka hidup lebih baik, maka ‘jalan mudah’ yang mereka pilih adalah menjual diri, memejamkan mata, membunuh rasa, dan menerima lembaran rupiah yang hanya habis dipakai sekali belanja.

Jadi, bagaimana ini? Setuju dengan teriakan mereka? Bahwa tidak ada pekerja sex yang buruk? Melainkan hanya hukum yang buruk? Dan sepakatkah kita, kalau sex worker juga bisa dikategorikan sebagai pekerjaan? Yang pada akhirnya nanti juga membutuhkan asosiasi pekerja dan sebagainya?

What do you say?

← ICAAP 9 day 2
a journalist can save more life than a doctor →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. wuaduuuhhh…

    Tanpa menyinggung profesi sex worker, Kok aku rada kurang setuju ya dengan sex worker menjadi salah satu kategori pekerjaan.
    Pertama, karena berkiblat pada agama kita jelas zina itu dilarang.
    Kedua, hal itu menjadi ngebuat warga negara kita menjadi menggampangkan atau pasrah perihal masalah mencari pekerjaan. Karena berpikiran ah saya masih punya “modal” kok untuk jadi pekerja seks. Tinggal bertemu kasur dan pelanggan langsung “tancep gas”.
    Ketiga, kalo sex worker menjadi pilihan pekerjaan, nantinya apa kita nggak miris liat anak TK atau SD ketika ditanya gurunya mo bercita-cita menjadi apa, nanti dia jawab mau jadi pekerja seks kayak ibu saya bu.. nah lo..
    (sekali lagi tanpa menyingggung)

  2. Kayanya emang kerjaan deh. Gini lho, kalo gak bisa dihilangkan, buat aturan dengan sangat jelas. Bukan dengan cara “gak boleh, gak boleh” tapi sebagian juga masih jadi pelanggan.
    Buat aturan yang jelas, asosiasi gue setuju karena akan malah mudah melacak segala macam masalah.
    Ini yang gue tau dari industri film porno di AS, mereka punya institusi untuk melindungi kesehatan para bintangnya, mereka punya log (catatan) siapa pernah berhubungan dengan siapa di film apa.
    Sehingga, dulu ketika pernah ada kasus HIV/AIDS,http://en.wikipedia.org/wiki/Darren_James industri itu dihentikan sementara, dan mereka memeriksa semua pemain film porno, untuk kemudian baru bisa industrinya berjalan lagi. Dan mereka juga punya manager yang berhak menolak aktor/aktrisnya berhubungan jika lawan mainnya tidak memiliki catatan kesehatan yang lengkap.
    Nah, ini kan berarti regulasi yang jelas, JELAS dan TEGAS.

  3. Topikmu seram sekali. Tapi yang ‘edgy’ kaya gini justru malah bikin seru 🙂

    Susah ya kalo masalah beginian diliat dari kacamata agama. Nanti kalau begini, mereka yang bekerja di pabrik rokok misalnya pun, juga bisa dianggap pekerjaan yang tidak barokah, karena let’s face it, rokok itu tidak ada manfaat apapun untuk kesehatan. Dan menurut agama, itu juga tidak baik, toh? No hard feeling to all smokers.

    Mau sekuat apa sih hukum sehingga bisa menghilangkan prostitusi? Dari jaman nabi dulu sampai sekarang, prostitusi dan perjudian adalah hal yang tidak mungkin dihilangkan. Hilang mungkin bisa. Tapi hanya sementara. Setelah itu pasti akan muncul lagi.

    Makanya saya kok lebih setuju dengan tujuan awal pertemuan itu diadakan. They don’t come here to judge. But to educate and to communicate something. Itu yang lebih penting dulu karena MENGEDUKASI punya kemungkinan berhasil lebih besar dibandingkan MENGELIMINASI.

  4. @dhek Ryan: saya juga akan sangat pedih kalau sampai anak2 bercita-cita demikian. Mungkin yang dimaksud oleh teman-teman kita itu adalah, bantu mereka memperjuangkan hak-hak dalam ‘bekerja’ ya…

    @Ari: Gara-gara kamu, aku langsung search porn star di google. hehehe… mau belajar lebih banyak

    @Mas Ganteng: hari ini, percayalah, kamu tampak lebih ganteng dari hari-hari sebelumnya. Betul, to communicate and to educate.

  5. Wahhh seru…
    Saya jadi inget salah satu tokoh di novelnya Dewi Lestari, disitu ada seorang perempuan cantik dan luar biasa pintar. She is a sex worker by choice. Krn mnrt dia lebih baik menjadi pelacur badan daripada pelacur pikiran, karena we are all a whore sometimes..kalo gak melacurkan pikiran ya kadang2 juga melacurkan perasaan..hehehe *curhat curcol sbg pekerja*
    jadi sebenernya tergantung orangnya, mereka senang atau enggak menjalankan profesi mereka. Because Hell is the same repetition of suffering…*katanya siapa gitu lupa*

    Seperti kata Mas Ganteng, prostitusi gak gampang hilang karena selama masih ada demand pasti ada supply. Jadi menurut saya, daripada kita menutup mata dan malah dampaknya lebih besar dan kemana-mana.
    Pendekatan harm reduction adalah yang harus dilakukan, salah satunya menerima bahwa sex worker adalah bagian dari masyarakat juga.

    salah duanya, ayo kita sama-sama membuat lapangan pekerjaan biar gak harus ada orang-orang yang terpaksa melakukan suatu pekerjaan yang mereka gak suka. kalo cuman mengandalkan pemerintah, kayaknya bakalan susah dan lama…so lets be part of the solutions.

  6. Nama pekerja sex di novelnya Dee itu adalah Diva.
    Saya juga pelacur. Saya melacurkan diri pada perusahaan bernama negara dan cita-cita orang tua untuk menjadi pegawai negeri.

  7. @kacrut=ketiga: iya, maksudnya kita bergerak dan menggerakkan pemerintah. bagaimanapun penguasa itu memegang peranan penting. itulah kenapa mereka yang pertama kali dimintai tanggung jawabnya di akhirat nanti. halah… jadi ngomongin akhirat.

    @marni: kamu mengingatkan saya pada sodara muda saya di kota banjar, eh… desa banjar ding

    @OJTL: welcome back. a gift ya? uummmm…

  8. Acara simposia yang dilakukan itu udah bener, siapa tau dengan hal itu bisa membuka pikiran mereka ke arah yang lebih baik lagi.
    Tapi kok saya tak pernah setuju yah, dengan berbagai alasan untuk bisa menghasilkan uang dengan cara yang cepat, tak halal semacam itu.
    Memang sih kita hidup membutuhkan uang, tapi kita sebagai manusia, cuma sementara di dunia ini.
    Dan akan ada pertanggungjawaban yang Tuhan minta dari kita selama kita hidup. Apa uang yang didapat sebanding dengan hukuman kekal yang Tuhan berikan kelak.
    Bukan maksud saya untuk mengkotbahi, cuma mau berbagi pendapat saja. Maaf klo ada yang salah.
    Makasih sudah mampir dan komen di blogku yah.

  9. hi dian,
    nice blog. teruskan menulis.
    dian harus tabah menghadapi hidup yang penuh ranjau ini, inilah dugaan illahi.
    di jemput ke askamakalikada.blogspot.com tetapi tak seindah dianpurnomo’s blog.
    sudi kiranya menjadi follower dan linkkan dalam blog dian.
    sekain, bye, take care n be happy.

  10. pekerja seks pada dasarnya adalah penjual jasa, dengan menggunakan tubuh mereka sebagai aset dan alat kerjanya.
    Mungkin dari pandangan agama mereka dalah pendosa. Tapi manusia mana sih yang ga berdosa hingga berani menghakimi?
    Secara sosial, menurut saya transaksi seks murni ngga akan menimbulkan masalah2 sosial dan tidak ada yg dirugikan *selama dilakukan dengan aman dan tdk menularkan PMS*. Masalah sosial baru terjadi jika transaksi seks dipadu dgn alkohol dan narkoba.
    Saya termasuk yang percaya bahwa eksistensi pekerja seks berpotensi menurunkan jumlah kejahatan seksual. Jadi kenapa kita harus mencibir dan mengutuk mereka sementara kita masih bisa bermanis-manis muka dan bahkan kadang tunduk hormat pada koruptor2 kelas kakap yang merugikan negara dan mempunyai andil dalam tingginya kemiskinan dan kelaparan yg terjadi di msyarakat kita?

  11. @Violet: Thanks for coming by and commenting ya.

    @Abu: take care juga

    @Fandhie: Dalem!!! Jadi ingat lagunya tante titik puspa ya? Jangan nge-judge pekerja seksnya aja. Apa kabar para klien mereka?

  12. ah, bu… kalau begitu merampok dan membunuh juga pekerjaan kah? ‘serikat pekerja’ nya mungkin sudah ada tu *teringatgerombolansiberat*

    apapun yang kita lakukan untuk ‘menyambung hidup’ mungkin bisa disebut pekerjaan. tapi kembali pada ideologi yang masing2 kita anut, tentunya… dalam Islam misalnya, halalkah atau haramkah ‘pekerjaan’ itu, mungkin jadi salah satu pertimbangan saat kita menentukan pilihan… CMIIW

  13. assalamualaikum,
    sy juga kurang setuju sex worker jadi sebuah profesi pekerjaan.(mohon maaf), sy pikir itu eksploitasi tubuh belaka untuk mendatangkan sesuatu yg menguntungkan meski memang disatu sisi mereka tidak memiliki keterampilan lain mungkin saja. Tapi sy percaya, mungkin mereka kepepet oleh kbthn sehari-hari juga ya, dan memang nyari kerjaan sulit banget..ah dilema jadinya.
    trims udh berkunjung ke blog ku kang,,,
    mari
    wassalam

  14. Kekasih Sejati yang setia selalu.. DIA rela menunggu walau kita selalu menykiti hatiNYA.. dengan salah dan DOSA.. subhanalllllaaaaah.. DIA MENUNGGUMU.. TANGANNYA SELALU TERULUR MENANTIKAN KITA SEMUA.. YANG MAU KEMBALI KEPADANYA
    SALAM SAYANG

  15. SAHABATKU RAIH FITRAH DIRI menjadi MANUSIA SEUTUHNYA UNTUK MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllll

  16. Genial: karena tugas mereka memang melindungi rakyatnya sayang…

    Nat: bandel yaaaa… 😉

    Neng Rara: aku kok dipanggil akang sih?? 🙁

  17. I don’t know lah mbak… persoalan ini memang sungguh sensitif dan bener – bener dilematis untuk dibahas… Apalagi dari sudut pandang ‘KITA’ yang tidak seperti ‘MEREKA’…

    Just like The Fiji’s said, “You guys know nothing about us”…

    Tapi kalau boleh menyampaikan pendapat… Kita terkadang memang senang sekali BERDALIH. Ya, salah satunya adalah dalih, ‘TIDAK ADA PILIHAN PEKERJAAN LAIN’…

    Padahal kalau kita mau jujur… sesungguhnya ADA BANYAK PILIHAN PEKERJAAN lain…

    Di mata saya… SEX WORKER adalah mereka – mereka yang ingin mendapatkan uang (penghasilan) secara cepat, tapi tidak mau bekerja keras… Just doing sex’s service, and then they got money instantly…

    Saya berani taruhan… Andaikan Pemerintah (kalau boleh berandai – andai) mengumpulkan semua Sex Worker di Negara ini, kemudian memberikan mereka PEKERJAAN untuk mereka lakukan, 80% nya pasti akan kembali menekuni profesi SEX nya lagi…

    Alasannya sederhana… mereka sudah terlena dengan bagaimana MUDAH nya mendapatkan uang + mendapatkan kenikmatan SEX.

    TIDAK ADA PEKERJAAN LAIN adalah dalih yang paling mudah untuk dikedepankan.

    Banyak orang yang rela dari pagi hingga malam berjualan mungkin hanya Nasi Uduk saja untuk bertahan hidup, padahal hasilnya sama sekali tidak memadai… Tapi mereka lebih memilih berjualan Nasi Uduk… Dan ini adalah PILIHAN (meskipun jika ditanya, pasti akan menjawab Karena TIDAK ADA PEKERJAAN LAIN.

    Sekalipun harus bersusah payah dan banting tulang untuk mendapatkan penghasilan ~yang tidak memadai~ (sebut saja; Tukang Becak, Tukang Batu, Tukang Sedot WC, dll…) Tapi mereka lebih memilih HIDUP SECARA MULIA dibandingkan dengan menjual diri mereka…

    Ini hanya pandangan saya Mbak, dan tetap saja saya tidak tahu sedikitpun tentang mereka 🙂
    Tapi saya tetap tidak mutlak menyalahkan mereka mbak yang memilih menjadi SEX WORKER, bagaimanapun ada pihak lain (mungkin juga kita) yang ikut berperan didalamnya…

    Seperti prinsip ekonomi lah… Ada DEMAND pasti akan diiringi SUPPLY.

    Thanks ya Mbak Dian untuk artikel yang luar biasa ini…

  18. Mas Rizal terima kasih untul pembahasan yang dalam. Iya, kita nggak pernah tahu apa yang ada di kepala mereka dan bagaimana kehidupan mereka. Kita cuma memandang dari luar saja.
    Nuwun…

  19. Bicara soal ini memang pro kontra mbak. Kalo saya, berusaha melihatnya dengan netral, bahwa memang benar ada banyak pekerjaan lain yang seharusnya bisa jadi pilihan. Tp kenapa mereka memilih pekerjaan itu, tentu ada excuse sendiri. Dan mereka jg tidak berharap selamanya kerja begitu, masih ada keinginan untuk tobat.

    Betul itu kata mas rizal, supply ada karena ada demand.
    Itu sebabnya sex worker (baca : prostitusi) disebut sebagai profesi tertua di dunia.

  20. Hmmmm bukan dinamakan sama2 pilihan terakhir anatar sex worker dan prt misalnya…..
    semuanya ada koridor hukum dan norma, jadi iya tetep nggak bisa ah bila sex worker di jadikan sebagai orofesi resmi….hiiiiii….Takut kualat…heeheheh

  21. sex worker = pekerja sex.
    pekerja adalah sebutan untuk orang yang melakukan suatu pekerjaan.

    saya agak kurang setuju dengan istilah sex worker.
    entah kenapa, sepertinya hal itu menjadi suatu pekerjaan yang dilegalkan (secara tidak langsung iklim budaya juga berperan, selain regulasi yang tidak memadai?).

    apakah benar pekerjaan itu menjamin kebahagiaan yang sesungguhnya? kalau dikorelasikan dengan materi mungkin iya. bagaimana dengan nurani mereka yang sesungguhnya apakah akan berkata “saya bahagia” ?

    sisi lain,
    kalaupun mereka ditanya seperti Mbak Dian bilang,mereka akan berkata “tidak ada pilihan”.
    Duh Gusti, maafkan mereka, ampuni mereka yang sudah terlalu jauh dariMu.

    semoga para “sex worker” itu bisa segera mendapat pilihan pekerjaan yang jauh lebih baik dari yang sekarang.

    janganlah mereka dijauhi (bukan berarti harus “didekati”). mereka pun punya hak yang sama sebagai manusia, dan sebagai hamba Tuhan mereka pun punya hak untuk kembali ke jalanNya.

    sori mbak banyak omong nih, ini hanya bentuk ekspresi keprihatian saya aja.

    salam kenal ya Mbak Dian 🙂

  22. @Bunglon: terima kasih kunjungannya
    @Zee: iya, profesi yang ada sejak jaman manusia ada
    @Buwel: lho, kuwalat sama siapa? 😉
    @a-chen: sama dengan pemalas yang milih korupsi nggak? 😀
    @Ries: senang dengan komen panjangnya. Salam kenal juga. Aku juga sering merasa berada di tengah-tengah kalau memikirkan saudara-saudara kita yang termarjinalkan. Fiuh… Semoga diberikan yang terbaik.

  23. aku setuju coy 😀

    Kata pekerja seks, dimaksudkan untuk apa? untuk melindungi personnya dengan menyatakan bahwa dia juga bekerja untuk hidup atau untuk melegalkan yang dia kerjakan? saya pikir yang pertama ya.

    Ketika kita akan mencoba untuk mencari solusi masalah yang sangat kompleks, gak ada salahnya kita cari dulu solusi dari bagian yang paling kecil.

    Agar kaki kita tidak kotor saat menginjak tanah, kita nggak perlu menyelimuti seluruh dunia dengan hamparan karpet, cukup lindungi kaki kita dengan sandal.

  24. Dua kata yang bisa saya berikan yaitu “TANPA SYARAT”. Alasan kepepet merupakan alasan umum yang paling sering dilontarkan oleh para sex worker. Pada awalnya sih memang kepepet, tapi lama kelamaan jadi keasyikan juga. Ya bagi yang telah menikah, pasti sudah paham dengan yang namanya nikmat dunia. Sedangkan bagi para sex worker, udahkah nikmat dunia dapat plus uang lagi. Hanya perlu modal wajah cantik en sedikit “keahlian” maka dalam waktu 3 jam ratusan ribu sudah ditangan, enak bener kan???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →