manusia = mahluk sosial

Kemaren saya ngobrol dengan Ade tentang Manusia, yang katanya adalah mahluk Sosial. Dia sangat mendukung pendapat itu. Well, saya juga pernah mendapatkan pelajaran yang sama jaman SD dulu. Manusia selalu membutuhkan manusia lain. Kemarin saya hampir membantah. Saya pernah mendengar cerita dari mbak Hanny, tentang seorang nenek yang ditemuinya di New Zealand, yang hidup seorang diri, dan dia baik-baik saja. Kita juga pernah nonton film-nya om Kevin Costner yang sendirian menjelajahi lautan Bumi di Water World dan film-nya mbak Jodie Foster yang judulnya Nell kalau nggak salah. And not to forget, film Into the Wild yang menceritakan tentang petualangan mas Chris McCandless untuk menemukan kediriannya, tanpa orang lain.

Semua tokoh di film itu bisa hidup sendiri. Semuanya. Sampaiiiiiiii….

Sampai tibalah saatnya mereka menemukan bahwa di dunia ini ada sesuatu yang lain yang bisa diraih, selain hanya mengenyangkan perut saja, atau mencapai tujuan fisik saja.  Apakah itu? Mari saya mencoba sok-sok menganalisa:

  • Ingin bahagia,
  • Ingin alam yang tentram dan damai,
  • Ingin menguasai sesuatu,
  • Ingin merubah dunia kecil kita menjadi tempat yang lebih baik,
  • Ingin diakui keberadaannya,
  • Ingin merasakan kasih, dan masih banyak lagi tentunya

Weleh… kok memberat ya topik bahasan tentang mahluk sosial ini? Tapi memang benar kan? Kevin Costner baik-baik saja sebelumnya. Hidup sendirian tanpa membutuhkan orang lain, sampai di titik ketika dia akan memenangkan anak yang punya tattoo map pulau hijau itu, tidak bisa berperang sendiri, dia butuh bantuan orang lain. Atau mas Chris yang bisa makan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sendirian saja. Sampai akhirnya dia menjelang ajal, dan di sanalah dia justru menemukan, bahwa kebahagiaan, tidak ada artinya kalau hanya dirasakan sendirian saja.

Sebenarnya, kenapa sih kita membutuhkan orang lain? Bukankah kita lahir di dunia ini sendiri saja? Lalu ketika harus dikubur atau dikremasi nanti juga, kita nggak akan ngajak orang lain? So, why do we need others? Kalau saya bisa tanya sama nabi Adam, saya mau tanya ke dia, kenapa dia dulu iseng banget membutuhkan Eva atau Hawa. Padahal dia kan asik-asik aja di surga sendirian ya? Eh, atau enggak? Saya nggak tahu.

Tapi setelah mendengar pernyataan Ade bahwa manusia itu mahluk sosial, saya jadi mencari penguatan dari pernyataan tersebut belakangan ini.  Seperti misalnya, bahwa di muka bumi ini, ada dua dasar pengambilan keputusan. Pertama didasari oleh keputusan individual dan didasari oleh keputusan kolektif. Halah!! Saya semakin ngawur. Tapi itu benar.

Saya belakangan ini banyak melakukan hal-hal yang saya putuskan berdasarkan pemikiran individual. Tapi saya rasa saya tidak bisa selamanya seperti itu. Pada akhirnya saya membutuhkan orang untuk menuntun saya kalau saya melenceng, saya membutuhkan orang yang membantu saya membaca arah, kalau saya tidak bisa lagi membedakan barat dan timur. Saya juga butuh diakui kalau saya bisa membuat orang terlelap dengan dongeng saya, saya butuh diakui kalau tangan saya healing, saya butuh didengarkan, saya butuh dicintai sebagai tanda kalau saya tidak sedang bermain solitaire dengan diri sendiri. Saya butuh itu semua, ternyata.

Makanya, sebelum terlambat, saya mau mengamini beberapa quote dari film Into the Wild. Sekaligus menguatkan perbincangan semalam, bahwa manusia adalah mahluk sosial.

  • I’m going to paraphrase Thoreau here… rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me truth.
  • What if I were smiling and running into your arms? Would you see then what I see now?
  • When you want something in life, you just gotta reach out and grab it

Dan ini dia, juara dari quote-quote dalam film into the Wild.

Happiness only real when shared

Tulisan ini saya buat berjam-jam lamanya, diantara isi kepala saya yang bawaannya meloncat-loncat terus sepuluh hari terakhir ini, untuk Ade dan mas Rahadian, dan gambar di atas saya ambil di sini

← Dua Sisi Bintang
hari ini →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. pastilah setiap manusia membutuhkan orang lain. karena manusia perlu apresiasi dengan orang lain. dan perlu dukungan dari orang2 dekatnya. Mungkinkah kebahagian itu akan datang dengan hidup sendiri. Aku ga yakin .tapi bisa aja seeh terjadi ya seperti di film gitulah

  2. @cat-kec: terima kasih

    @others: hahaha.. berkat jasa paman gugel

    @rumseh: film2 itu pada akhirnya justru semakin menguatkan kok, kalau manusia nggak bisa hidup sendiri 😉

  3. memang mba manusia adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup individual.. tp biasanya manusia lebih mementingkan egonya dan merasa tidak membutuhkan orang lain

  4. coba kalau manusia bisa hidup berbagai dan saling membantu satu sama lain dan menghilangkan sikap egois dan individualis,, pasti dunia ini aman tentram dan damai

  5. wah, itu film keren banget…
    Sean Penn director-nya bakal jadi director yang penting di masa depan…
    Awal-awal liat film itu, gue juga merasakan, wah keren banget ya, hidup sendirian di alam gitu..
    ya bertualang, tapi endingnya gak enak ya
    kalo dari biografi-nya sih, bukan biografi, analisa penyebab kematian Christopher Mc Candle ini, gara-gara dia buang peta, jadi gak tau, gak jauh dari sungai tempat dia nyebrang itu sebenernya ada camp dengan bahan makan yang cukup.
    Alhamdulillah, kalo si , istriku kemaren masih ngasi ijin kalo mo jalan-jalan di alam bersama teman-teman, sebuah kemewahan yang ternyata gak semua orang menikah bisa dapatkan.

  6. @tomi: makanya itu mas, emang susah banget ngerem PR individu

    @ari: wah… gak bisa diajak ngomongin film ari emang. panjang urusannya 😉 salam buat made ya

    @cahya: mmm… keliatan kok 🙂

  7. Yeap! We never survive alone… dan itu film Into The Wild, ga rame 😆
    Pakabar buuuu???
    Woooowww… its been a while!!!
    Aku sudah malas menulis dalam bahasa inggris, so feel free to catch me on my indonesian blog 😉
    IIHhhhh irinyaa… bukunya banyak banget!!!
    Sukses ya dearrrrr :*

  8. bahkan sekalipun kita tak pernah berhubungan dengan orang lain, secara tidak langsung manusia tetap butuh manusia lainnya. Siapa yang membuat pakaian? orang kan? Siapa yang membuat sepatu? kompor? listrik? Orang juga kan? 😛

    kecuali kalo memang sanggup tinggal di alam bebas yang liar tanpa interferensi satu orang pun secara langsung maupun tidak langsung 😛

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →

Lucky Bastard #5 Residensi Penulis Indonesia 2019

Tahun lalu saya memulai seri tulisan lucky bastard karena merasa down tidak lolos seleksi Residensi Penulis Indonesia 2018. Tapi kemudian seri ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali bersyukur atas banyaknya berkah yang saya dapatkan. Tentu saja saya sedih waktu itu karena setelah empat tahun tidak menerbitkan karya, ada rasa...

Read More →

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →