blackberry >< kaya

Beberapa saat belakangan ini, hidup saya terusik karena BB. Ah… lebai. Jadi begini ceritanya
*musik menegangkan*

Bulan lalu saya merasa sangat aneh melihat tayangan mengenai antrian doskin BB yang sampai membuat banyak orang pingsan dan terjadi keributan. Waktu itu saya pikir BB yang ditawarkan itu harganya menjadi semacam 300 ribu, sampai antriannya seperti itu. Oh.. tentu saja saya salah, karena rupanya, harga BB yang diantri ribuan orang itu masih 2,5 juta. Itu sangat mahal untuk saya.
Saya adalah tipe orang yang membeli HP dan gadget lainnya kalau mereka sudah tidak bisa dipakai lagi. HP terakhir saya sudah ganti baterai beberapa kali, sampai saya sadar bahwa harga batereinya sudah semahal harga jual HP itu sendiri. Saya tidak memakai BB, sehingga kalau ada yang bertanya PIN, saya berikan nomer PIN salah satu ATM saya, yang tidak ada saldonya 🙂

Setelah heboh antrian BB itu, anak saya yang berusia 10 tahun mencoba menawar ajakan liburan saya.
Vanya: Ibu, boleh nggak, uang untuk liburan ke Bandungnya dibeliin BB aja? Teman-temanku udah pada pake BB lho, dan aku juga pengen.
Saya : Wah, maaf anakku, kamu terlambat. Hotel dan mobil sudah dipesan, dan ibu tidak bisa menarik kembali uangnya. Selain itu, menurut ibu, kamu baru boleh punya HP sendiri waktu sudah masuk SMP nanti, (dan itupun bukan BB) tambah saya dalam hati.
Vanya: Oooo… baiklah.

Lalu saya menghela nafas, dan teringat beberapa saat yang lalu ada salah seorang kenalan menelpon.
Dia: Hei, maaf.. ini Dian siapa ya?
Saya: *plak* Oh.. saya Dian. Dian Purnomo. Yang penulis yang hampir terkenal itu lho.
Dia: Ahhhh.. mbak Dian. Maaf mbak, aku lagi ngapusin nomer-nomer nggak dikenal.
Saya: *plak lagi* Ah… kalau kamu hapus nomer saya, nanti kamu nyesel lho, saya bakalan terkenal sebentar lagi. Jadi, jangan dihapus ya..
Dia: Hahaha… bagi PIN dong mbak.
Saya: Saya nggak pake BB say..
Dia: Ih… kaya!
Saya: *plak plak plak plak*

Saya jadi merasa berada di waktu dan tempat yang salah. HP saya harganya 800 ribu, dengan pembayaran yang saya cicil dengan bunga 0% selama 6 bulan, sementara BB termurah waktu itu 3 jutaan. Kok saya yang dituduh kaya sih?

Tapi kemudian saya jadi berpikir seperti ini:

  • Kalau saya dituduh kaya karena menggunakan lebih banyak pulsa untuk SMS-an dan telpon. Itu tidak benar. Sebagian besar kantor yang bayarin.
  • Kalau saya dituduh kaya karena beli HP 800 ribuan, itu semakin jauh dari fakta.
  • Kalau saya dituduh kaya karena untuk membuka internet saya harus ke warnet atau fasilitas berinternet lain, itu juga tidak benar. Karena HP saya bisa buka email, facebook dan twitter … FYI
  • Tapi kalau saya dituduh kaya karena saya punya banyak waktu untuk berbicara langsung dengan orang lain tanpa terganggu atau mengganggu mereka dengan suara centrang-centring-centrang-centring dan berkali-kali menengok ke BB, itu benar.

Jadi… saya sangat kaya raya rasanya sekarang 🙂 walaupun nggak punya PIN 😛

gambar saya dapat dari sini ya

← condom is your best friend
Sarasvati (1) →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

  1. biasalah mba, d negri ini kita lebih bangga akan produknya, bukan kemampuannya/kegunaannya.

    banyak yg pegang bb cuma dipake bbman, poto2 n share d fb. guna laennya ngga dimanfaatin, bahkan mgkn krn ga tau

    saya juga sama, ga akan ganti hape kalo ga mokat. satu nokia saya aja yg seri low-end yg ada senternya. haha~ pake bb jga yg paling murah, krn mnrt sy gunanya sama aja ama bb yg mahal2 itu.

    dan pake bb or ngga, ga akan membuat saya (kelihatan) kaya or kere 😀

  2. hahaa..harus diakui pengguna bb memang jadi sedikit lebih ‘sesuatu’
    pengakuan teman pengguna bb: dulu aku bercinta sama isteri 2-3kali dalam seminggu, setelah pegang bb udah sebulan ndak ngeseks…
    hahahaha….untung aku ra duwe bb..!! lha wong aku masih menggebu2 je..hahahaa

  3. Haha..
    kalau dulu BB dibilang barang mahal, sekarang enggak lagi.
    lha paket bb nya aja bisa harian… jadi klo ada pulsa ya hari ini register, lusa belom tentu, tp bisa gaya dgn BB.

  4. yang penting dianggp kaya Mbak, bersyukur… walau gak punya BB. yang penting masih bisa berinteraksi normal dengan orang lain, gak masalah ada BB atau tidak. Lagian BB ngetrend cuma di negeri ini kali ya habis sekarang pada getol pake hape android atau iphone^^

  5. Jelas2 PIN itu Personal Identification Number, jd kalo dibagi2 jd Public Identification Number dong?? Oleh karenanya saya memilih konsisten mempertahankan makna yang lama. So, no BB no problem juga tuh

  6. heehehhe ngegemesin deh, but BB tuh buat aku sangat mengganggu krn calng cling nya heehee apalagi ikut group heheheh tp tetep aja pake soalnya.. udah kadung beli “trend ” kemaren heehee
    korban trend niiiiiiiii

  7. wahhh…
    terima kasih teman-teman yang sudah komen, jadi… semakin semangat bertahan nggak pake BB nih
    *emang nggak pernah niat beli padahal*

  8. mbaa diaaaan bagi PIN dong?haha PIN atm maksudnya
    tenang mba ga sendirian, aku juga ga punya PIN BB kok, PIN atm apalagi, hehe
    lagian lebih keren hape android, aplikasinya banyak dan bejibun daripada BB yang bisanya cuma bbman dan habisin pulsa internet banyak perbulan. Ih kaya banget deh!hehe

  9. Hi Mba Dian,
    Setuju banget dengan tulisan ini.. 🙂
    Entah berapa org teman yg menanyakan PIN, seolah yakin saya menggunakan BB. Dan paling ‘males’ sama org yg menjadikan BB sebagai lambang kemapanan.
    Saya selalu bangga dengan hape android saya. Dan ketika bbrp wkt lalu ada kesempatan utk membeli gadget baru, saya kembali TIDAK memilih BB.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

44 Years of Practice

Lima tahun lalu saya dapat quote keren banget tentang usia 40, seperti ini: Gambar dari darlingquote.com Lalu tahun-tahun itu berlalu dan saya lupa apa yang jadi resolusi saya di ualng tahun saya ke-40 itu. Saya hanya ingat mengirimkan surat pada 40 orang yang pernah dan masih menggoreskan makna pada hidup...

Read More →

The Class of 94 and Beyond

Ilusi bahwa saya adalah Supergirl, Harley Quin, Black Widow, Queen of Wakanda patah sudah. Tanggal 25 Juni menerima hasil antigen positif. Tidak disarankan PCR sama dokter karena dia melihat riwayat orang rumah yang pada positif, “Save your money, stay at home, have fun, order as many foods as you like,...

Read More →

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →