Jordan Trip

Oh, I must have been so busy and SO lazy at the same time. Kapan perginya, kapan ditulisnya coba! Tapi pasti selalu ada suara hati yang menyeru, better late.. than not late! πŸ˜‰ Jadi baiklah, saya menuliskannya walaupun ini sudah jauh terlambat.

I’m a lucky bastard, let me start with the compliment to universe, in my own language. Saya sangat beruntung dalam banyak hal. Saya sering kali mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang di dalamnya terdapat klausul yang mengharuskan saya bepergian, secara gratis, dibayarin kantor atau organisasi entah apa, diberi uang saku, dan mempertanggungjawabkannya dalam bentuk tertentu. I don’t mind at all. Dan salah satu assignment itu membawa saya ka Yordania. Oh, saya lebih tidak keberatan lagi.

Di sana, saya dan tim bekerja untuk membuat sebuah video training yang akan digunakan untuk membantu pada calon TKI lebih memahami seperti apa sih calon negara yang akan mereka tempati, cuacanya, orang-orangnya, budayanya, pekerjaannya dan sebagainya. As we all know, bekal dari PJTKI hampir tidak mencakup itu semua.

Maka tibalah saya di Yordania pada sebuah siang yang bersalju di bulan Maret. Aha.. ini juga hampir di luar dugaan bukan? Salju di negara Arab. I must have been so bloody lucky to experience my first snow in Amman. Dan lucunya adalah, karena salju di Amman adalah peristiwa yang terjadi sekitar 4 tahunan sekali, maka di sini mereka merayakannya. Anak-anak diijinkan keluar rumah, siapapun boleh melempar ke arah apapun dengan salju. Akibatnya, saya dan mas Iklash dan mbak Nita berkali-kali harus dilempari salju oleh segerombolan anak muda. Untunglah kita di dalam mobil. Dan pagi harinya, di dekat hotel, saya sempat mencoba iseng melempar-lempar salju yang tidak sengaja mengenai dua orang perempuan. Mereka pikir itu adalah undangan perang, lalu begitu saja kami terlibat snow war sambil tertawa-tawa cekikikan as if, we’ve known before. What a world.. Seandainya semua orang bisa se-peaceful ini ya?

Amman adalah kota yang aman. Menyenangkan, kecuali begitu sampai di bagian bill. Mahal. Sudah gitu, saya yang bahkan sudah mengantisipasi dengan membaca blog dan trip advisory tentang Amman, masih harus mengalami kekecewaan. Taksi yang ditagih lebih mahal dari argo, partner lokal yang mencharge lebih mahal dari harga yang sudah kami sepakati, bahkan sampai pada operator kuda ketika kita berpiknik ke Petra-pun, mencharge kami lebih mahal dari seharusnya. Hal-hal yang di atas kertas ditulis sebagai fasilitas, ketika di lapangan menjadi lahan komersial. Belum lagi tidak terhitung kekesalan saya setiap kali sampai di bagian tipping. Bisa-bisanya mereka menawar ketika kita memberi tips. “Please Mam, only 2 – 3 JD? I’ve been so kind to you. Is this all you got for me?” Tuhan.. tolong! 1 JD itu setara 12,500 rupiah dalam mata uang kami Pak. Jadi kalau saya kasih Kamu3 JD itu, artinya saya udah ngasih hampir 40 ribu. Di negara saya sendiri saja, tipping untuk taksi paling cuma 10 ribu, max.

Tapi ketika bergabung dengan teman-teman yang asli dari Amman, saya baru tahu. Kebanyakan orang yang bergerak di industri yang berhubungan dengan orang asing, merasa bahwa mereka bisa memeras kami, karena tidak banyak industri yang bisa berjalan di Jordan. Mereka tidak punya minyak, mereka tidak punya kebun. Semua harus impor, bahkan untuk pisang sekalipun. #Thank God I live in Indonesia. Makanya mereka begitu lihat orang asing, bawaannya mau ngerampok aja. That’s what my friend, Madhu said.

Sebenarnya Jordan adalah negara yang cantik, tidak seterik di Saudi Arabia katanya, I’ve never been there anyway, dan mereka punya bonus musim dingin yang kadang membawa salju. Saya juga sudah diperingatkan tentang salju ini. Katanya, kalau kita tidak terbiasa dengan suhu rendah, mimisan dan kedinginan adalah resikonya. Saya selama 12 hari di Jordan, mimisan 4 kali aja gituh. Dan saya ditertawakan habis-habisan sama teman saya Madhu, dia bilang. Orang Jordan mimisan karena kepanasan, and we’re dying for winter. Kamu di sini winter malah mimisan. Katrok. Mungkin gitu kalau bahasa Indonesianya yah.

Kalau suatu saat berkesempatan ke Jordan, trust me, Jordan is all about Petra and Dead Sea. Well, ada sih beberapa tempat lain, tapi itu yang andalan banget buat mereka. Jadi, pastikan punya uang sekitar 650 ribu untuk masuk Petra. Mmm.. mahal ya? Well, worth to watch lah, kalau udah terlanjur sampai ke sana mah. Lalu Laut mati, yang harga tiketnya sekitar 200 ribu. #jedot-jedotin kepala ke kaca mobil. Tapi, again. Sayang kalau nggak dicoba. Kapan lagi kita bisa mengapung di atas air, sambil baca koran, sambil minum jus jeruk coba?

Ini dia foto-foto Jordan yang berhasil saya ambil dengan segala keterbatasan. Next posting adalah cerita yang menyesakkan tenggorokan tentang perjalanan saya. Prepare for your tears..

Dead Sea permukaan lautnya 400 m dpl, dan setiap tahun terus menyusut. Bayangkan kandungan mineralnya. Pantesan direbutin Israel sama Jordan terus yak..

Foto berkuda itu adalah foto andalan, sebagai Indonesiana Jones yang takut naik kuda. Baru sadar, kuda saya sempet nampang :D.

Petra nun jauh di bawah sana.

Dalam perjalanan ke Petra, di kota bernama Wadi Muda yang artinya lembah Musa,Β  kita bisa menemukan sumber air Musa. I drank the water. Ah.. jadi berasa religius level 4.

The Siq adalah batu tebing yang tinggi itu, dimana dulu orang-orang tinggal diantaranya. I wiped on that. Membayangkan peradaban yang luar biasa tinggi di masa lalu.

Jauh di belakang saya ada sebuah auditorium yang bisa menampung sampai 3 ribu orang. Bisa membayangkan? Mungkin duu dipake buat pertunjukan Gladiator ala Arab ya.. πŸ™

Dan berikutnya adalah foto-foto nampang di kota Amman secara acak:

Β 

← selamat datang tahun naga
sisi lain yordania →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Eto photo” mbak dian yaa .

    Agag ndutt-an yaa ckrg πŸ˜€

    17 okto 2010 saat qt gathering LWI dan launching buku mbak yg DUA SISI BINTANG di jkt , mbak dian msh kuruss bgt πŸ˜€

  2. Bagus banget mba, pemandangannya.. Thx udah share n berbagi cerita di blog yang bisa dilihat siapa aja.
    Love your journey. πŸ™‚

  3. xixixi menyenanglan sekali, tapi bukan jadi tujuan utama mengingat ‘perampokan’ terhadap turis meskipun nantinya orang sana tidak akan percaya saya turis saking bulukannya πŸ˜€
    keep writing n travelling mbak

    salam dari surabaya

  4. @Aleema: hahaha, itu before, sekarang after πŸ™‚

    @Widy: sama-sama Widy..

    @Alin: nah itu dia, bersiaplah untuk mencegah ‘perampokan’ berstruktur di sana πŸ™‚

  5. wuiih mba dian nih slalu jalan2 aja πŸ˜€
    haha.. kalau naik taksi jgn dibandingkann dgn indonesia mba, pasti nyesek di ati πŸ˜€

    ditunggu postingan yg nyesek yaa πŸ˜€

  6. Ahhhhh senangnya nama kami disebut dlm cerita itu….dah kaya novel aja,hahahahhahahahahahha…. Btw byk yg Mba dian blm kunjungin,someday balik sini ya….nanti kita adventure ke wadi rum, dll…… Muah muah dari kami di Amman……

  7. mas Tomi, ayo kapan kita jalan2 bareng?
    mb Junita & mas Ihlas: iya niihhh.. pengen sampai ke Aqaba juga πŸ™‚ Doakan suatu hari sampai ke sana lagi ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayuβ€”satu kabupaten di Jawa Baratβ€”bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →