Selingkuh

Akhirnya saya memutuskan mengakhiri selingkuh setelah bermalam-malam mengalami kesulitan tidur dan produktivitas terganggu karenanya.

Yang di atas itu adalah headline untuk mendapatkan traffic tinggi bagi website para artis atau politisi. Kalau saya, berita sesungguhnya adalah: Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Selingkuh yang ditulis oleh Paolo Coelho setelah bermalam-malam lembur membacanya. Saya sangat menyarankan Anda yang sudah mulai merasa perkawinan membosankan untuk membaca novel ini. Sangat inspiratif.

Tokoh perempuan dalam novel ini adalah perempuan paling beruntung di dunia yang memiliki karir bagus, suami baik, materi lebih dari cukup, anak-anak yang sehat, dan mereka tinggal di kota teraman di dunia, Genewa. Sempurna. Tetapi ketika ditanya, apakah dia berbahagia. Maka seluruh hidupnya kacau balau. Tidak ada lagi api dalam hidupnya. Semua baik-baik saja tapi dia juga tidak bahagia.

Saya sempat berhenti membaca di bab itu dan mencoba bercermin, menanyakan hal yang sama. Apakah saya bahagia saat ini? Secara umum saya bahagia. Saya mendapatkan lebih dari yang saya pernah minta ke Sang Dalang. Jadi kalau saya nggak bahagia, alangkah nggak tahu terima kasihnya saya. Maka saya kembali ke novel itu lagi.

Sang tokoh singkatnya menemukan pembenaran untuk berselingkuh agar api di dalam hidupnya menyala kembali. Dan ternyata benar. Meskipun perselingkuhan yang selalu diingkarinya itu membawanya ke api yang lebih besar, tetapi ya dia lebih berbahagia. Sedikit. Pasangan selingkuhnya tidak seperti yang dia inginkan, tapi setidaknya itu menjawab pertanyaan-pertanyaan masa muda yang pernah dimilikinya.

Saya tidak suka spoiler jadi saya tidak akan menceritakan bagaimana Paulo Coelho memutuskan mengakhiri ceritanya. Apakah perselingkuhan mereka terbongkar? Temukan sendiri jawabannya di akhir cerita. Buat saya, mengakhiri membaca Selingkuh membuat saya harus menarik napas panjang dan berkali-kali. Kemudian berpikir keras.

Jika saya berada di kursi perempuan itu, apakah saya akan melakukan hal yang sama? Apakah saya akan merelakan diri menjadi pemuas nafsu dari laki-laki yang tidak mendapatkan kepuasan dari istrinya? Apakah api saya akan terus berkobar ketika laki-laki yang kita bayangkan tidak sesuai dengan gambaran?

Lalu berpindah ke perkawinan. Well, saya kadang iri dengan orang yang memiliki pasangan yang dilegalkan oleh hukum. Tapi saya sering menghibur diri, beberapa atau mungkin banyak dari mereka, juga pasti merasa iri dengan kebebasan saya. Saya tidak perlu berselingkuh untuk menyalakan api yang membuat bahagia. Saya juga tidak perlu merasa bosan dengan pasangan lalu terantuk tembok berjudul surat nikah kemudian harus menghadapi hal yang sama lagi esok pagi.

Kalau ibu saya bilang, “Kamu hanya belum menemukan yang pas.”

Kalau sahabat saya Ditto bilang, “Pernikahan itu baik mbok Wo, tapi bukan buat kita.”

Lalu saya di sini, mencoba kembali bertanya. Apakah saya bahagia?

← Lucky Number Two
Simposium Lingkungan Ramah Demensia →

Author:

Dian adalah penulis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dan 8 novel serta kumpulan cerita lainnya. Peraih grant Residensi Penulis Indonesia 2019 dan She Creates Change Green Camp 2020 ini lahir tahun 1976, belajar komunikasi di Universitas Diponegoro dan STIK Semarang, lalu lanjut belajar perlindungan anak di Kriminologi UI. Dia adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan beberapa anak lain. Saat ini Dian menghabiskan banyak waktunya menjadi penulis lepas dan konsultan untuk isu perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Domba New Zealand dan Pahlawan Perubahan Iklim

Pada suatu hari di bulan November 2016 bersama teman-teman dari tim Alzheimer Indonesia kami mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Wellington, New Zealand. Kok baru ditulis sekarang? Huft.. Seandainya kemalasan ada obatnya, saya antri beli dari sekarang. Ada banyak hal yang membuat orang mudah sekali jatuh hati pada Wellington, udaranya...

Read More →

Perjalanan ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’ Menemukan Jodohnya

Jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Tuhan, katanya. Tapi kalau kita berharap Tuhan turun tangan untuk dua item pertama, nyesel sendiri lho ntar. Antriannya panjang, Sis. Ada tujuh milyar orang di muka bumi ini. Cover Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Maka saya menjemput paksa jodoh tulisan saya pada...

Read More →

Defrag Pikiran dan Keinginan

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini, meskipun ada banyak juga yang kita harapkan seharusnya terjadi, tetapi belum kejadian. 2020 adalah tahun yang ajaib. Lulusan tahun ini sempat dibully sebagai lulusan pandemi. Yang keterima sekolah/kuliah di tempat yang diinginkan tidak segirang tahun sebelumnya, yang wisuda tahun ini apa...

Read More →

Didi Kempot, Sugeng Tindak Ma Lord

Hari ini status itu yang saya pasang di media sosial saya dengan foto Didi Kempot hitam putih dengan tulisan the Godfather of Broken Heart. Patahnya hati saya mungkin nggak sepatah teman-teman sadboys dan sadgirls lainnya. Saya tidak mengenal secara personal mas Didi, hanya pernah papasan di sebuah mal di Solo...

Read More →

Dipaksa Bertapa sama Corona

Beberapa hari dipaksa tinggal di rumah ini membuat dunia kita jadi seluas yang ada di genggaman tangan, ya? Yang menurut saya bahkan lebih luas dari dunia yang bisa kita lihat sebelumnya. Semua hal yang tadinya seperti sangat mendesak dan nggak bisa nggak dilakukan, tiba-tiba jadi harus bisa terlaksana. Semua acara...

Read More →

Bajuku Identitasku

Beberapa hari belakangan ini mengikuti beberapa trending topic di Twitter saya jadi kambuh eksimnya. Gatal tak berkesudahan. Pertama adalah karena postingan koko ini: Twit Felix Siauw di Twitter tanggal 22 Jan 2020 Duh koh, 2020 lho kok masih bahas kecantikan dan kerudung aja sih. Belum habis juga stok jualan baju...

Read More →

Jatuh Cinta, Marapu dan Diskusi tentang Tuhan Baru

Perubahan jadwal keberangkatan Residensi Penulis Indonesia 2019 sudah diatur Tuhan sedemikian rupa, menjadi menguntungkan bagi saya. Sebulan lebih tinggal di Sumba Barat, saya jadi dapat mengikuti salah satu ritual terpenting di kehidupan Marapu di Kampung Tarung dan Weetabara di Loli – Sumba Barat, NTT. Wulla Poddu. Wulla Poddu jika diterjemahkan...

Read More →