Laskar Pelangi II

It was Sunday, 26th of October 2008. We’re so worried that the street children wouldn’t come on time. But, here we go, 9 am and they were all there, at E Plaza. 100 street children who usually standing under the traffic light, singing songs they don’t really understand, caring the younger on their back and begging for money. Huufff…


I remember one day, I made a dream book. I put pictures of very happy children singing with red uniform. Their smile, those big grin, are brighten up the world. And by the next page, I put other pictures, street children reading on a library. They wear no uniform, just dirty clothes.
And I keep those pictures in my mind, that one day I’ll do something for them. I want to move those unhappy and poor children onto the next stage. Become happy, healthy and smart children. Singing their song, dare to dream and prove it. I don’t know how yet, but I will.

So this is one of my dream come true. I was there on that cloudy Sunday, watching Laskar Pelangi movie with those 100 street children, hoping that Andrea Hirata’s true story will inspire them not to give up, to live for giving as much as they can, and not just receiving what other gave them.


And I believe that this isn’t my only dream. Many people would help and just don’t know how.
Thank God I have lot of friends, partner and colleagues who share the same feeling and willing. So that we can make our dream become reality. Thanks to all FeMale crew, sponsors: Loggo who gave the children shoes, Bank Agro, XL, Wacoal, Ayam Bakar Kendil, Yudi of loenpia.net for photographing, Setara for managing the childrean, the press: Suara Merdeka, Sindo, Wawasan, Cempaka, Bisnis Indonesia, Radar, Kompas.


Now, what’s the next dream?

← Ubud Writers & Readers Festival
mother →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. mb diyan kita lanjutkan perjalanan panjang ini hehhee… setelah PIF ada mimpi yg msh tersimpan,…
    semangaaat mb….*_*

  2. Semoga Allah memberkahi kita semua….dengan Kasih Sayang Nya untuk tidak sesaatpun berpaling dariNya

  3. We’re glad to be a part of this Great action.
    semoga, mimpi kita bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, segera terwujud.

    Tidak ada lagi anak-anak yang musti ngamen di jalan;
    Tidak ada lagi anak-anak yang tidak diperhatikan pendidikannya.
    Tidak ada lagi anak-anak yang terlupakan gizinya.
    Tidak ada lagi anak-anak yang kehilangan masa kanak-kanak yang penuh keceriaan.

    [kenangan untuk ‘anak – anak dampinganku di Ngablak Baru – Muktiharjo’ : Kakak bangga bisa ada diantara kalian. Teruskan perjuangan kalian untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
    Kakak akan merindukan masa – masa saat kita belajar bersama, bernyanyi bersama, bermain bersama.
    Kakak yakin, satu diantara kalian akan jadi yang terhebat]

  4. berbahagialah orang-orang yang punya mimpi dan mampu merealisasikannya. akuk mau dong diajak mimpi bareng dan merealisasikannya bareng. sendirian kok kayaknya bakal melelahkan ya….

  5. asek asek asek…
    banyak yang mau diajakin mimpi bareng-bareng \:D/
    next:
    – tanam seribu pohon
    – memeliharanya
    – sekolah di luar negeri
    – bikin buku yang inspiring
    – bikin dunia lebih positif
    whaaaa….
    banyak ya!!!

  6. hey… great… damn great!! for certain point of view… seems that we both have the same dream….

    being happy by making other people happy…. having the smile of those who are so unlucky….

    what a nice journey you have… and what a great movie to be shared….

    🙂

  7. Yan, 4 wish list lo yg di atas kalo terlaksana pastinya mewujudkan wish no 5.
    AMin…Amin…Amin..
    Oh ya gw ada wish 1 lagi yg penting buat elo.
    Jgn disebut di sini ah…
    Hahaha…
    Just be inspiring, its more than enuff..

  8. mmmm…
    kalo dah maunya nyenengin dan berbagi sama oranglaen
    takutnya lama kelamaan
    kamu jadi ndak butuh ‘disenengin’ oranglaen
    hehehehe..
    mungkin ndak sih?

  9. Semangat…bu!!!
    Ini awal buat kita untuk memberikan yang lebih banyak. Hehehehe….
    Kayanya bakal banyak acara niy kita…
    Yah “Tuhan selalu menjadikan segala sesuatunya indah pada waktunya…”
    Moga2 gak lupa ama semarang n sibuk ama tugas baru hahahaha

  10. Jangan salah…
    Programnya masih terus berjalan.
    Katanya pengen tangan di atas terus…
    Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.
    (Pak Harfan)

  11. hari yang tak kan kulupa, dimana aku dan suamiku menyaksikan film itu…dgn tambahan scene a wonderful gymnastic boy di dpn kami (kyknya br 4-5 th)….dan kami malah jd bahas dia…kl g salah dia bilang namanya andre…kl kamu bs bantu mskin dia ke club wushu, insya Allah dia adalh peraih emas olimpiade someday…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →