Arisan FeMale Flowery Party

It was Thursday, 23th of July 2009. Caesar cafe, 4 pm onward. I was with more than 100 gorgeous women from all over Jogja. They’re all well dressed in flowery motion. Red, blue, green, yellow, black, white… so colorful, so flowery.

Look at those pretty women. Aren’t they beautiful?

They spent the whole evening with FeMale Radio Jogja crew. Doing the salsa with Mr. Jerry, singing some accoustic songs with mas Paksi and friends of Jasmine, playing some games with Icha and Felix.

We also talked about the girl stuff. Munching snacks day to day, can’t stop diggesting food in our mouth and all that. The good news is… We can still do the munching and diggesting thing without scared of being fat, girls…  Just grab a stick of Soyjoy and diggest it anytime. Yumm…

Who’s going to join on our next event??

← don't let them terrorize us
Sang Burung Merak Tlah Pulang →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. yo wis…komenlah….:D

    pengen liat dian menari salsa?? wekekekek….

    senam di lingkungan RT aja kaku…:D

    piss coy..

  2. mbak, caesar cafe itu di mana ya…
    perkembangan kota ini kok demikian pesat aja.. dulu taunya (belasan taun lalu) crazy horse aja..

  3. pengen ikutans…tapi gak bisa…hiks..
    mb, link mu tak templekke nang blog ku yow..ben gampang neh meh moco..hehehhe 🙂

  4. siap mas bram… maaf lupa nulis

    celoteh, salam kenal juga

    yessi… kapan dong???

    guskar, di amplaz sayang… crazy horse? hahahaha

  5. din, nesok lagi kalo kamu ke caesar, Guskar diajak lho hehehe
    ngesakke kui, crazy horse gitu…itu tempat dugem paling sip di jogja tahum 90-an. piss, ya Gus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →