healthy local food festival the report

Alhamdulillah, puji Tuhan, akhrinya berjalan juga Healthy Local Food Festival di Jogja. Nggak percaya bahwa akhirnya panitia bisa sampai di tahap foto-foto akhir ๐Ÿ˜‰

Peserta kurang lebih 1000 orang,ย  dengan 10 stand makanan. Dari mulai tahu kriz-krez, tahu gejrot, es krim ubi ungu, teh poci, wedang uwuh, gebleg, nasi wungu, cendol ganyong, sampai.. entah apa lagi, saya lupa. Semua tumplek bleg di pelataran Radio FeMale Jogja.

Pengisi acaranya? Seru-seru dong mereka, ada murid-murid TK Primagama, TK dan SD Budi Mulia Dua, PAUD Roemah Kita, SMA Budi Mulia, dan SMA Gama. Acara dibuka oleh ibu Wakil Walikota, Tri Kirana. Dilanjutkan dengan penyerahan makanan lokal sehat ke anak-ana.

Terus yang demo makanan, ada mbak Purna dengan mie ubi jalar, mbak Ambar dengan pie ganyong dan cuppycake sukun, juga mbak Syari dengan aneka olahan wedang uwuh. Eh, ternyata wedang uwuh bisa dibuat jadi es campur segala lho… kreatif gilaa..

Over all, thanks to semua orang yang terlibat di kepanitiaan, untuk semua yang datang, thank God for pending the rain from falling. Next event will be on world water day. Be well prepared buddies!!

← healthy local food festival
grebeg air 2010 →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. @chocvan: nanti dikirim makanannya yaaa

    @cahya: iya nih bapak, next time datang ya

    @gema: makasih award-nya. segera saya kerjakan ๐Ÿ˜‰

    @wempi: hehehe… hemat memori bang ๐Ÿ˜‰

  2. @Akin: hehehe… kita mah, nggak pernah berenti mikirin jajanan yak ๐Ÿ˜‰

    @ravi: healty itu: bersih sehat dan berimbang ๐Ÿ˜‰

  3. Mbak usul!! ๐Ÿ˜€
    Tampilkan juga dong makanan lokal khas Indonesia Timur untuk event selanjutnya hehehe

  4. @Hanif: haha… masak yuwk

    @Willy: dalam rangka mengembalikan orang ke dapur dan peduli sama makanan yg masuk ke mulut kita say

    @Agnes: wahhh,,, kamu jagonya tuh say kayaknya ๐Ÿ˜‰

    @DV: matur nuwun kangmas

    @quini: hayuwk, makan makan…

    @anyin: haha… semua pada request makanan yg di-close up ya

    @hariku: makanananya abis duluan sebelum difoto say

    @ambon: siap grak! next time better deh ๐Ÿ˜‰

  5. Ada Jiewa, itu bikinya dari tepung singkong sama air semacam mau bikin pempek gitu. Kenapa namanya gebleg, karena bikinnya digeblek-geblekin ke meja. Gebleg itu representasi suara ‘bleg bleg bleg’ kenceng macam orang lagi mukulin kasur yg lagi dijemur tuh,
    Terus dibentuk lingkaran2 kecil, terus digoreng.
    Nah, dimakan anget-anget dengan tambahan tempe benguk dibacem, yummm…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai โ€˜anak nakalโ€™ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, โ€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!โ€ Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak โ€œIyoooโ€ฆโ€ menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca โ€œini budiโ€ dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →